Urbie’s, kabar inspiratif datang dari dunia kemanusiaan dan pendidikan anak. UNICEF Indonesia secara resmi mengumumkan penunjukan Cinta Laura Kiehl sebagai Duta Nasional terbaru dalam sebuah acara bersama media yang digelar di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Momentum ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi penegasan penting bahwa figur publik memiliki peran strategis dalam menggerakkan dukungan luas untuk memperjuangkan hak dan kesejahteraan anak di Indonesia.
Penunjukan Cinta Laura sebagai Duta Nasional UNICEF Indonesia memperkuat kolaborasi antara organisasi global tersebut dengan tokoh muda yang memiliki pengaruh besar di kalangan masyarakat. Selama ini, Cinta dikenal bukan hanya sebagai aktris dan akademisi, tetapi juga sebagai sosok yang vokal menyuarakan isu sosial, pendidikan, dan pemberdayaan generasi muda. Komitmennya terhadap isu-isu yang berdampak pada anak dan remaja bukan hal baru.
Sebelum resmi menyandang peran ini, Cinta Laura telah mendukung berbagai inisiatif UNICEF, termasuk kampanye pencegahan perkawinan usia anak dan pemenuhan hak atas pendidikan. Dengan jangkauan publik yang luas serta kredibilitas yang telah dibangun selama bertahun-tahun, Cinta dinilai mampu menjadikan isu hak anak sebagai bagian dari percakapan sehari-hari masyarakat Indonesia. Ia juga bertekad memperkuat suara anak-anak dan kaum muda agar lebih didengar dalam ruang-ruang pengambilan keputusan.
Komitmen tersebut semakin kuat setelah kunjungannya bersama UNICEF ke Asmat, Papua, pada akhir 2025. Di wilayah terpencil tersebut, Cinta menyaksikan langsung berbagai tantangan yang dihadapi anak-anak dan keluarga, mulai dari keterbatasan fasilitas kesehatan, akses pendidikan, hingga persoalan gizi dan perlindungan anak. Namun di balik segala keterbatasan itu, ia juga melihat potensi besar yang dimiliki anak-anak di sana.
“Buat aku, penunjukan sebagai Duta Nasional UNICEF Indonesia ini adalah tanggung jawab moral yang sangat personal. Aku selalu percaya bahwa potensi itu tersebar rata, tapi sayang, kesempatannya seringkali tidak,” ujar Cinta Laura.
Pengalaman di Asmat menjadi titik refleksi yang mendalam baginya. Ia mengaku tersentuh melihat kecerdasan dan ketangguhan anak-anak Papua meskipun hidup dengan fasilitas yang sangat terbatas. Momen tersebut mempertegas keyakinannya bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan penuh kasih.
Baca Juga:
- Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026: Fenomena Langit Langka yang Sayangnya Tak Terlihat di Indonesia
- Zodiak Percintaan 2026: Prediksi Cinta & Tips Jaga Hubungan Tetap Nyaman
- Jejak Bukbermu: Ramadan, Bukber dan Cerita Kebersamaan
“Saat aku turun ke Asmat, Papua, aku melihat sendiri betapa cerdas dan tangguhnya anak-anak di sana, meskipun fasilitas mereka sangat terbatas. Momen itu menampar sekaligus membakar semangat aku untuk memastikan hak fundamental mereka terpenuhi: hak untuk tumbuh aman, sehat, dan penuh kasih. Bersama UNICEF, kita harus mempercepat langkah untuk menutup celah ini. Kita perlu membangun ekosistem di mana setiap anak punya garis start yang sama, sehingga tidak ada satu pun anak yang tertinggal dari masa depan yang layak mereka dapatkan,” lanjutnya.
Di sisi lain, Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Maniza Zaman, menyambut hangat bergabungnya Cinta Laura dalam keluarga besar Duta UNICEF global. Ia menegaskan bahwa figur publik memiliki kemampuan unik untuk menjembatani isu-isu kompleks menjadi pesan yang lebih mudah dipahami dan diterima masyarakat luas.
Menurut Maniza, kehadiran Cinta membawa ketulusan dan keinginan nyata untuk terlibat langsung dengan realitas kehidupan anak-anak Indonesia. UNICEF pun menantikan kemitraan yang bermakna ini untuk bersama-sama menyoroti tantangan, kemajuan, serta solusi konkret yang dibutuhkan demi memastikan setiap anak memperoleh haknya.
Sebagai Duta Nasional, Cinta Laura akan mendukung berbagai upaya advokasi UNICEF Indonesia. Fokus utamanya mencakup isu pendidikan yang inklusif, perlindungan anak dari kekerasan dan eksploitasi, pemberdayaan perempuan muda, hingga aksi iklim yang berdampak langsung pada masa depan generasi berikutnya. Suaranya diharapkan mampu mendorong aksi kolektif, baik dari pemerintah, sektor swasta, komunitas, maupun individu.
Penunjukan ini juga memiliki makna simbolis karena dilakukan menjelang peringatan 80 tahun UNICEF secara global pada Desember 2026. Delapan dekade perjalanan UNICEF menjadi pengingat bahwa perjuangan melindungi dan memperjuangkan hak anak adalah komitmen jangka panjang yang memerlukan kolaborasi lintas sektor dan generasi.
Bagi Urbie’s, langkah ini menjadi pengingat bahwa perubahan sosial tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi juga dari keberanian untuk bersuara dan bertindak. Dengan Cinta Laura sebagai Duta Nasional UNICEF Indonesia, harapannya semakin kuat: tak ada lagi anak yang tertinggal, dan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang setara untuk bermimpi serta meraih masa depan yang layak.
Di tengah tantangan global dan nasional, kolaborasi seperti ini menjadi bukti bahwa harapan tetap ada. Ketika potensi anak-anak Indonesia didukung oleh kesempatan yang adil, masa depan bangsa pun ikut diperkuat.



















































