Home Highlight Token Game Show 2024: Pengembang Game Jepang Ungkap Kekecewaan Terhadap Pembatasan Kreativitas

Token Game Show 2024: Pengembang Game Jepang Ungkap Kekecewaan Terhadap Pembatasan Kreativitas

441
0
Talkshow Pengembang Game di Token Game Show 2024
Talkshow Pengembang Game di Token Game Show 2024

Dalam sebuah wawancara di Token Game Show 2024, pengembang game asal Jepang mengungkapkan kekecewaannya terhadap tekanan yang diberikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang dianggap menghambat kebebasan kreatif mereka. Salah satu isu utama yang disoroti adalah pembatasan tampilan karakter yang dianggap terlalu eksplisit, yang berdampak pada penilaian usia dan pada akhirnya mempengaruhi penjualan.

Keresahan di Balik Rating dan Pembatasan

Kazuhiko Torishima, mantan pemimpin redaksi Weekly Shonen Jump, juga menambahkan suaranya dalam diskusi ini. Ia mengeluhkan bahwa banyak manga diharuskan mendapatkan rating 13 agar bisa dijual di pasar Amerika. Menurutnya, pendekatan ini terlalu sempit dan membuat frustrasi bagi para pengembang yang ingin menghadirkan karya mereka tanpa batasan yang berlebihan. “Kreativitas seharusnya tidak terjebak dalam kategori yang terlalu ketat,” ujarnya.

Baca juga:

Dampak pada Game Populer

Kekhawatiran ini semakin mencuat dengan adanya perubahan pada penyesuaian karakter di beberapa game populer, seperti Dragon Quest dan Baldur’s Gate 3. Dalam game Dragon Quest, opsi karakter kini hanya diberi label samar, seperti “Tipe 1” dan “Tipe 2”, yang sebelumnya jelas dibedakan sebagai pilihan “pria” atau “wanita”. Perubahan ini menunjukkan bagaimana pengembang berusaha menyesuaikan diri dengan kebijakan yang lebih ketat, meskipun hal ini bisa mengurangi keunikan dan kedalaman karakter yang mereka ciptakan.

Perluasan Diskusi tentang Kebebasan Kreatif

Kekecewaan ini bukan hanya masalah bagi pengembang game, tetapi juga bagi para penggemar yang menikmati hasil karya kreatif tersebut. Pembatasan yang berlebihan bisa mengurangi variasi dan inovasi dalam industri, serta membuat pengalaman bermain game menjadi kurang memuaskan. Dalam era di mana media digital semakin mendominasi, penting untuk memastikan bahwa kebebasan kreatif tetap terjaga.

Dengan demikian, perdebatan mengenai batasan dalam industri game dan manga ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh para kreator di seluruh dunia. Kita semua berharap agar kedepannya, para pengembang dapat terus berkarya tanpa dibebani oleh tekanan yang menghambat imajinasi mereka.