
Hi Urbies’s! Pernahkah kamu membuka library Steam atau Epic Games di PC-mu, menatap deretan ratusan judul game yang sudah kamu beli saat Summer Sale, tapi ujung-ujungnya malah menutup aplikasi itu kembali? Atau mungkin kamu sudah membeli konsol next-gen impianmu, PS5 atau Xbox Series X, tapi rasanya tidak sebahagia saat kamu memegang stik PS2 yang kabelnya melilit itu?
Jika iya, selamat datang di klub. Kamu tidak sendirian.
Fenomena ini adalah krisis eksistensial bagi para gamer yang kini beranjak dewasa. Kita hidup di era di mana akses terhadap game begitu mudah. Cukup gesek kartu, unduh, dan mainkan. Grafis sudah 4K, ray-tracing aktif, dan loading secepat kilat.
Secara teknis, kita memiliki segalanya. Namun, ada satu hal fatal yang hilang, yaitu Rasa.
Inflasi Kebahagiaan di Era Digital
Mari kita putar waktu ke belakang, sekitar 10 atau 15 tahun lalu. Saat itu, pergi ke Rental PS atau Warnet (Warung Internet) adalah sebuah ritual suci.
Ingatkah kamu bau khas karpet rental PS yang apek bercampur asap rokok abang-abang penjaga? Atau suara riuh teman-temanmu yang berteriak saat bermain Winning Eleven atau GTA San Andreas? Saat itu, kita tidak punya uang. Kita harus menyisihkan uang jajan, menahan lapar di sekolah, hanya demi menyewa satu jam kebahagiaan seharga Rp3.000 perak.
Justru di situlah letak magisnya. Keterbatasan itulah yang menciptakan kenangan.
Karena game susah didapat, kita menghargai setiap detiknya. Saat kaset macet, kita meniupnya atau mengoleskan minyak kayu putih dengan penuh harapan. Saat satu teman berhasil menamatkan level sulit, satu ruangan bersorak seolah kita baru saja memenangkan Piala Dunia.
Game Bisa Dibeli, Teman Mabar Tidak
Masalah utama dari rasa hampa saat bermain game di usia dewasa bukan terletak pada gamenya. Developer game saat ini jenius-jenius. Masalahnya ada pada konteks sosialnya.
Dulu, bermain game adalah aktivitas fisik dan komunal. Kita duduk bersila, bahu bersentuhan, saling menyikut saat kalah, dan tertawa lepas tanpa jeda lag koneksi internet.
Baca Juga:
- Perawatan Rambut Baru untuk Rambut Diwarnai dan Sering Distyling
- Studi Terbaru: Intervensi Nutrisi Dini Bisa Hemat 4 Kali Lipat Biaya Kesehatan Anak
- Epy Kusnandar Meninggal Dunia 3 Desember 2025! Dari Sinetron Ke Layar Lebar, Hingga Warung
Sekarang? Kita bermain di kamar masing-masing yang nyaman, dengan headset mahal kedap suara, terhubung via Discord. Kita berbicara, tapi kita tidak “hadir”. Fitur multiplayer semakin canggih, tapi jarak emosional semakin jauh.
Kita bisa membeli remake dari game masa kecil seperti Resident Evil 4 atau Persona 3. Kita bisa membeli grafis yang memukau mata. Tapi, tidak ada satupun store di dunia ini yang menjual momen saat kamu dan sahabatmu, yang kini mungkin sudah sibuk kerja atau menikah, tertawa bodoh hanya karena karakter game kalian terjatuh ke jurang.
Jebakan “Backlog” dan Kedewasaan
Ironisnya, saat kita sudah punya uang sendiri untuk membeli semua game yang dulu kita impikan, kita kehilangan waktu dan energi. Ini yang disebut fenomena Backlog Blues. Game menumpuk, tapi gairah memudar.
Kita menyadari bahwa yang kita rindukan bukanlah game-nya, melainkan masa di mana beban hidup kita hanyalah PR Matematika yang belum dikerjakan. Kita rindu versi diri kita yang lebih muda, yang bisa bahagia hanya dengan hal-hal sederhana.
Jadi, Apa Solusinya?
Artikel ini bukan untuk membuatmu sedih atau berhenti bermain game. Justru sebaliknya. Sadarilah bahwa rasa hampa itu valid. Berhentilah membandingkan sesi gaming mu sekarang dengan masa lalu.
Cobalah sesekali ajak teman lama untuk bertemu fisik, mainkan game kooperatif di satu sofa (couch co-op), atau sekadar main game retro yang sederhana tanpa memikirkan ranking.
Karena pada akhirnya, game hanyalah sebuah medium. Kenangan indah tidak tersimpan di dalam kaset atau file instalasi, tapi tersimpan di dalam hati orang-orang yang memainkannya.
Game bisa dibeli kapan saja, tapi kenangan harus diciptakan hari ini. Jangan sampai 10 tahun lagi, kamu menyesal karena hari ini kamu hanya sibuk menimbun game tanpa benar-benar menikmatinya.







