Hi Urbie’s,
Tren “anti-pensiun” di Korea Selatan semakin nyata dan kini bukan lagi sekadar fenomena sesaat. Data terbaru menunjukkan bahwa tingkat pekerjaan penduduk usia 55–64 tahun di Negeri Ginseng untuk pertama kalinya melampaui angka 70 persen sejak statistik resmi mulai dicatat pada 1983. Fakta ini menandai perubahan besar dalam lanskap ketenagakerjaan Korea Selatan, sekaligus mencerminkan transformasi sosial dan ekonomi yang sedang berlangsung di tengah masyarakat yang semakin menua.
Berdasarkan laporan Kementerian Ketenagakerjaan dan Perburuhan Korea Selatan, tingkat pekerjaan kelompok usia 55–64 tahun pada 2025 diperkirakan mencapai 70,5 persen, naik 0,6 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 69,9 persen. Angka ini menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya rasio pekerja lansia menembus kisaran 70 persen. Indikator tersebut merepresentasikan proporsi penduduk usia lanjut yang benar-benar bekerja dan memperoleh penghasilan, bukan sekadar terdaftar sebagai angkatan kerja.
Jika ditarik ke belakang, tren ini menunjukkan pola peningkatan yang konsisten. Tingkat pekerjaan lansia sempat bertahan di kisaran 60 persen sejak 2007, lalu meningkat menjadi 64,4 persen pada 2013. Pada 2022, angkanya mencapai 68,8 persen dan terus bergerak naik hingga hari ini. Pemerintah Korea Selatan menilai lonjakan ini sebagai tren struktural, bukan fluktuasi sementara akibat kondisi ekonomi tertentu. Dengan kata lain, bekerja di usia lanjut kini menjadi bagian dari pola hidup baru masyarakat Korea.
Menariknya, peningkatan jumlah pekerja lansia ini juga diiringi dengan penurunan tingkat pengangguran. Untuk kelompok usia 55–64 tahun, tingkat pengangguran diperkirakan turun dari 2,4 persen pada 2024 menjadi 2,1 persen pada 2025. Ini menjadi rekor terendah baru dan melanjutkan tren penurunan yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Artinya, semakin banyak lansia yang ingin bekerja dan benar-benar terserap oleh pasar kerja.
Selain itu, tingkat partisipasi ekonomi lansia juga mencetak rekor baru. Pada tahun lalu, angka partisipasi ekonomi penduduk usia 55 tahun ke atas mencapai 72,0 persen, melampaui capaian 2024 yang berada di 71,6 persen. Indikator ini mencakup mereka yang sudah bekerja maupun yang sedang aktif mencari pekerjaan. Kenaikan ini menunjukkan bahwa lansia di Korea Selatan tidak hanya bertahan di dunia kerja, tetapi juga semakin proaktif dalam menjaga peran ekonominya.
Baca Juga:
- Gandeng Tohpati Orchestra dan Iwa K, Konser “Vintage Sounds” Ajak Pecinta Musik 80-90an Nostalgia di Jakarta
- China Puncaki Negara dengan Rata-Rata IQ Tertinggi Dunia, Indonesia di Peringkat Berapa?
- Rute Baru TransJakarta Blok M–Soetta Siap Dibuka, Solusi Nyaman ke Bandara Tanpa Ribet
Fenomena “anti-pensiun” ini tidak bisa dilepaskan dari beberapa faktor utama. Pertama, penuaan populasi menjadi tantangan serius bagi Korea Selatan. Dengan tingkat kelahiran yang sangat rendah, jumlah penduduk usia produktif terus menyusut, sementara populasi lansia meningkat pesat. Kondisi ini memaksa pasar kerja untuk tetap mengandalkan tenaga kerja senior demi menjaga stabilitas ekonomi.
Kedua, meningkatnya biaya hidup membuat banyak lansia memilih untuk terus bekerja. Pensiun saja tidak selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama di kota besar seperti Seoul yang biaya hidupnya tinggi. Bekerja di usia lanjut menjadi strategi untuk mempertahankan kualitas hidup sekaligus menjaga kemandirian finansial.
Ketiga, kekurangan tenaga kerja di berbagai sektor mendorong perusahaan membuka peluang lebih luas bagi pekerja senior. Banyak industri, terutama sektor jasa dan manufaktur ringan, mulai menyadari nilai pengalaman dan etos kerja yang dimiliki pekerja lansia. Pemerintah pun aktif mendorong kebijakan ketenagakerjaan yang ramah usia, termasuk pelatihan ulang dan penyesuaian lingkungan kerja.
Ke depan, pemerintah Korea Selatan meyakini bahwa masyarakat di mana lansia terus aktif bekerja akan semakin umum. Bukan hanya sebagai solusi ekonomi, tetapi juga sebagai cara menjaga kesehatan mental dan sosial para senior. Tren ini sekaligus menantang pandangan lama tentang usia pensiun, bahwa produktivitas tidak selalu harus berhenti di usia tertentu.
Bagi Urbie’s, fenomena “anti-pensiun” di Korea Selatan bisa menjadi cerminan bagaimana dunia kerja global sedang berubah. Di tengah tantangan demografi dan ekonomi, usia bukan lagi penghalang utama untuk tetap relevan dan produktif. Justru, pengalaman dan ketahanan mental menjadi aset berharga yang semakin dicari.



















































