Home Highlight Dracin CEO Dilarang di China, Fajar Sadboy Malah Bangun Sadboy Cinematic Universe...

Dracin CEO Dilarang di China, Fajar Sadboy Malah Bangun Sadboy Cinematic Universe di Iklan Redmi

18
0
Fajar Sadboy di dracin CEO - sumber foto Instagram Xiaomi Indonesia
Fajar Sadboy di dracin CEO - sumber foto Instagram Xiaomi Indonesia

Hi Urbie’s! Kalau di China drama cinta ala Dracin CEO mulai dibatasi karena dianggap terlalu berlebihan dan mempengaruhi persepsi publik tentang romansa dan kelas sosial, internet Indonesia justru merespons dengan cara yang khas: parodi yang sadar diri, absurd, dan penuh meta-humor. Di sinilah nama Fajar Sadboy kembali naik ke permukaan, kali ini sebagai tokoh utama dalam iklan Redmi yang terasa seperti sinetron CEO versi internet.

Fenomena ini menarik karena tidak hanya menunjukkan bagaimana tren global bisa dipelintir secara lokal, tapi juga bagaimana brand memanfaatkan budaya meme untuk menciptakan kampanye yang relevan dan viral.

Dari Dracin CEO ke Versi Lokal yang Chaotic

Dracin CEO—singkatan dari drama cinta CEO—adalah subgenre populer di platform short video China. Ceritanya hampir selalu sama: seorang CEO kaya raya jatuh cinta dengan orang biasa, penuh konflik kelas sosial, kesalahpahaman, dan plot twist melodramatis. Formula ini sangat populer hingga menjadi klise, dan akhirnya menuai kritik serta pembatasan dari regulator.

Di Indonesia, format ini justru dihidupkan kembali dalam bentuk parodi. Iklan Redmi yang menampilkan Fajar Sadboy mengambil semua elemen khas Dracin CEO, lalu mendorongnya ke titik yang terlalu berlebihan hingga berubah menjadi komedi.

Fajar Sadboy sebagai Anak Tunggal CEO TITAN KUKUKUKU Group

Dalam narasi iklan, Fajar diceritakan sebagai anak tunggal CEO TITAN KUKUKUKU Group yang menyamar menjadi orang biasa demi membuktikan cinta sejati. Premis ini sangat klasik—bahkan klise—dalam dunia sinetron dan drama Asia. Namun, cara penyampaiannya membuat cerita ini terasa seperti satire.

Plotnya penuh drama, salah paham, dan twist yang terasa seperti potongan sinetron prime time, tetapi dikemas dengan gaya visual dan dialog yang sadar akan absurditasnya. Inilah yang membuat penonton tidak hanya menonton, tapi juga menertawakan format itu sendiri.

Scene Ikonik: Dari Tukang Bakso sampai Lagu yang Bikin Mual

Beberapa adegan langsung menjadi bahan meme di media sosial. Salah satunya adalah Fajar yang tersiram air oleh tukang bakso, momen yang secara sinetron terasa tragis, tapi secara internet justru terasa lucu dan over-the-top.

Adegan lain memperlihatkan Fajar ngedate romantis sambil melempar gombalan khas sadboy, seolah sedang berada di drama romantis kelas atas. Namun klimaksnya adalah ketika Fajar menyanyikan lagu penuh perasaan, dan reaksi orang-orang di sekitarnya—termasuk pacarnya—digambarkan ingin marah dan muntah. Momen ini terasa seperti parodi langsung terhadap drama yang terlalu melodramatis.

Alih-alih membuat penonton terharu, iklan ini justru memancing cringe yang disengaja. Dan di era internet, cringe yang sadar diri justru menjadi mata uang viralitas.

Sadboy Cinematic Universe: Parodi yang Sadar Diri

Yang membuat iklan ini menonjol bukan hanya cerita, tapi tone self-aware yang jarang ada di iklan konvensional. Alih-alih berpura-pura serius, iklan ini merangkul absurditasnya sendiri. Fajar Sadboy bukan hanya karakter, tapi persona internet yang sudah dikenal dengan gaya dramatis dan emosional.

Dengan memanfaatkan persona tersebut, brand menciptakan sesuatu yang terasa seperti “Sadboy Cinematic Universe”—sebuah dunia sinetron CEO versi meme yang tidak takut terlihat konyol.

Strategi ini mencerminkan tren baru dalam marketing: brand tidak lagi selalu ingin terlihat premium dan serius, tapi ingin menjadi bagian dari percakapan internet. Humor, ironi, dan meta-narasi menjadi senjata baru untuk menjangkau audiens Gen Z dan milenial.

Baca juga:

Iklan, Meme, dan Budaya Internet Indonesia

Respons publik terhadap iklan ini menunjukkan satu hal: audiens Indonesia sangat peka terhadap humor meta. Mereka tidak hanya menonton cerita, tapi juga memahami referensi budaya di baliknya—mulai dari sinetron lokal, drama China, hingga persona viral seperti Fajar Sadboy.

Di sisi lain, fenomena ini juga menunjukkan bagaimana pembatasan di satu negara bisa memicu kreativitas di negara lain. Ketika Dracin CEO dibatasi di China, format tersebut justru hidup kembali dalam bentuk parodi di Indonesia.

Antara Kritik dan Hiburan

Meski lucu, format Dracin CEO—bahkan dalam versi parodi—tetap membuka diskusi tentang representasi kelas sosial, romantisasi kekayaan, dan standar cinta yang tidak realistis. Namun dalam konteks iklan ini, humor yang sadar diri membuatnya lebih terasa sebagai kritik ringan ketimbang glorifikasi.

Fajar Sadboy, dengan segala dramatisasinya, menjadi cermin bagaimana internet bisa mengubah klise menjadi komedi. Alih-alih menerima formula lama secara mentah, audiens justru diajak menertawakan formula tersebut.

Dracin Dilarang, Parodi Merajalela

Ketika Dracin CEO mulai dibatasi di China, internet Indonesia justru menemukan versi baru yang lebih chaotic dan reflektif. Iklan Redmi dengan Fajar Sadboy bukan sekadar promosi produk, tapi juga contoh bagaimana budaya internet, meme, dan iklan modern saling bertemu.

“Sadboy Cinematic Universe” mungkin hanya parodi, tapi ia mencerminkan era baru storytelling brand: di mana absurditas, self-awareness, dan humor meta justru menjadi kunci relevansi.

Urbie’s, di tengah banjir konten serius, mungkin kita memang butuh sedikit drama CEO yang sadar kalau dirinya cuma parodi.