Hi Urbie’s! Pasar logam mulia global dikejutkan oleh koreksi tajam yang terjadi pada Senin (29/12/2025). Setelah berhari-hariâ€â€bahkan berminggu-mingguâ€â€menikmati reli kuat hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, harga emas, perak, platinum, dan paladium kompak melemah signifikan. Fenomena ini menandai fase baru di pasar: aksi ambil untung besar-besaran dari investor yang sebelumnya menikmati lonjakan harga luar biasa.
Koreksi ini datang di saat sentimen pasar sedang rapuh. Ketika harga sudah terlalu tinggi dan keuntungan menggiurkan telah terkunci, investor global memilih untuk mengamankan profit mereka. Hasilnya, pasar logam mulia yang sebelumnya panas mendadak mendingin dalam waktu singkat.
Emas Turun Tajam Usai Sentuh Rekor Sepanjang Masa
Emas spot mencatat penurunan paling disorot. Harga logam mulia paling populer di dunia itu merosot 4,43 persen ke level USD 4.332,56 per troy ons. Penurunan ini terjadi hanya beberapa hari setelah emas mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di USD 4.549,71 per troy ons pada Jumat pekan lalu.
Bagi banyak pelaku pasar, pelemahan ini bukanlah kejutan. Kenaikan harga emas sepanjang tahun 2025 terbilang luar biasa, bahkan melampaui ekspektasi banyak analis. Emas menjadi primadona di tengah ketidakpastian ekonomi global, konflik geopolitik, serta meningkatnya minat terhadap aset lindung nilai (safe haven).
Namun, reli panjang tersebut juga menciptakan tekanan tersendiri. Ketika harga sudah terlalu jauh meninggalkan level fundamental, koreksi dianggap sebagai langkah “sehat” untuk menyeimbangkan pasar.
Platinum dan Perak Paling Terpukul dalam Sehari
Tak hanya emas, tekanan jual juga menghantam logam mulia lainnya dengan skala yang lebih dalam. Platinum anjlok 14,5 persen ke USD 2.096,53 per troy ons, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor USD 2.478,50 pada awal sesi perdagangan.
Sementara itu, perak mengalami koreksi 9,5 persen ke USD 71,66 per troy ons, turun tajam dari rekor tertinggi USD 83,62 yang bahkan tercapai pada hari yang sama. Pergerakan ekstrem ini mencerminkan betapa cepatnya sentimen pasar berubah ketika investor mulai menarik keuntungan.
Paladium juga tak luput dari tekanan. Harga paladium spot ambles 15,9 persen ke level USD 1.617,47 per troy ons, menjadikannya salah satu penurunan harian terdalam di sektor logam mulia tahun ini.
Aksi Ambil Untung Jadi Pemicu Utama
Menurut Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, David Meger, koreksi ini murni dipicu oleh aksi ambil untung setelah lonjakan harga yang terlalu agresif.
“Semua logam ini telah naik ke level tertinggi, baik tertinggi terkini maupun sepanjang masa. Yang kita lihat sekarang adalah aksi ambil untung dari level yang sangat tinggi tersebut,” ujar Meger, dikutip dari Reuters.
Pernyataan ini menegaskan bahwa fundamental jangka panjang belum tentu berubah drastis. Namun, dalam jangka pendek, pasar membutuhkan ruang bernapas setelah reli yang nyaris vertikal.
Baca Juga:
- Punya Email Alay Sejak Remaja? Kini Gmail Bisa Diganti Tanpa Buat Akun Baru
- Tips Berkendara Aman di Musim Hujan Saat Liburan Akhir Tahun
- Fenomena Lelah di Akhir Pekan, Tanda Tubuh Kirim Sinyal Ini!
Kinerja Tahunan Masih Sangat Kuat
Meski terkoreksi tajam, performa logam mulia sepanjang tahun 2025 tetap mencengangkan. Harga emas melonjak sekitar 65 persen sejak awal tahun, mencerminkan kuatnya permintaan global terhadap aset lindung nilai.
Platinum dan paladium juga masih berada di jalur kenaikan tahunan, meski volatilitasnya lebih tinggi. Namun, bintang sesungguhnya tahun ini adalah perak.
Logam putih tersebut mencatat kenaikan sekitar 147 persen sepanjang tahun, menjadikannya logam mulia dengan kinerja terbaik. Lonjakan ini didorong oleh status perak sebagai mineral kritis, keterbatasan pasokan global, serta meningkatnya permintaan industriâ€â€terutama untuk energi terbarukan, teknologi, dan elektronikâ€â€di samping minat investor spekulatif.
Apa Artinya bagi Investor?
Bagi Urbie’s yang mengikuti pergerakan pasar komoditas, koreksi ini menjadi pengingat penting bahwa tidak ada reli yang berlangsung selamanya. Kenaikan tajam hampir selalu diikuti oleh fase penyesuaian, terutama ketika sentimen pasar terlalu optimistis.
Namun, banyak analis menilai koreksi ini bukan akhir dari tren jangka panjang. Selama ketidakpastian global, transisi energi, dan tekanan inflasi masih membayangi, logam mulia tetap memiliki daya tarik kuat sebagai aset strategis.
Kini, pasar memasuki fase selektif. Investor tidak lagi sekadar mengejar momentum, tetapi mulai menimbang ulang valuasi dan risiko. Satu hal yang pasti: tahun 2025 telah menjadi salah satu periode paling volatil dan bersejarah bagi logam mulia globalâ€â€dan ceritanya masih jauh dari selesai.








