
Hi Urbie’s! Setiap 26 Januari, dunia memperingati World Environmental Education Day, sebuah momentum global yang diinisiasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan lingkungan. Peringatan ini juga menjadi bagian dari peta jalan Sustainable Development Goals (SDGs) yang menekankan perlindungan alam, edukasi berkelanjutan, serta partisipasi aktif berbagai sektor dalam menjaga bumi.
Di Indonesia, peringatan ini menjadi panggilan nyata untuk bergerak bersama. Salah satu yang aktif merespons adalah Ascott Waterplace Surabaya, yang sejak 2022 konsisten menjalankan program pemberdayaan masyarakat dan sustainability melalui kolaborasi lintas komunitas, sektor swasta, dan institusi pendidikan.
Komitmen Ascott CARES: Keberlanjutan yang Menyatu dengan Ekonomi
Ascott Waterplace Surabaya menegaskan komitmennya melalui lima pilar keberlanjutan yang dikenal sebagai Ascott CARES: Community, Alliance, Respect, Environment, dan Supply Chain. Lima pilar ini menjadi pedoman operasional dalam mengintegrasikan keberlanjutan dengan pembangunan ekonomi.
“Ascott CARES menjadi pedoman bagi kami untuk terus berkomitmen dalam pemberdayaan masyarakat dan lingkungan tanpa meninggalkan esensi pembangunan ekonomi,” ujar Handrian Wijaya, General Manager Ascott Waterplace Surabaya, di sela acara World Environmental Education Day 2026.
Selain program edukasi lingkungan, Ascott Waterplace Surabaya juga aktif melalui inisiatif Art & Craft Take Over untuk pemberdayaan UMKM serta persiapan sertifikasi Global Sustainable Tourism Council (GSTC). Ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya menjadi jargon, tetapi strategi jangka panjang dalam industri hospitality.
Kolaborasi Lintas Komunitas untuk Edukasi Lingkungan
Acara World Environmental Education Day 2026 dihadiri puluhan partisipan dari berbagai latar belakang—mulai dari masyarakat umum, tenaga pendidik, komunitas lingkungan, hingga pelaku bisnis. Sejumlah komunitas dan pihak swasta turut terlibat, di antaranya Nol Sampah, Kampung Sadar Wisata Sambiarum, Young Living, dan Klinko.
Agenda utama acara adalah berbagi kemajuan program lingkungan masing-masing pihak, sekaligus memberikan edukasi praktis kepada publik. Fokus utama tahun ini adalah pengelolaan limbah rumah tangga, khususnya minyak jelantah, yang menjadi salah satu sumber polusi lingkungan terbesar jika tidak dikelola dengan benar.

Limbah Rumah Tangga: Masalah Besar Dimulai dari Rumah
Dalam pemaparannya, Hanie Ismail, Co-founder Nol Sampah, menekankan bahwa sebagian besar sampah berasal dari rumah tangga.
“Sebanyak 56 persen lebih sampah dihasilkan dari rumah tangga, disusul oleh pasar sekitar 13 persen. Ini membuktikan bahwa kita bisa memulai semuanya dari rumah kita sendiri,” ujar Hanie.
Data ini menggarisbawahi pentingnya edukasi lingkungan di tingkat keluarga. Perubahan perilaku sehari-hari—mulai dari memilah sampah hingga mengelola limbah minyak—dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara kolektif.
Minyak Jelantah: Dari Limbah Jadi Produk Bernilai
Indonesia sebagai salah satu produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia mengalami peningkatan konsumsi minyak goreng rumah tangga. Diperkirakan sekitar 6,6 juta kiloliter minyak berakhir sebagai limbah jelantah setiap tahun. Jika dibuang sembarangan, minyak ini dapat mencemari tanah dan air.
Dalam sesi edukasi, Wahyu Oktorianto, Ketua Kampung Sambiarum sekaligus instruktur pembuatan lilin dari minyak jelantah, mempraktikkan cara mengolah limbah tersebut menjadi produk bernilai.
Menurut Wahyu, prosesnya relatif sederhana. Minyak jelantah dibersihkan melalui proses penyaringan dan perendaman arang untuk menghilangkan kotoran dan bau. Setelah itu, minyak dicampur dengan bahan pemadat seperti stearic acid atau palm wax, lalu dipanaskan hingga larut.
“Proses pembuatan lilin minyak jelantah ini fleksibel. Kita juga bisa menambahkan minyak esensial sehingga menjadi lilin aroma terapi,” ujarnya, sambil menunjukkan contoh lilin yang dicampur dengan minyak esensial Young Living.
Transformasi limbah menjadi produk kreatif ini tidak hanya mengurangi polusi, tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif berbasis lingkungan.
Baca juga:
- Kenapa Kita Suka Buka Tutup Kulkas Tanpa Alasan? Ini Penjelasan Ilmiahnya, Urbie’s!
- Santi Indri Tembus Screening Humanity, Program Dokumenter Legendaris KBS yang Tayang Sejak Tahun 2000
- Bonus Fantastis SEA Games 2025, Martina Ayu Pratiwi Cetak Sejarah dengan Raihan Rp3,4 Miliar
Kampung Sambiarum dan Nol Sampah: Membangun Generasi Sadar Lingkungan
Kampung Sambiarum Berwarna bersama Nol Sampah dikenal sebagai pionir kolaborasi komunitas ramah lingkungan di Surabaya. Mereka tidak hanya mengajak warga untuk mengelola sampah, tetapi juga melibatkan generasi muda melalui program edukasi kreatif.
Salah satu program unik adalah “Camp di Kampung”, di mana anak-anak diajak berkemah di lingkungan kampung sambil belajar memilah sampah, konservasi alam, hingga aktivitas kreatif berbasis lingkungan. Program ini dirancang untuk menanamkan kesadaran ekologis sejak dini melalui pengalaman langsung.
Upaya mereka telah menginspirasi komunitas lain di luar Surabaya, menunjukkan bahwa gerakan lingkungan berbasis komunitas dapat menjadi model replikasi di kota-kota lain.
Peran Swasta dalam Ekonomi Berbasis Lingkungan
Selain komunitas, acara ini juga menghadirkan pelaku bisnis yang mengadopsi prinsip ramah lingkungan dalam operasional mereka. Klinko, misalnya, mengubah limbah pakaian menjadi tas kerajinan bernilai ekonomi. Sementara itu, Young Living dikenal sebagai pelopor bisnis berbasis bahan alam dengan proses produksi ramah lingkungan.
Putri Panca, perwakilan Young Living Indonesia, menuturkan bahwa tujuan acara ini sejalan dengan visi perusahaan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis lingkungan.
“Apa yang dihasilkan alam dapat kita olah kembali menjadi sesuatu yang berharga. Ini selaras dengan apa yang Young Living percaya selama ini,” ujar Putri.
Young Living menerapkan proses produksi berkelanjutan mulai dari pembibitan, penanaman, hingga pengemasan, melibatkan komunitas lokal dan berbasis ekologi untuk memastikan produk tetap murni tanpa mengorbankan ekosistem.
Dari Edukasi ke Aksi Nyata
Peringatan World Environmental Education Day 2026 di Ascott Waterplace Surabaya menjadi bukti bahwa edukasi lingkungan tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi juga praktik nyata. Dengan kolaborasi lintas sektor, masyarakat diajak memahami bahwa setiap individu memiliki peran dalam menjaga bumi.
Dari pengelolaan minyak jelantah, kampanye nol sampah, hingga ekonomi kreatif berbasis limbah, semua langkah kecil ini jika dilakukan bersama dapat menciptakan dampak besar.
Pendidikan Lingkungan sebagai Gerakan Kolektif
Bagi Urbie’s, peringatan World Environmental Education Day bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi pengingat bahwa pendidikan lingkungan adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bumi. Inisiatif Ascott Waterplace Surabaya menunjukkan bagaimana sektor hospitality, komunitas, dan bisnis dapat bersatu menciptakan ekosistem keberlanjutan yang inklusif.
Perubahan besar selalu dimulai dari rumah. Mulai dari memilah sampah, mengolah limbah jelantah, hingga mendukung produk ramah lingkungan—setiap aksi kecil adalah langkah menuju planet yang lebih sehat.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan urbanisasi, edukasi lingkungan menjadi kunci. Dan melalui kolaborasi seperti ini, masa depan yang berkelanjutan bukan lagi sekadar visi, tetapi gerakan nyata yang tumbuh dari komunitas.







