Home Highlight Tiang Monorel Rasuna Said Akhirnya Dibongkar, Pramono Anung Menutup Bab Mangkrak Transportasi...

Tiang Monorel Rasuna Said Akhirnya Dibongkar, Pramono Anung Menutup Bab Mangkrak Transportasi Ibu Kota

100
0
Tiang Monorel Rasuna Said Akhirnya Dibongkar - sumber foto Istimewa
Tiang Monorel Rasuna Said Akhirnya Dibongkar - sumber foto Istimewa

Hi Urbie’s, siapa yang tidak familiar dengan pemandangan tiang-tiang beton menjulang di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan? Selama bertahun-tahun, struktur monorel mangkrak itu menjadi semacam monumen kegagalan perencanaan kota—diam, berdebu, dan perlahan menyatu dengan kemacetan harian ibu kota. Kini, penantian panjang itu mendekati akhir.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Bina Marga dijadwalkan akan memulai pembongkaran tiang monorel mangkrak tersebut pada pekan depan. Informasi ini disampaikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, yang menegaskan bahwa proses pembongkaran tidak akan disertai penutupan jalan.

“Untuk pembongkaran tiang monorel akan kami lakukan minggu ketiga, apakah hari Selasa atau Rabu. Dan untuk itu tidak dilakukan penutupan jalan,” ujar Pramono di Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (6/1/2026), seperti dilansir dari Kompas.

Keputusan ini menjadi sinyal kuat bahwa Jakarta mulai serius membereskan “warisan” proyek mangkrak yang selama ini membebani wajah kota—baik secara visual, psikologis, maupun fungsional.

Dari Mimpi Transportasi ke Simbol Mangkrak

Proyek monorel Jakarta sejatinya lahir dari ambisi besar menghadirkan moda transportasi modern yang mampu mengurai kemacetan. Namun, konflik kebijakan, persoalan pendanaan, hingga perubahan kepemimpinan membuat proyek ini berhenti di tengah jalan. Yang tersisa hanyalah deretan tiang beton tanpa rel, tanpa kereta, dan tanpa kepastian.

Selama bertahun-tahun, tiang monorel di Rasuna Said tak hanya mengganggu estetika kota, tapi juga memengaruhi kualitas ruang publik. Jalan utama kawasan bisnis itu seharusnya menjadi koridor urban yang nyaman bagi pejalan kaki, pesepeda, dan pekerja kantoran. Sayangnya, keberadaan struktur mangkrak justru menghadirkan kesan kumuh dan tidak terurus.

Bagi warga Jakarta, monorel mangkrak sudah lama menjadi bahan candaan sekaligus keluhan. “Ini proyek hantu,” begitu kata sebagian warga. Kini, julukan itu perlahan akan ditinggalkan.

Pembongkaran Tanpa Tutup Jalan, Apa Artinya?

Keputusan Pemprov DKI untuk tidak menutup jalan selama pembongkaran menjadi poin penting. Rasuna Said adalah salah satu nadi lalu lintas Jakarta Selatan, yang setiap harinya dipadati kendaraan pribadi, transportasi umum, hingga ojek online.

Artinya, pemerintah ingin memastikan bahwa proses penataan kota tidak kembali “menyiksa” warga lewat kemacetan tambahan. Meski teknis pelaksanaannya tentu menantang, kebijakan ini menunjukkan upaya menyeimbangkan pembangunan dengan kenyamanan hidup warga urban.

Dari sudut pandang lifestyle perkotaan, ini bukan sekadar proyek bongkar beton. Ini soal hak warga atas ruang kota yang lebih manusiawi—jalanan yang aman, visual kota yang rapi, dan infrastruktur yang benar-benar berfungsi.

Baca Juga:

Jakarta Sedang Berbenah

Langkah pembongkaran tiang monorel ini juga bisa dibaca sebagai bagian dari narasi besar Jakarta yang sedang berbenah. Setelah berbagai proyek transportasi massal seperti MRT, LRT, dan integrasi TransJakarta mulai berjalan, keberadaan monorel mangkrak terasa semakin tidak relevan.

Alih-alih mempertahankan simbol masa lalu yang gagal, Jakarta memilih menutup bab itu dan membuka ruang bagi perencanaan baru yang lebih realistis dan berkelanjutan.

Bagi generasi muda urban—pekerja kreatif, profesional, hingga mahasiswa—kota bukan sekadar tempat tinggal, tapi ruang hidup. Visual kota yang tertata, transportasi yang logis, dan kebijakan yang berpihak pada mobilitas sehari-hari menjadi bagian dari kualitas hidup modern.

Apa Selanjutnya?

Meski pembongkaran menjadi kabar baik, publik tentu menunggu langkah berikutnya. Apa yang akan dilakukan setelah tiang-tiang itu hilang? Apakah ruang tersebut akan dikembalikan sepenuhnya untuk jalan, jalur hijau, atau bahkan fasilitas publik baru?

Gubernur Pramono Anung belum merinci rencana lanjutan pasca pembongkaran. Namun satu hal jelas: Jakarta tidak ingin lagi menyimpan proyek setengah jadi sebagai beban masa depan.

Pembongkaran tiang monorel Rasuna Said bukan hanya soal merobohkan beton, tapi juga meruntuhkan ingatan kolektif tentang perencanaan yang gagal. Ini adalah simbol bahwa kota bisa belajar, memperbaiki diri, dan bergerak maju.

Bagi Urbie’s yang setiap hari bergelut dengan hiruk-pikuk ibu kota, kabar ini mungkin terasa sederhana. Tapi di baliknya, ada pesan penting: Jakarta sedang mencoba menjadi kota yang lebih jujur pada warganya—mengakui kesalahan, lalu membereskannya.

Dan itu, di kota sebesar Jakarta, bukan langkah kecil.