Home Entertainment “Vintage Sounds” ArtSwara Hidupkan Kembali Era Emas 80–90an dalam Megahnya Big Band...

“Vintage Sounds” ArtSwara Hidupkan Kembali Era Emas 80–90an dalam Megahnya Big Band di Ciputra Artpreneur

84
0
“Vintage Sounds” ArtSwara Hidupkan Kembali Era Emas 80–90an dalam Megahnya Big Band di Ciputra Artpreneur
“Vintage Sounds” ArtSwara Hidupkan Kembali Era Emas 80–90an dalam Megahnya Big Band di Ciputra Artpreneur. Foto: istimewa

Urbie’s, ada yang berbeda di panggung Ciputra Artpreneur pada Selasa malam (17/2). Auditorium megah itu berubah menjadi mesin waktu yang membawa penonton kembali ke era emas musik pop Indonesia lewat pergelaran “Vintage Sounds” persembahan ArtSwara. Live Variety Show ini bukan sekadar konser nostalgia, melainkan sebuah perayaan lintas generasi yang dikemas dengan standar musikalitas tinggi dan konsep artistik yang matang.

Sejak awal pertunjukan, atmosfer 80 hingga 90-an langsung terasa kuat. Lagu-lagu legendaris yang pernah mengisi ruang keluarga, radio mobil, hingga panggung festival di masa itu kembali bergema dengan aransemen segar tanpa kehilangan ruh aslinya. Di balik kesuksesan malam tersebut, berdiri sosok Maera selaku Produser Eksekutif sekaligus penggagas acara. Ia meramu “Vintage Sounds” sebagai bentuk dedikasi mendalam kepada kedua orang tuanya, sekaligus menghadirkan pengalaman emosional yang bisa dinikmati lintas usia.

Maera Bimazeno & Taufan Purbo Menyanyikan Dansa Yo Dansa, Foto: istimewa

Energi nostalgia semakin lengkap dengan kehadiran duo MC ikonik, Indy Barends dan Indra Bekti. Chemistry klasik mereka menghidupkan suasana dengan humor segar khas era 90-an. Interaksi ringan namun penuh kehangatan membuat penonton tak hanya menikmati musik, tetapi juga atmosfer kebersamaan yang jarang ditemui dalam konser-konser modern.

Malam penuh memori itu dibuka dengan gebrakan “Alam Maya”, lagu hits dari The Kids Brother yang langsung memantik sorak-sorai. Dentuman awal tersebut menjadi penanda bahwa perjalanan nostalgia resmi dimulai. Setelah beberapa komposisi enerjik, suasana berubah menjadi lebih syahdu saat segmen tribute untuk Titiek Puspa dihadirkan. Gabriel Harvianto membawakan lagu “Cinta” dengan penghayatan mendalam, menghadirkan momen haru yang membuat auditorium terdiam dan larut dalam kenangan atas kontribusi besar sang legenda bagi musik Indonesia.

Secara musikal, kekuatan utama “Vintage Sounds” terletak pada sentuhan aransemen megah dari Tohpati bersama Tohpati Orchestra. Format Big Band yang diusung menghadirkan nuansa groovy dan elegan pada lagu-lagu seperti “Selamat Datang Cinta”, “Asmaraku Asmaramu”, hingga “Cinta dan Damai”. Aransemen tersebut terasa modern, namun tetap setia pada identitas asli setiap karya. Perpaduan brass section yang solid, ritme dinamis, serta permainan gitar khas Tohpati menciptakan pengalaman audio yang kaya dan berkelas.

Baca Juga:

Kejutan lain datang dari kolaborasi lintas genre bersama Iwa K. Legenda rap Indonesia itu membuktikan bahwa musik 80–90an bisa bertransformasi tanpa kehilangan esensi. Saat membawakan “Dansa Yuk Dansa” bersama Maera, BimaZeno, dan Taufan Purbo, energi rap berpadu harmonis dengan orkestra megah, menghasilkan momen eksplosif yang membuat penonton berdiri dan ikut bergoyang.

Tak hanya dari sisi musikal, aspek visual juga digarap serius. Penampilan Gallaby yang memadukan vokal dan tarian tampil memukau, sementara seni lukis pasir Vina Candrawati menghadirkan sentuhan puitis yang memperkaya narasi pertunjukan. A Team Cheerleader pun menyuntikkan energi dinamis lewat atraksi memikat yang membuat panggung semakin hidup.

Melalui “Vintage Sounds”, ArtSwara membuktikan bahwa konser bukan hanya soal hiburan, tetapi juga medium perayaan budaya dan memori kolektif. Pertunjukan ini menunjukkan bahwa musik lintas generasi tetap relevan ketika dikemas dengan kreativitas, kualitas produksi tinggi, dan sentuhan emosional yang autentik. Bukan tidak mungkin, format live variety show seperti ini akan menjadi salah satu wajah baru industri pertunjukan Indonesia sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif yang lebih luas di masa depan.

Urbie’s, kalau nostalgia dikemas seindah ini, rasanya bukan cuma kenangan yang hidup kembali, tapi juga harapan baru bagi panggung musik Indonesia.