Home Lifestyle Stop! Jangan Naksir Teman Meja Sebelah: Ini Alasan Kenapa ‘Cinlok’ Bisa Jadi...

Stop! Jangan Naksir Teman Meja Sebelah: Ini Alasan Kenapa ‘Cinlok’ Bisa Jadi Bencana Karir Paling Ngeri

850
0
Ilustrasi Stop! Jangan Naksir Teman Meja Sebelah: Ini Alasan Kenapa 'Cinlok' Bisa Jadi Bencana Karir Paling Ngeri, Foto: Freepik
Ilustrasi Stop! Jangan Naksir Teman Meja Sebelah: Ini Alasan Kenapa 'Cinlok' Bisa Jadi Bencana Karir Paling Ngeri, Foto: Freepik

Hi Urbie’s! Bayangkan skenario ini: Kamu baru lulus kuliah, semangat 45 meniti karir di perusahaan impian. Di minggu pertama, matamu menangkap sosok di kubikel seberang. Dia cerdas, humoris, dan selalu punya jawaban saat kamu bingung soal spreadsheet. Tiba-tiba, rapat divisi jadi momen yang paling ditunggu.

Vibes-nya terasa seperti drama Korea di dunia nyata. Tapi tunggu dulu. Sebelum kamu membiarkan perasaan itu tumbuh subur, mari kita tarik rem darurat sejenak.

Fenomena “Cinta Lokasi” (Cinlok) di kantor memang setua konsep kantor itu sendiri. Sebuah survei dari SHRM (Society for Human Resource Management) bahkan pernah mencatat bahwa lebih dari sepertiga pekerja pernah terlibat asmara dengan kolega. Wajar, kita menghabiskan 8 jam (atau lebih!) sehari bersama mereka. Kedekatan fisik dan emosional saat mengejar deadline bersama adalah pupuk paling ampuh bagi benih-benih cinta.

Namun, bagi kamu yang berada di rentang usia muda, fase krusial di mana reputasi profesional sedang dibangun dari nol, jatuh cinta pada teman kerja seringkali bukan cerita rom-com yang berakhir bahagia. Ini adalah ladang ranjau profesional.

Kenapa menahan diri untuk tidak jatuh hati pada rekan kerja adalah langkah karir paling strategis yang bisa kamu ambil saat ini? Mari kita bedah realitanya.

Ilusi Kenyamanan vs Realita Profesionalisme

Alasan pertama dan paling mendasar kenapa kamu harus berpikir seribu kali adalah kaburnya batasan (blurring boundaries).

Di usia awal karir, tantangan terbesarmu adalah membuktikan kompetensi. Ketika kamu menjalin hubungan dengan rekan kerja, objektivitasmu akan dipertanyakan. Bukan hanya oleh bos, tapi juga oleh rekan tim yang lain.

Saat ada hubungan romantis, otak kita secara alami bias. Kita cenderung membela pasangan kita, menutupi kesalahannya, atau memberikan keuntungan yang tidak adil dalam kolaborasi tim.

Ketika kamu mulai memprioritaskan perasaan si dia di atas kepentingan tim atau perusahaan, di situlah profesionalismemu mulai terkikis. Dan percayalah, di lingkungan kerja yang kompetitif, orang lain bisa mencium bau ketidakprofesionalan ini dari jarak jauh.

Drama Kantor: Bahan Bakar Gosip Paling Mahal

Mari bicara jujur, kantor adalah ekosistem sosial yang rumit. Menambahkan bumbu romansa di dalamnya sama dengan menyiram bensin ke dalam api.

Jika hubunganmu berjalan lancar, kamu akan menghadapi tuduhan favoritisme (apalagi jika beda level jabatan). Orang akan berasumsi pencapaianmu atau pencapaian pasanganmu adalah hasil dari “koneksi khusus”, bukan kerja keras. Ini menyakitkan, terutama bagi kamu yang sedang berjuang membangun personal branding sebagai pekerja keras.

Baca Juga:

Jika hubungan itu kandas? Selamat datang di neraka dunia kerja.

Putus cinta itu berat. Sekarang bayangkan harus melihat wajah mantanmu setiap hari jam 9 pagi, satu tim proyek, atau harus presentasi di depannya. Emosi yang tidak stabil pasca-putus, sedih, marah, canggung, hampir pasti akan mempengaruhi kinerjamu.

Lebih buruk lagi, drama putus cinta kalian akan menjadi konsumsi publik di pantry kantor. Reputasimu bisa berubah dari “si anak baru yang berprestasi” menjadi “si pembuat drama”. Dan di dunia korporat, label negatif itu lengketnya minta ampun.

Ancaman Nyata Bagi Jenjang Karir

Banyak perusahaan memiliki kebijakan ketat mengenai office romance, terutama antara atasan dan bawahan, untuk menghindari konflik kepentingan dan tuntutan hukum terkait pelecehan seksual di kemudian hari.

Meskipun perusahaanmu tidak melarang secara eksplisit, ‘cinlok’ yang berantakan seringkali berujung pada salah satu pihak harus mengalah. Pertanyaannya: Siapa yang akan resign duluan?

Dalam banyak kasus yang tidak terucapkan, pihak yang posisinya lebih rendah atau masa kerjanya lebih singkat (baca: kamu yang masih entry-level) seringkali menjadi pihak yang terpaksa keluar demi menjaga kedamaian kantor atau karena tidak kuat menahan tekanan sosial.

Mengorbankan pekerjaan yang sudah susah payah didapat demi romansa yang belum tentu berhasil? It’s a bad investment, Bestie.

Logika di Atas Perasaan

Jatuh cinta itu manusiawi. Tapi di usia 20-an, di mana fondasi karir sedang diletakkan, menggunakan logika di atas perasaan saat di kantor adalah keterampilan bertahan hidup.

Dunia di luar kubikel kantor sangat luas. Ada jutaan orang potensial untuk dijadikan pasangan di luar sana yang tidak memiliki akses ke file kerjamu atau satu grup WhatsApp dengan bosmu.

Simpan profesionalismemu di dalam kantor, dan simpan kehidupan cintamu di luarnya. Karir masa depanmu akan berterima kasih atas keputusan cerdas ini.