Home Highlight Museum Nasional Korea Cetak Rekor 6,5 Juta Pengunjung, Masuk Tiga Besar Museum...

Museum Nasional Korea Cetak Rekor 6,5 Juta Pengunjung, Masuk Tiga Besar Museum Paling Ramai di Dunia

139
0
Museum Nasional Korea Cetak Rekor 6,5 Juta Pengunjung, Masuk Tiga Besar Museum Paling Ramai di Dunia
Foto: KBSWorld

Hi Urbie’s, gelombang popularitas budaya Korea ternyata tidak hanya terasa lewat K-pop dan drama, tetapi juga merambah kuat ke sektor sejarah dan kebudayaan. Museum Nasional Korea yang berlokasi di Distrik Yongsan, Seoul, resmi mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarahnya dengan jumlah pengunjung mencapai 6.507.483 orang dalam satu tahun. Angka ini menjadikannya sebagai museum ketiga paling banyak dikunjungi di dunia, tepat di bawah Louvre di Prancis dan Museum Vatikan di Kota Vatikan.

Pencapaian ini diumumkan secara resmi oleh pihak Museum Nasional Korea pada 2 Januari, berdasarkan penghitungan akhir hingga 31 Desember tahun lalu. Rekor tersebut menjadi yang tertinggi sejak museum ini pertama kali dibuka pada September 1945. Tidak hanya memecahkan rekor internal, lonjakan jumlah pengunjung ini juga menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, yakni sekitar 1,7 kali lipat dari total pengunjung tahun 2024 yang berada di angka 3.788.785 orang.

Jika merujuk pada statistik pengunjung museum dunia yang dirilis oleh media seni internasional Art Newspaper pada April lalu, Museum Nasional Korea kini berada di peringkat ketiga global. Posisi pertama masih ditempati Louvre dengan 8.737.050 pengunjung, disusul Museum Vatikan dengan 6.825.436 pengunjung. Capaian ini menempatkan Korea Selatan sejajar dengan pusat-pusat kebudayaan dunia yang selama ini identik dengan sejarah Eropa dan peradaban Barat.

Menariknya, rekor ini tercapai melalui pertumbuhan yang konsisten sepanjang tahun. Hingga paruh pertama tahun lalu, rekor tertinggi Museum Nasional Korea masih berada di angka 4.180.285 pengunjung pada tahun 2023. Namun, angka tersebut berhasil dilewati pada 25 Agustus. Jumlah pengunjung kemudian menembus 5 juta pada 15 Oktober dan melampaui 6 juta hanya dua bulan kemudian, tepatnya pada 11 Desember. Lonjakan ini menandai tingginya minat publik terhadap museum sebagai ruang edukasi sekaligus destinasi wisata budaya.

Museum Nasional Korea dikenal memiliki koleksi permanen yang sangat luas, mulai dari artefak prasejarah, seni rupa klasik, hingga peninggalan kerajaan-kerajaan besar di Semenanjung Korea. Tata pamer yang modern, ruang terbuka hijau di sekitar area museum, serta akses gratis ke sebagian besar koleksi permanen menjadi faktor penting yang membuat museum ini ramah bagi semua kalangan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Baca Juga:

Tidak hanya museum utama di Seoul, total pengunjung gabungan Museum Nasional Korea dan 13 museum nasional regional lainnya juga mencatat angka impresif. Sepanjang tahun lalu, total kunjungan mencapai 14.773.111 orang. Capaian ini memperlihatkan bahwa minat terhadap sejarah dan warisan budaya Korea tidak terpusat di ibu kota saja, melainkan juga tersebar di berbagai daerah.

Berdasarkan wilayah, Museum Nasional Gyeongju menjadi yang paling banyak dikunjungi dengan hampir dua juta pengunjung. Popularitasnya melonjak berkat pembukaan Pameran Khusus Mahkota Emas Silla yang digelar bertepatan dengan KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik atau APEC pada Oktober. Pameran ini menampilkan mahkota emas ikonik dari Kerajaan Silla, yang selama ini menjadi simbol kejayaan sejarah Korea kuno.

Selain Gyeongju, Museum Nasional Buyeo dan Museum Nasional Gongju juga mencatat performa kuat dengan masing-masing hampir satu juta pengunjung. Kedua museum ini dikenal sebagai pusat pelestarian sejarah Kerajaan Baekje, salah satu kerajaan penting dalam sejarah Tiga Kerajaan Korea. Keberhasilan museum-museum regional ini menunjukkan bahwa strategi pemerataan wisata budaya yang dijalankan pemerintah Korea Selatan mulai membuahkan hasil.

Bagi Urbie’s yang tertarik pada sejarah, seni, dan perjalanan budaya, pencapaian Museum Nasional Korea ini menjadi bukti bahwa museum kini bukan lagi sekadar ruang sunyi berisi artefak, melainkan pusat pengalaman budaya yang hidup, relevan, dan diminati lintas generasi. Korea Selatan berhasil menunjukkan bahwa investasi pada kebudayaan mampu menciptakan daya tarik global yang berkelanjutan.