Home News Wisata Religi hingga Alam Jadi Fokus, Indonesia–Aljazair Siapkan Kolaborasi Strategis

Wisata Religi hingga Alam Jadi Fokus, Indonesia–Aljazair Siapkan Kolaborasi Strategis

34
0
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyambut Ketua Majelis Rakyat Nasional Aljazair Mohamed Yazid Benhemmouda di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyambut Ketua Majelis Rakyat Nasional Aljazair Mohamed Yazid Benhemmouda di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (21/1/2026). Foto: Dok. Kemenpar

Hi Urbie’s,
upaya Indonesia untuk memperluas jangkauan pasar pariwisata global terus bergerak ke arah yang semakin strategis. Tak hanya berfokus pada pasar tradisional seperti Asia dan Eropa, Indonesia kini mulai menaruh perhatian lebih besar pada kawasan Afrika Utara. Langkah ini tercermin dari pertemuan antara Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dengan delegasi Majelis Rakyat Nasional (APN) Aljazair yang berlangsung di Gedung Sapta Pesona, Jakarta.

Pertemuan yang digelar pada 21 Januari 2026 tersebut menjadi momen awal penjajakan kerja sama pariwisata antara kedua negara. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa secara langsung menyambut Ketua APN Aljazair Mohamed Yazid Benhemmouda beserta jajaran delegasi dan perwakilan Kedutaan Besar Aljazair. Lebih dari sekadar kunjungan diplomatik, pertemuan ini membawa misi besar: membuka peluang kolaborasi yang berdampak langsung bagi masyarakat dan pelaku industri pariwisata.

Menurut Ni Luh Puspa, kerja sama ini berpotensi memberikan manfaat nyata, mulai dari pelaku UMKM, pemandu wisata lokal, hingga investor yang tertarik mengembangkan sektor pariwisata berkelanjutan. Data pascapandemi COVID-19 juga memperkuat optimisme tersebut. Arus wisatawan asal Aljazair ke Indonesia tercatat tumbuh sekitar 25 persen, sejalan dengan meningkatnya volume perdagangan antara kedua negara.

Pertumbuhan ini menjadi sinyal positif bagi Indonesia untuk memperkuat penetrasi pasar Afrika Utara. Selain itu, Aljazair dinilai memiliki potensi besar sebagai pasar wisatawan muslim yang relevan dengan karakter destinasi Indonesia. Dalam konteks ini, pengembangan wisata halal, wisata religi, serta wisata berbasis budaya menjadi titik temu kepentingan kedua negara.

Ni Luh Puspa menegaskan bahwa peluang kerja sama tidak hanya berhenti pada promosi destinasi. Transfer pengetahuan juga menjadi agenda penting, terutama melalui keberadaan enam politeknik pariwisata di bawah naungan Kementerian Pariwisata. Institusi pendidikan ini dapat menjadi jembatan pertukaran keahlian dan pengembangan sumber daya manusia pariwisata antara Indonesia dan Aljazair.

Baca Juga:

Dari sisi Aljazair, ketertarikan mereka terhadap pengalaman Indonesia dalam mengelola wisata religi dan wisata alam menjadi sorotan utama. Dua sektor ini juga tengah dikembangkan secara serius di Aljazair, sehingga membuka ruang kolaborasi yang saling melengkapi. Indonesia dengan karakter negara maritimnya, dan Aljazair sebagai negara kontinental dengan lanskap gurun, menawarkan kombinasi pengalaman wisata yang unik dan beragam.

Kesamaan visi juga terlihat dalam pengembangan wisata budaya. Kedua negara sama-sama memiliki kekayaan tradisi, sejarah, dan identitas budaya yang kuat. Kolaborasi di sektor ini dinilai mampu memperkaya narasi pariwisata sekaligus menarik minat wisatawan yang mencari pengalaman autentik dan bermakna.

Sementara itu, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata Martini Mohammad Paham menyampaikan bahwa meskipun kerja sama masih berada pada tahap awal, fondasi yang dibangun melalui pertemuan ini sangat penting. Ke depan, arah kerja sama akan difokuskan pada dukungan kebijakan dari badan legislatif dan parlemen kedua negara, serta penciptaan iklim investasi yang kondusif.

Langkah ini diharapkan dapat mendorong pengusaha dan investor untuk membangun ekosistem pariwisata yang berdaya saing global, sekaligus berkelanjutan. Dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis kebijakan, Indonesia dan Aljazair berpeluang menciptakan model kerja sama pariwisata yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memperkuat hubungan antarbangsa.

Bagi Urbie’s, langkah diplomasi pariwisata ini menunjukkan bahwa masa depan pariwisata Indonesia semakin inklusif dan terbuka terhadap pasar-pasar baru. Afrika Utara bukan lagi sekadar alternatif, melainkan bagian dari strategi besar untuk memperluas pengaruh pariwisata Indonesia di panggung global.