Hi Urbie’s! Nama Aurelie Moeremans kembali jadi perbincangan hangat di media sosial. Namun kali ini bukan karena peran film atau kisah cintanya, melainkan karena buku yang ia tulis sebagai ruang penyembuhan personal—dan kini justru menjadi gerakan kesadaran publik tentang child grooming.
Buku bertajuk Broken Springs mendadak viral, dibaca jutaan orang, dan memicu diskusi luas tentang kekerasan seksual, trauma, serta pentingnya empati terhadap korban. Bagi Aurelie, respons publik terhadap bukunya bukan sekadar angka viralitas, tetapi sebuah bentuk keadilan emosional yang dulu tak pernah ia rasakan.
Dari Trauma ke Kata-Kata yang Menyembuhkan
Dalam pernyataan terbarunya, Aurelie mengaku tidak pernah membayangkan bukunya akan sebesar ini. Ia menulis sebagai proses personal, untuk merapikan luka dan memberi ruang pada dirinya sendiri. Namun pelan-pelan, semakin banyak orang membaca dan mengaku terbantu oleh kisahnya.
“Pelan-pelan makin banyak yang baca dan ternyata banyak yang terbantu dengan buku aku. Aku jadi merasa pesan aku sampai,” ujar Aurelie.
Respons pembaca dari Indonesia bahkan membuatnya terkejut. Ia melihat perubahan besar dalam cara masyarakat merespons korban. Jika dulu korban sering disalahkan, kini publik terasa lebih open-minded, empatik, dan siap melindungi.
Viral, Tapi Penuh Makna
Dalam waktu singkat, Broken Springs telah diakses lebih dari 23 juta kali. Lonjakan pembaca bahkan sempat membuat tautan di bio media sosial Aurelie mengalami error karena terlalu banyak orang yang mengakses secara bersamaan.
Viralnya buku ini juga membawa dampak yang jauh lebih luas: isu child grooming kini ramai dibahas di media sosial, program televisi, hingga media arus utama. Sejumlah public figure turut speak up, membuka ruang diskusi yang sebelumnya sering dianggap tabu.
“Isu child grooming sekarang jadi dibahas di mana-mana. Masyarakat jadi lebih sadar, lebih aware. Keren sih,” ungkap Aurelie.
Healing yang Tak Terduga
Di balik viralitas itu, Aurelie justru menemukan sesuatu yang sangat personal: healing. Ia mengaku merasa ada bagian dalam dirinya yang sembuh ketika melihat bagaimana kisahnya membantu orang lain.
“Aku rasanya kayak ada sesuatu dalam diri aku yang sembuh. Aku kayak mendapatkan keadilan yang dulu aku nggak rasain,” katanya.
Pernyataan ini menggambarkan bagaimana validasi sosial dan empati publik bisa menjadi bagian dari proses pemulihan trauma. Bagi korban, didengar dan dipercaya sering kali lebih penting daripada sekadar viral atau sensasi.
Tujuan yang Lebih Besar dari Diri Sendiri
Aurelie juga menegaskan bahwa viralnya buku ini bukan tentang dirinya sebagai figur publik. Ia percaya ada tujuan yang lebih besar di balik semua perhatian ini: membuka percakapan, mengedukasi masyarakat, dan memberi ruang aman bagi korban untuk berbicara.
Ia bahkan mengaku tidak menyukai perhatian berlebihan. Namun menurutnya, Tuhan mengizinkan buku ini menjadi besar karena pesan yang dibawanya jauh lebih penting daripada popularitas pribadi.
Menariknya, meski bukunya viral, Aurelie mengaku tidak mengambil keuntungan besar dari distribusi buku digital tersebut. Ia juga menyoroti fenomena plagiarisme, di mana ada pihak yang mencoba mengambil keuntungan dari karyanya.
“Masak kamu ambil untung dari buku aku? Aku aja nggak ambil untung,” ujarnya dengan nada kecewa.
Baca Juga:
- Dracin CEO Dilarang di China, Fajar Sadboy Malah Bangun Sadboy Cinematic Universe di Iklan Redmi
- Dari Runway ke Ramadan, Koleksi Anggun dengan Sentuhan Arabian Elegan
- Inilah 5 Alasan Kenapa Saat Travelling ke Luar Negri Sampai Bandara Harus 3 Jam Sebelum Keberangkatan
Literasi Trauma dan Kesadaran Publik
Fenomena Broken Springs menunjukkan bahwa literasi tentang trauma dan kekerasan seksual mulai mendapat tempat di ruang publik Indonesia. Diskusi yang dulu dianggap sensitif kini justru menjadi topik penting, membuka jalan bagi perubahan kebijakan, edukasi, dan sistem perlindungan korban.
Para ahli psikologi juga menekankan bahwa narasi personal seperti yang ditulis Aurelie memiliki kekuatan terapeutik—bukan hanya bagi penulis, tetapi juga bagi pembaca yang mungkin mengalami hal serupa. Buku semacam ini bisa menjadi medium validasi, refleksi, dan edukasi.
Dari Cerita Pribadi ke Gerakan Sosial
Apa yang awalnya merupakan kisah personal kini berubah menjadi gerakan sosial. Pembaca tidak hanya mengonsumsi cerita, tetapi juga terlibat dalam diskusi, berbagi pengalaman, dan membangun kesadaran kolektif tentang child grooming dan kekerasan seksual.
Fenomena ini juga mencerminkan pergeseran budaya digital: media sosial bukan hanya ruang hiburan, tetapi juga platform advokasi dan edukasi. Ketika seorang figur publik berbicara jujur tentang trauma, efek domino yang tercipta bisa sangat besar.
Buku sebagai Ruang Keadilan
Bagi Aurelie, buku ini menjadi ruang keadilan alternatif. Jika keadilan hukum dulu terasa jauh, maka keadilan emosional dan sosial justru datang lewat pembaca, diskusi publik, dan perubahan persepsi masyarakat.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa cerita memiliki kekuatan politis dan sosial. Ia bisa mengubah stigma, membangun empati, dan menggerakkan perubahan.
Healing, Literasi, dan Harapan Baru
Urbie’s!, kisah Aurelie Moeremans dan Broken Springs bukan sekadar cerita viral di media sosial. Ini adalah narasi tentang keberanian, penyembuhan, dan transformasi trauma menjadi literasi publik.
Buku ini menunjukkan bahwa korban bisa menemukan suara, masyarakat bisa belajar empati, dan media sosial bisa menjadi ruang edukasi. Di tengah dunia digital yang sering dipenuhi sensasi, kisah Aurelie hadir sebagai pengingat bahwa cerita yang jujur bisa menyembuhkan—dan mengubah banyak orang.








