Home Entertainment Britney Spears Diam-Diam Lepas Katalog Musiknya ke Primary Wave, Apa yang Sebenarnya...

Britney Spears Diam-Diam Lepas Katalog Musiknya ke Primary Wave, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

140
0
Britney Spears Diam-Diam Lepas Katalog Musiknya ke Primary Wave, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Foto: Instagram/ Britney Spears

Berdasarkan laporan Variety yang mengutip dua sumber terpercaya, Britney Spears telah mencapai kesepakatan dengan Primary Wave terkait penjualan katalog lagunya beserta sejumlah hak lain yang detailnya belum diungkap ke publik. Baik pihak Britney Spears maupun Primary Wave memilih untuk tidak memberikan komentar resmi terkait kesepakatan ini. Informasi awal mengenai transaksi tersebut pertama kali dilaporkan oleh TMZ.

Meski rincian kontrak masih tertutup rapat dan diyakini dilindungi perjanjian kerahasiaan, TMZ memperkirakan nilai kesepakatan tersebut berada di kisaran sembilan digit angka. Angka fantastis ini sejalan dengan tren yang belakangan marak terjadi di industri musik, di mana katalog lagu dari musisi legendaris menjadi aset investasi bernilai tinggi bagi perusahaan pengelola hak musik.

Laporan TMZ juga menyebutkan bahwa Britney menjual “bagian kepemilikannya atas katalognya” kepada Primary Wave. Harga pasti tidak tercantum dalam dokumen hukum yang dilihat oleh media tersebut. Namun, besar kemungkinan bahwa kesepakatan ini mencakup royalti artis serta hak penerbitan lagu, dua komponen utama yang biasanya menjadi inti dalam transaksi katalog musik.

Britney Spears sendiri tercatat memiliki kredit penulisan lagu pada hampir 40 lagu dalam katalog musiknya. Meski tidak semuanya merupakan hit raksasa, beberapa karya tersebut memiliki nilai historis dan emosional yang kuat bagi penggemar. Balada “Everytime” menjadi salah satu lagu paling personal dalam kariernya, sementara lagu-lagu seperti “Me Against the Music”, “Work Bitch!”, hingga kolaborasinya di “S&M” tetap menjadi favorit penggemar dan kerap diputar di berbagai platform hingga hari ini.

Sementara itu, hak NIL (name, image, and likeness) atau hak atas nama dan citra Britney Spears tampaknya tidak termasuk dalam kesepakatan ini. Jika pun disertakan, nilainya diyakini akan jauh melampaui estimasi harga yang saat ini beredar. Hal ini membuka kemungkinan bahwa Britney masih memegang kendali atas penggunaan citra dan identitasnya secara komersial di masa depan.

Baca Juga:

Penjualan katalog ini juga datang di tengah potensi eksploitasi kreatif dari karya-karya Britney. Film biografi yang diadaptasi dari memoarnya, The Woman in Me, sedang dalam tahap pengembangan oleh Universal Pictures dan dijadwalkan tayang pada 2024. Selain itu, musikal jukebox berbasis lagu-lagu hits Britney berjudul Once Upon a One More Time telah lebih dulu tayang perdana di Broadway pada 2023, menandakan bahwa katalog lagunya masih memiliki daya tarik kuat di ranah hiburan lintas medium.

Urbie’s mungkin juga menyadari bahwa Britney sudah cukup lama absen dari dunia musik dan panggung konser. Album terakhirnya, Glory, dirilis pada 2016. Penampilan konser terakhirnya berlangsung pada Oktober 2018, menutup tur residensi Piece of Me dengan pertunjukan di Formula One Grand Prix, Austin, Texas. Rencana residensi keduanya di Las Vegas bertajuk Domination yang dijadwalkan pada 2019 akhirnya dibatalkan, bersamaan dengan keputusannya untuk berhenti tampil dalam waktu yang tidak ditentukan.

Setelah dibebaskan dari perwalian selama 13 tahun pada 2021, Britney memilih menjalani hidup dengan profil publik yang lebih rendah. Meski begitu, ia tetap aktif di media sosial, kerap membagikan video menari dan catatan reflektif tentang proses penyembuhan dirinya. Sekitar sebulan lalu, ia bahkan sempat memupus harapan penggemar soal tur konser di Amerika Serikat dengan menyatakan bahwa ia tidak akan pernah tampil di AS lagi karena alasan yang sangat sensitif, meski masih membuka kemungkinan tampil di Inggris dan Australia.

Keputusan menjual katalog musik ke Primary Wave bisa dibaca sebagai langkah strategis Britney Spears untuk mengamankan nilai ekonomis dari warisan musiknya, sekaligus memberi ruang bagi dirinya untuk melangkah ke fase hidup yang lebih personal dan bebas. Bagi Urbie’s, langkah ini bukan sekadar transaksi bisnis, melainkan potret perjalanan seorang ikon pop yang terus berusaha mengendalikan narasi hidup dan karyanya sendiri.