Home Highlight Ribuan Orang Sambut Matahari Terbit di Stonehenge pada Winter Solstice, Tradisi Kuno...

Ribuan Orang Sambut Matahari Terbit di Stonehenge pada Winter Solstice, Tradisi Kuno yang Tak Pernah Pudar

186
0
Winter Solstice di Stonehenge Wiltshire, Inggris - sumber foto English Heritage
Winter Solstice di Stonehenge Wiltshire, Inggris - sumber foto English Heritage

Hi Urbie’s! Di tengah dinginnya pagi musim dingin Inggris, ribuan orang berkumpul di sebuah situs batu raksasa yang telah berdiri selama ribuan tahun. Stonehenge, monumen prasejarah ikonik di Wiltshire, Inggris, kembali menjadi pusat perhatian dunia saat winter solstice—hari terpendek dalam setahun di belahan bumi utara—berlangsung dengan penuh makna dan emosi.

Saat matahari perlahan muncul di ufuk timur, sinarnya menyelinap di antara batu-batu raksasa Stonehenge. Momen ini disambut dengan nyanyian, tarian, alunan musik, hingga keheningan yang khusyuk. Sebagian pengunjung memilih mengekspresikan kegembiraan mereka, sementara yang lain mengambil waktu sejenak untuk merenung, berdiri diam, dan menyatu dengan suasana spiritual yang terasa kuat di lokasi tersebut.

Winter Solstice: Titik Balik Cahaya

Winter solstice menandai hari dengan durasi siang terpendek dan malam terpanjang dalam setahun. Namun, momen ini juga membawa harapan. Mulai hari tersebut, durasi siang perlahan akan bertambah, dan dunia akan kembali mendapatkan lebih banyak cahaya matahari.

Bagi banyak budaya kuno, termasuk masyarakat yang membangun Stonehenge, peristiwa astronomi ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan simbol kelahiran kembali, siklus kehidupan, dan perubahan musim. Hingga kini, makna tersebut masih terasa kuat, membuat winter solstice menjadi momen refleksi yang relevan bahkan di era modern.

Stonehenge dan Hubungannya dengan Matahari

Keistimewaan Stonehenge terletak pada penempatan batu-batunya yang sengaja diselaraskan dengan pergerakan matahari. Pada saat summer solstice dan winter solstice, posisi matahari terbit dan terbenam sejajar dengan poros utama monumen ini. Hal ini menunjukkan tingkat pemahaman astronomi yang luar biasa dari para pembangunnya, meskipun teknologi modern belum dikenal pada masa itu.

Pada winter solstice, matahari terbenam tepat di antara batu-batu tertentu, menciptakan pemandangan dramatis yang telah menarik perhatian manusia selama ribuan tahun. Fenomena inilah yang membuat Stonehenge dianggap sebagai kalender raksasa sekaligus penanda pergantian musim.

Perayaan Winter Solstice Modern dengan Sentuhan Spiritual

Di era sekarang, perayaan winter solstice di Stonehenge menjadi perpaduan unik antara tradisi kuno dan ekspresi modern. Para pengunjung datang dari berbagai latar belakang—dari komunitas spiritual, pecinta sejarah, hingga wisatawan biasa yang ingin merasakan langsung atmosfer magis situs ini.

Ada yang menyanyikan lagu-lagu tradisional, menabuh genderang, atau menari mengelilingi batu. Ada pula yang duduk bersila, menutup mata, dan menikmati momen hening saat matahari muncul. Tidak ada satu cara baku untuk merayakannya—semua orang bebas memaknai solstice dengan caranya sendiri.

Baca Juga:

Misteri yang Belum Terpecahkan

Meski telah diteliti selama berabad-abad, tujuan asli pembangunan Stonehenge masih menjadi misteri besar. Para arkeolog menemukan bukti bahwa situs ini juga digunakan sebagai tempat pemakaman, yang menguatkan dugaan bahwa Stonehenge memiliki peran spiritual atau ritual.

Kombinasi antara orientasi astronomi dan temuan pemakaman membuat banyak ahli percaya bahwa Stonehenge bukan sekadar monumen, melainkan pusat upacara penting bagi masyarakat prasejarah. Namun, tanpa catatan tertulis, jawaban pastinya mungkin tak akan pernah diketahui.

Dan justru di situlah letak daya tarik Stonehenge—ia menyisakan ruang bagi imajinasi, tafsir, dan rasa kagum lintas generasi.

Relevansi di Dunia Modern

Di tengah dunia yang serba cepat dan digital, ribuan orang tetap rela bangun pagi, menahan dingin, dan berkumpul di Stonehenge demi menyaksikan matahari terbit di hari terpendek dalam setahun. Ini menjadi bukti bahwa manusia modern masih memiliki kebutuhan untuk terhubung dengan alam dan sejarah.

Bagi Urbie’s, kisah winter solstice di Stonehenge adalah pengingat bahwa perubahan selalu datang secara perlahan, seperti bertambahnya cahaya setelah hari terpendek. Dalam keheningan pagi di antara batu-batu kuno, manusia kembali diingatkan akan siklus waktu, harapan, dan keterhubungan kita dengan alam semesta.

Stonehenge mungkin tak pernah mengungkap seluruh rahasianya, tetapi setiap winter solstice, ia terus berbicara—melalui cahaya matahari, bayangan batu, dan ribuan manusia yang datang untuk menyaksikan keajaiban sederhana namun abadi itu.