Hi Urbie’s,
Prestasi pelajar Indonesia kembali mencuri perhatian di panggung dunia. Kali ini datang dari Banyuwangi, Jawa Timur, lewat capaian gemilang siswa MTsN 3 Banyuwangi yang sukses mengharumkan nama Indonesia dalam ajang internasional. Akmal Hakim Arifuddin, salah satu siswa madrasah tersebut, berhasil meraih medali emas dalam kompetisi World Youth STEM Invention & Innovation (WYSII) 2026 yang diselenggarakan di Thailand. Raihan ini bukan hanya soal kemenangan personal, tetapi juga penegasan bahwa potensi riset pelajar daerah mampu bersaing secara global.
Ajang WYSII dikenal sebagai kompetisi bergengsi yang mempertemukan pelajar dari berbagai negara dengan fokus pada bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika. Penilaian tidak hanya berfokus pada kecanggihan konsep, tetapi juga pada kreativitas, kebaruan riset, serta relevansi inovasi terhadap kebutuhan nyata masyarakat. Dalam konteks inilah, keberhasilan Akmal menjadi bukti konkret bahwa riset pelajar Indonesia tidak kalah kualitasnya dibandingkan negara lain.
Capaian tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Anggota Komisi VIII DPR RI, Ina Ammalia. Menurutnya, medali emas yang diraih Akmal seharusnya dibaca lebih dalam dari sekadar prestasi lomba. Ia menilai riset yang dikembangkan oleh pelajar muda seperti Akmal memiliki potensi besar untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat jika mendapatkan pendampingan dan pengembangan berkelanjutan. Ina menegaskan bahwa anak-anak muda Indonesia mampu berkompetisi bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai inovator dengan kualitas riset yang mumpuni.
Prestasi ini juga memperlihatkan wajah lain dari pendidikan madrasah yang sering kali dipandang sebelah mata dalam diskursus sains dan teknologi. MTsN 3 Banyuwangi justru menunjukkan bahwa dengan ekosistem pendidikan yang tepat, madrasah mampu melahirkan talenta riset yang berdaya saing internasional. Kepala MTsN 3 Banyuwangi, Kholik Masduki, menegaskan komitmen sekolahnya untuk terus mendorong siswa mengembangkan riset yang kontekstual, aplikatif, dan memiliki dampak sosial.
Baca Juga:
- Gandeng Tohpati Orchestra dan Iwa K, Konser “Vintage Sounds” Ajak Pecinta Musik 80-90an Nostalgia di Jakarta
- China Puncaki Negara dengan Rata-Rata IQ Tertinggi Dunia, Indonesia di Peringkat Berapa?
- Rute Baru TransJakarta Blok M–Soetta Siap Dibuka, Solusi Nyaman ke Bandara Tanpa Ribet
Menurut Kholik, keberhasilan Akmal tidak berdiri sendiri. Ia merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan pembinaan intensif, dukungan sekolah, serta keterlibatan aktif orang tua. Lingkungan pendidikan yang kondusif menjadi kunci dalam menumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian bereksperimen, dan semangat inovasi pada siswa. Sekolah tidak hanya berperan sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang aman untuk mengembangkan gagasan dan riset sejak usia dini.
Selain Akmal, MTsN 3 Banyuwangi juga memiliki siswa berprestasi lainnya yang tak kalah membanggakan. Reyno Felix Altair Hidayat, misalnya, berhasil meraih medali perak pada ajang International Junior Science Olympiad (IJSO) 2025. Capaian ini semakin menguatkan posisi MTsN 3 Banyuwangi sebagai salah satu madrasah dengan fokus kuat pada pengembangan sains dan riset pelajar.
Kholik menambahkan bahwa prestasi-prestasi tersebut merupakan hasil kerja sama erat antara sekolah, komite sekolah, dan wali murid. Peran orang tua tidak hanya sebatas pendukung moral, tetapi juga menjadi mitra strategis dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang partisipatif dan berorientasi pada pengembangan potensi siswa. Kolaborasi ini dinilai penting untuk memastikan bahwa bakat dan minat siswa dapat terfasilitasi secara optimal.
Lebih jauh, capaian ini membuka diskusi lebih luas tentang pentingnya dukungan berkelanjutan terhadap riset pelajar di Indonesia. Banyak inovasi lahir dari ide-ide sederhana anak muda yang dekat dengan persoalan di sekitarnya. Jika difasilitasi dengan baik, riset pelajar tidak hanya berhenti pada ajang kompetisi, tetapi dapat berkembang menjadi solusi nyata bagi masyarakat.
Prestasi Akmal dan rekan-rekannya menjadi pengingat bahwa masa depan sains dan inovasi Indonesia tidak hanya bertumpu pada pusat-pusat pendidikan besar di kota metropolitan. Dari Banyuwangi, sebuah madrasah negeri membuktikan bahwa kualitas, kerja keras, dan kolaborasi mampu menembus batas geografis dan bersaing di level dunia. Bagi Urbie’s, kisah ini menjadi inspirasi bahwa potensi besar bisa lahir dari mana saja, selama diberi ruang untuk tumbuh.



















































