Hi Urbie’s, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenkebud) kembali membuka ruang dialog dengan pelaku seni tanah air. Pada Selasa, 27 Januari, Kemenkebud menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama para musisi dan seniman dari kawasan Indonesia Timur untuk membahas sebuah gagasan besar bertajuk “Timurnesia”. Forum ini menjadi momentum penting dalam upaya negara untuk memberi pengakuan, identitas, sekaligus wadah bagi perkembangan musik dari wilayah timur Indonesia yang selama ini kerap berada di pinggiran arus utama industri.
FGD tersebut mempertemukan para seniman dengan jajaran pimpinan Kemenkebud, termasuk Fadli Zon dan Giring Ganesha. Kehadiran Deddy Corbuzier sebagai staf khusus kabinet turut menambah dinamika diskusi, terutama dalam menampung berbagai aspirasi yang disampaikan langsung oleh para musisi dan pelaku seni. Forum ini tidak hanya menjadi ajang bertukar gagasan, tetapi juga ruang aman bagi para seniman untuk menyampaikan tantangan struktural, minimnya akses, hingga persoalan distribusi karya yang masih mereka hadapi.
Dalam diskusi tersebut, Timurnesia secara kolektif diusulkan sebagai nama genre musik yang merepresentasikan karya-karya dari Indonesia bagian timur. Gagasan ini lahir dari kesadaran bahwa kekayaan musikal dari wilayah timur memiliki karakter kuat, baik dari sisi ritme, lirik, bahasa daerah, hingga akar budaya yang menyertainya. Namun selama ini, karya-karya tersebut kerap dipayungi label yang terlalu umum, sehingga identitas khasnya sulit dikenali di tingkat nasional maupun global.
Timurnesia diposisikan bukan sekadar label, melainkan sebagai pintu masuk untuk membangun ekosistem musik yang lebih adil dan berkelanjutan. Dengan adanya penamaan genre, diharapkan musisi Indonesia Timur memiliki posisi tawar yang lebih jelas dalam industri musik, mulai dari proses kurasi, distribusi, hingga dokumentasi karya. Nama ini juga diharapkan dapat mempermudah pemetaan oleh negara dalam merumuskan kebijakan kebudayaan yang lebih tepat sasaran.
Baca Juga:
- Empat Belas Tahun Berselang, Dee Lestari Akhirnya Menyanyikan Perahu Kertas Versinya Sendiri
- Langka dan Bernilai Tinggi, Durian Merah Banyuwangi Jadi Durian Pertama di Indonesia yang Dilindungi
- Chef Indonesia Jadi Koki Pribadi Leonardo DiCaprio, Kisah Jonathan Andre Nugroho Bawa Rasa Nusantara ke Hollywood
Bagi Kemenkebud, FGD ini menjadi langkah awal pembentukan wadah kolektif yang mampu merangkul keragaman ekspresi musikal dari Papua, Maluku, Nusa Tenggara, hingga wilayah timur lainnya. Wadah ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang pelestarian, tetapi juga sebagai medium pengembangan, kolaborasi lintas daerah, dan regenerasi seniman. Dengan begitu, musik Indonesia Timur tidak lagi hadir sebagai pelengkap, melainkan sebagai bagian penting dari narasi besar musik nasional.
Kehadiran tokoh lintas latar belakang dalam FGD ini menunjukkan pendekatan kolaboratif yang coba dibangun pemerintah. Tidak hanya mendengar dari sisi kebijakan, diskusi juga memberi ruang pada perspektif kreator yang selama ini berada di lapangan. Aspirasi yang muncul mencakup kebutuhan akan infrastruktur pendukung, akses ke panggung nasional, hingga pentingnya pendidikan musik berbasis budaya lokal.
Wacana Timurnesia juga membuka percakapan lebih luas tentang bagaimana negara memandang keberagaman budaya sebagai kekuatan, bukan sekadar simbol. Dengan memberi nama dan ruang, musik Indonesia Timur diharapkan dapat berkembang tanpa kehilangan akar tradisinya. Langkah ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pengakuan budaya tidak berhenti pada seremoni, tetapi diterjemahkan dalam kebijakan dan ekosistem nyata.
Ke depan, Timurnesia diharapkan tidak berhenti sebagai hasil diskusi, melainkan berkembang menjadi gerakan bersama yang melibatkan komunitas, industri, dan pemerintah. Jika dikelola secara konsisten, genre ini berpotensi menjadi identitas baru yang memperkaya peta musik Indonesia, sekaligus membuka peluang bagi karya-karya dari Timur untuk berbicara lebih lantang di panggung nasional dan internasional.
















































