Hi Urbie’s! Di balik gemerlap mahkota, upacara kenegaraan, dan istana megah yang kerap menghiasi layar kaca, Keluarga Kerajaan Inggris menyimpan satu fakta mengejutkan yang jarang dibahas secara mendalam: mereka kerap disebut sebagai pemilik lahan terbesar di dunia, dengan kendali atas sekitar 16 persen daratan planet ini. Angka yang terdengar nyaris mustahil, namun justru membuka tabir tentang bagaimana monarki modern bertahan melalui aset, sejarah, dan manajemen yang sangat rapi.
Julukan “the world’s largest landowner” bukan sekadar sensasi. Kepemilikan lahan Keluarga Kerajaan Inggris membentang lintas benuaâ€â€mulai dari hutan luas, lahan pertanian subur, kawasan hunian mewah, hingga garis pantai eksotis. Aset-aset ini tidak hanya berada di Inggris Raya, tetapi juga tersebar di berbagai wilayah yang secara historis terhubung dengan Kerajaan Inggris.
Bukan Milik Pribadi, Tapi Dikelola Negara
Penting dicatat, Urbie’s, bahwa sebagian besar kekayaan lahan tersebut tidak dimiliki secara pribadi oleh Raja atau anggota keluarga kerajaan, melainkan dikelola oleh sebuah badan independen bernama The Crown Estate. Lembaga ini bertanggung jawab mengelola aset properti milik “The Crown” atas nama negara, dengan sistem yang telah berjalan selama ratusan tahun.
The Crown Estate mencakup properti ikonik seperti Regent Street di London, kawasan komersial premium, lahan pertanian, hutan, hingga wilayah pesisir dan dasar laut Inggris yang kini bernilai strategis, terutama dalam pengembangan energi terbarukan seperti ladang angin lepas pantai. Dengan kata lain, ini bukan sekadar tanahâ€â€melainkan infrastruktur ekonomi jangka panjang.
Mesin Uang yang Menggerakkan Kerajaan
Dari pengelolaan aset tersebut, The Crown Estate menghasilkan miliaran dolar pendapatan setiap tahunnya. Keuntungan ini kemudian disetor ke kas negara Inggris. Sebagai gantinya, monarki menerima Sovereign Grant, dana resmi yang digunakan untuk membiayai tugas-tugas kenegaraan, pemeliharaan istana, serta aktivitas resmi keluarga kerajaan.
Model ini menjadikan monarki Inggris unik: mereka tidak hidup dari pajak rakyat secara langsung, melainkan dari hasil pengelolaan aset historis yang telah disepakati secara konstitusional. Skema ini juga menjadi contoh bagaimana warisan feodal dapat bertransformasi menjadi sistem ekonomi modern yang relatif transparan.
King Charles III dan Kekaisaran Properti Modern
Sejak naik takhta, King Charles III kini menjadi figur sentral yang secara simbolis mengawasi kerajaan properti bernilai sekitar USD 46 miliar. Meski tidak terlibat langsung dalam manajemen harian, perannya mencerminkan kesinambungan antara tradisi dan modernitas.
Charles dikenal memiliki perhatian besar pada isu lingkungan dan keberlanjutan. Hal ini turut memengaruhi arah pengelolaan aset Crown Estate, yang kini semakin fokus pada energi hijau, konservasi alam, dan pembangunan berkelanjutan. Dengan kata lain, lahan kerajaan tidak hanya berfungsi sebagai sumber pendapatan, tetapi juga sebagai alat kebijakan jangka panjang.
Baca Juga:
- Aktor Keturunan Indonesia Gilli Jones Masuk Radar Disney Lewat Audisi Tangled
- Ternyata Ini 5 Alasan Mall Selalu Obral Diskon Gede-Gedean Pas Akhir Tahun!
- Inilah 5 Tips Aman dan Nyaman Naik Kapal Feri Buat Pemula Saat Musim Hujan
Dari Pantai hingga Dasar Laut
Salah satu aspek paling menarik dari kepemilikan Crown Estate adalah cakupannya yang ekstrem. Selain tanah di daratan, mereka juga menguasai sebagian besar dasar laut Inggris hingga jarak 12 mil laut dari garis pantai. Hak ini menjadikan Crown Estate pemain kunci dalam proyek energi angin lepas pantaiâ€â€sektor yang kini menjadi tulang punggung transisi energi Inggris.
Tak heran jika banyak analis menyebut bahwa kekuatan ekonomi monarki Inggris saat ini justru terletak pada aset tak kasat mata, yang nilainya akan terus meningkat seiring perubahan zaman.
Warisan Sejarah yang Terus Beradaptasi
Kepemilikan lahan keluarga kerajaan berakar dari sejarah panjang monarki Inggris, ketika raja dan ratu adalah pemilik absolut tanah kerajaan. Seiring berkembangnya sistem demokrasi, kepemilikan itu tidak dihapus, melainkan diatur ulang agar memberi manfaat publik.
Inilah yang membuat monarki Inggris tetap relevan di abad ke-21. Mereka bukan sekadar simbol budaya, tetapi juga institusi ekonomi yang berkontribusi nyata terhadap negara.
Lebih dari Sekadar Mahkota
Urbie’s, ketika kita membicarakan Keluarga Kerajaan Inggris, kisahnya tak berhenti pada silsilah, skandal, atau upacara kenegaraan. Di balik itu semua, terdapat kerajaan properti global yang dikelola dengan pendekatan modern, menghasilkan pendapatan besar, sekaligus menjaga warisan sejarah.
Fakta bahwa satu institusi dapat mengelola 16 persen lahan duniaâ€â€secara langsung maupun tidak langsungâ€â€menjadi pengingat bahwa kekuasaan di era modern tak selalu tampil dalam bentuk politik. Kadang, ia hadir dalam wujud tanah, aset, dan manajemen yang nyaris tak terlihat, namun dampaknya terasa hingga lintas generasi.








