Hi Urbie’s!, dunia investasi global resmi memasuki babak baru. Warren Buffett, investor paling ikonik abad ini, menyerahkan kursi Chief Executive Officer (CEO) Berkshire Hathaway kepada penerusnya, Greg Abel, pada Kamis (1/1/2026). Langkah ini sekaligus menutup perjalanan luar biasa Buffett yang telah menakhodai Berkshire Hathaway selama hampir enam dekade, sebuah era yang tak hanya membentuk perusahaan, tetapi juga mengubah cara dunia memandang investasi jangka panjang.
Kabar pergantian kepemimpinan ini dilansir oleh CNBC Indonesia, dan langsung menjadi sorotan pelaku pasar serta komunitas bisnis tanah air dan global. Bukan hanya karena siapa yang pergi dan siapa yang menggantikan, tetapi karena warisan yang ditinggalkan Buffett nyaris mustahil untuk ditandingi.
Hari Terakhir Warren Buffett Sang Oracle of Omaha
Pada hari terakhir Warren Buffett menjabat sebagai CEO, tepatnya Rabu waktu Amerika Serikat, pergerakan saham Berkshire Hathaway relatif stabil meski sedikit melemah. Saham Kelas A ditutup terkoreksi tipis 0,1 persen ke level US$754.800 per saham, atau setara sekitar Rp12,07 miliar. Sementara itu, saham Kelas B juga turun ringan 0,2 persen ke harga US$502,65, sekitar Rp8,04 juta.
Penurunan ini dinilai wajar oleh analis pasar. Tidak ada gejolak besar, tidak ada aksi jual panik. Justru, reaksi pasar mencerminkan kepercayaan kuat terhadap kesinambungan Berkshire Hathaway di bawah kepemimpinan baru. Bagi banyak investor, transisi ini sudah lama dipersiapkan, baik secara struktural maupun kultural.
Warren Buffett Enam Dekade, Satu Filosofi Investasi
Warren Buffett mulai mengambil alih Berkshire Hathaway pada 1965, saat perusahaan itu masih merupakan pabrik tekstil yang nyaris tenggelam. Dari titik itulah, ia mengubah Berkshire menjadi kerajaan bisnis lintas sektor, mulai dari asuransi, energi, perkeretaapian, hingga kepemilikan saham di raksasa global seperti Apple, Coca-Cola, dan American Express.
Selama masa kepemimpinannya, Buffett konsisten dengan satu filosofi sederhana namun revolusioner: investasi jangka panjang pada bisnis berkualitas dengan manajemen yang solid. Tanpa spekulasi berlebihan, tanpa jargon rumit, dan tanpa terjebak euforia pasar jangka pendek.
Hasilnya nyaris tak masuk akal. Investor yang memegang saham Berkshire sejak awal masa jabatan Buffett menikmati keuntungan sekitar 6.100.000 persen. Angka ini menjadikan Berkshire Hathaway sebagai salah satu kisah sukses terbesar dalam sejarah pasar modal dunia.
Mengalahkan Pasar dengan Jarak Fantastis
Untuk memberi gambaran seberapa luar biasa capaian tersebut, mari bandingkan dengan indeks acuan pasar Amerika Serikat, S&P 500. Dalam periode yang sama, S&P 500 “hanya” mencatatkan imbal hasil sekitar 46.000 persen, termasuk dividen.
Perbandingan ini menegaskan satu hal: Buffett bukan sekadar mengalahkan pasar, ia meninggalkan pasar jauh di belakang. Selisih kinerja tersebut menjadi alasan mengapa ia dijuluki Oracle of Omaha, sosok yang dianggap mampu membaca masa depan bisnis dengan kejernihan dan disiplin luar biasa.
Baca Juga:
- The Housemaid (2025): Saat Pelakor dan Istri Bersatu dalam Thriller Psikologis yang Bikin Merinding
- Harga Logam Mulia Dunia Terkoreksi Tajam: Emas, Perak, hingga Platinum Dihantam Aksi Ambil Untung
- ChatGPT Kena Pajak! OpenAI Resmi Dipungut PPN oleh DJP
Greg Abel dan Tantangan Melanjutkan Warisan
Tongkat estafet kini berada di tangan Greg Abel, sosok yang selama ini telah lama disiapkan sebagai penerus. Abel dikenal sebagai eksekutif yang memahami kultur Berkshire Hathaway dari dalam, terutama melalui perannya dalam mengelola bisnis energi perusahaan.
Meski begitu, tantangan yang menantinya tidak kecil. Abel bukan hanya harus menjaga kinerja keuangan, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai Buffett: kesabaran, rasionalitas, dan fokus pada fundamental. Dunia bisnis kini jauh lebih cepat, lebih digital, dan lebih volatil dibanding era awal Buffett. Menjaga keseimbangan antara adaptasi dan prinsip lama akan menjadi ujian utama.
Akhir Sebuah Era, Awal Babak Baru
Kepergian Warren Buffett dari kursi CEO bukan sekadar pergantian jabatan. Ini adalah penanda berakhirnya satu era dalam sejarah kapitalisme modern. Namun, Buffett tidak benar-benar pergi. Filosofi investasinya, struktur bisnis Berkshire, dan budaya perusahaan yang ia bangun akan terus hidup.
Bagi generasi investor baru, kisah Buffett adalah pengingat bahwa kesuksesan besar tidak selalu datang dari kecepatan, melainkan dari konsistensi dan kepercayaan pada proses. Di tengah dunia yang semakin bising oleh spekulasi dan tren sesaat, warisan Buffett terasa semakin relevan.
Urbie’s!, enam dekade kepemimpinan Warren Buffett telah membuktikan bahwa investasi bukan soal menebak, melainkan memahami. Dan kini, dunia menatap masa depan Berkshire Hathaway dengan satu pertanyaan besar: seberapa jauh warisan itu akan terus bertumbuh di tangan generasi berikutnya?








