Home Highlight BMI Perempuan Indonesia Naik Tajam Sejak 1975, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

BMI Perempuan Indonesia Naik Tajam Sejak 1975, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

83
0
ilustrasi BMI Perempuan Indonesia Naik Tajam Sejak 1975 - sumber foto MetaAi
ilustrasi BMI Perempuan Indonesia Naik Tajam Sejak 1975 - sumber foto MetaAi

Hi Urbie’s!, tubuh perempuan selalu jadi ruang cerita—tentang budaya, pekerjaan, standar kecantikan, sampai gaya hidup. Tapi ketika kita melihat data Body Mass Index (BMI) perempuan selama puluhan tahun, tubuh tak lagi bicara secara personal. Ia berubah menjadi penanda zaman.

Data dari Our World in Data menunjukkan bahwa sejak 1975 hingga 2016, BMI rata-rata perempuan Indonesia naik tajam dari 19,33 menjadi 23,90. Kenaikan sebesar 24 persen ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan lonjakan tertinggi. Angkanya masih tergolong normal, tapi posisinya kini berdiri tepat di ambang overweight.

Yang menarik, tren ini tak berdiri sendiri. Jika ditarik ke konteks Asia Tenggara, perubahan tubuh perempuan adalah cerita kolektif—tentang transisi hidup, urbanisasi, dan redefinisi gaya hidup modern.

Asia Tenggara: Pola yang Mirip, Cerita yang Berbeda

Di kawasan Asia Tenggara, negara-negara seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina menunjukkan pola serupa: kenaikan BMI perempuan yang konsisten sejak 1980-an. Malaysia bahkan dikenal memiliki rata-rata BMI perempuan lebih tinggi dibanding Indonesia, dipengaruhi konsumsi gula dan makanan cepat saji yang tinggi dalam keseharian urban.

Sementara itu, Vietnam dan Kamboja relatif lebih lambat mengalami lonjakan. Pola makan tradisional berbasis sayur, sup, dan aktivitas fisik harian masih menjadi bagian hidup masyarakat—meski kini mulai tergerus oleh budaya instan.

Indonesia berada di tengah-tengah. Kita tidak setinggi Malaysia, tapi juga tak serendah Vietnam. Posisi ini mencerminkan satu hal: kita sedang berubah, tapi belum sepenuhnya sadar ke mana arah perubahan itu membawa tubuh kita.

Dari Dapur Tradisional ke Aplikasi Pesan Antar

Urbie’s!, perubahan BMI perempuan Indonesia tak bisa dilepaskan dari gaya hidup urban. Generasi ibu dan nenek kita terbiasa bergerak: ke pasar, memasak dari nol, berjalan kaki, dan hidup dalam ritme yang lebih lambat.

Hari ini? Hidup kita dikelilingi:

  • makanan siap saji,
  • minuman manis kemasan,
  • kerja duduk berjam-jam,
  • dan aplikasi yang membuat segalanya tinggal klik.

Perubahan ini tidak buruk—ia praktis dan efisien. Tapi tubuh, yang berevolusi ribuan tahun untuk bergerak, kini dipaksa beradaptasi terlalu cepat. Kenaikan BMI menjadi sinyal awal bahwa tubuh sedang “bernegosiasi” dengan gaya hidup baru.

Baca Juga:

Standar Cantik Asia Tenggara yang Bertabrakan

Di Asia Tenggara, perempuan hidup dalam paradoks. Di satu sisi, standar kecantikan masih memuja tubuh ramping dan ringan. Di sisi lain, budaya sosial kita sangat erat dengan makanan—dari nasi, gorengan, kopi susu, hingga dessert kekinian.

Indonesia, Thailand, dan Filipina sama-sama memiliki budaya makan komunal. Menolak makanan sering dianggap tidak sopan. Akibatnya, hubungan perempuan dengan tubuh sering dibangun lewat rasa bersalah, bukan kesadaran.

Tak heran jika BMI naik, sementara kepuasan tubuh justru turun.

Mengapa Indonesia Perlu Waspada?

Meski BMI perempuan Indonesia masih berada di kategori “normal”, posisinya yang mendekati overweight membuat kita berada di titik krusial. Negara-negara Asia Tenggara yang lebih dulu melewati fase ini kini menghadapi lonjakan penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi—terutama di kalangan perempuan urban.

Pelajaran dari kawasan ini jelas: kenaikan BMI bukan masalah estetika, tapi sinyal gaya hidup yang perlu ditata ulang.

Bukan dengan diet ekstrem atau glorifikasi tubuh kurus, melainkan:

  • membangun kebiasaan gerak yang realistis,
  • kembali menghargai makanan utuh,
  • dan menciptakan relasi sehat dengan tubuh sendiri.

Tubuh Sebagai Arsip Zaman

Urbie’s!, tubuh perempuan Asia Tenggara hari ini adalah arsip hidup. Ia merekam perubahan ekonomi, teknologi, dan budaya dalam diam. Kenaikan BMI Indonesia bukan kegagalan, tapi tanda bahwa kita sedang berada di persimpangan.

Mau mengikuti jejak negara yang terlambat sadar, atau belajar dari tetangga yang mulai menjaga keseimbangan lebih awal?

Pada akhirnya, keindahan tubuh bukan soal siapa yang paling kurus. Tapi siapa yang paling selaras dengan hidupnya. Dan mungkin, gaya hidup yang benar-benar modern bukan yang paling cepat—melainkan yang paling sadar.