Hi Urbie’s, Ramadan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Ada getaran spiritual yang terasa sejak sahur pertama, ada semangat baru untuk memperbaiki diri, dan tentu saja ada satu momen penting yang tak boleh terlewat: niat puasa.
Meski terdengar sederhana, niat adalah fondasi dari sah atau tidaknya ibadah puasa. Tanpa niat, puasa tidak dianggap sah. Karena itu, memahami bacaan niat sahur puasa Ramadan beserta maknanya menjadi hal yang penting—bukan sekadar hafal lafalnya, tapi juga mengerti esensinya.
Bacaan Niat Sahur Puasa Ramadan
Berikut adalah lafal niat puasa Ramadan yang umum dibaca saat sahur:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadana hadzihis sanati lillahi ta’ala
Artinya:
“Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadan tahun ini, karena Allah Ta’ala.”
Urbie’s, kalimat ini bukan hanya rangkaian kata dalam bahasa Arab. Di dalamnya terkandung kesadaran, komitmen, dan tujuan spiritual yang mendalam. Ada unsur “kewajiban”, ada penyebutan “bulan Ramadan”, dan yang paling penting—“karena Allah Ta’ala”.
Apakah Niat Harus Diucapkan?
Dalam praktiknya, banyak orang melafalkan niat puasa secara lisan setelah sahur atau sebelum imsak. Namun, para ulama menegaskan bahwa niat sebenarnya tidak harus diucapkan secara verbal.
Secara fikih, niat cukup dihadirkan dalam hati. Selama seseorang sadar dan bertekad untuk menjalankan puasa Ramadan esok hari, maka itu sudah memenuhi syarat sah.
Pelafalan niat dipandang sebagai bentuk penegasan, agar hati lebih mantap dan pikiran lebih sadar dalam menjalankan ibadah. Jadi, jika Urbie’s terbiasa membaca niat dengan suara pelan setelah sahur, itu bukan kewajiban mutlak, melainkan bentuk kehati-hatian dan penguatan batin.
Mengapa Niat Begitu Penting?
Dalam ajaran Islam, setiap amal bergantung pada niatnya. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan ibadah yang penuh makna spiritual. Tanpa niat, aktivitas menahan diri sepanjang hari hanya akan menjadi rutinitas biasa.
Niat membedakan antara orang yang sedang diet dengan orang yang sedang berpuasa. Secara fisik mungkin terlihat sama—tidak makan dan tidak minum—namun secara spiritual berbeda jauh.
Di situlah letak kekuatan niat: ia menjadi pembeda antara kebiasaan dan ibadah.
Baca Juga:
- Karya Upie Guava, Rilis Trailer Pelangi di Mars, Petualangan Sci-Fi Karya Anak Bangsa yang Siap Tayang
- Tren Anti-Pensiun di Korea Selatan, Tingkat Pekerjaan Lansia Tembus 70 Persen
- Lagi Ulang Tahun Kok Malah Sedih? Mengenal Fenomena Birthday Blues
Waktu Membaca Niat Puasa Ramadan
Urbie’s, niat puasa Ramadan dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar. Artinya, niat bisa dihadirkan sejak setelah salat Isya hingga sebelum waktu Subuh tiba.
Sebagian ulama menganjurkan untuk memperbarui niat setiap malam Ramadan. Namun ada pula pendapat yang membolehkan niat di awal Ramadan untuk satu bulan penuh, selama tidak terputus oleh hal-hal yang membatalkan puasa seperti sakit atau safar.
Meski begitu, memperbarui niat setiap malam tetap menjadi kebiasaan yang lebih aman dan dianjurkan. Selain menjaga keabsahan ibadah, kebiasaan ini juga membantu menjaga kesadaran spiritual setiap hari.
Sahur dan Niat: Dua Momen yang Tak Terpisahkan
Sahur sering dianggap sekadar waktu makan sebelum Subuh. Padahal, sahur adalah bagian dari sunnah yang sangat dianjurkan. Di momen inilah niat puasa biasanya dihadirkan.
Bayangkan suasana sahur: udara masih dingin, suasana sunyi, sebagian orang masih mengantuk. Namun di balik itu, ada percakapan batin antara hamba dan Tuhannya. Ada tekad untuk menjalani hari tanpa makan dan minum, menahan amarah, menjaga lisan, serta memperbanyak ibadah.
Di titik itu, niat menjadi pengikat antara tubuh dan ruh.
Jangan Terjebak Formalitas
Urbie’s, penting untuk diingat bahwa niat bukan sekadar hafalan. Banyak orang bisa melafalkan kalimat Arab dengan lancar, tetapi kurang memahami maknanya.
Padahal, inti niat adalah kesadaran. Saat membaca atau menghadirkan niat dalam hati, cobalah untuk benar-benar menyadari bahwa puasa yang dijalankan adalah kewajiban dari Allah, bukan sekadar tradisi tahunan.
Dengan begitu, Ramadan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga perjalanan spiritual yang bermakna.
Ramadan sebagai Momentum Perbaikan Diri
Setiap Ramadan adalah kesempatan baru. Kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan memperbaiki kualitas diri.
Dan semuanya dimulai dari niat.
Niat yang tulus akan memengaruhi cara kita menjalani hari. Orang yang berniat puasa karena Allah akan lebih berhati-hati dalam berkata, lebih sabar dalam menghadapi ujian, dan lebih ringan dalam berbuat kebaikan.
Urbie’s, sebelum fajar menyingsing dan azan Subuh berkumandang, sempatkan sejenak untuk menghadirkan niat dalam hati. Tak perlu panjang, tak harus keras. Cukup sadar dan tulus.
Karena pada akhirnya, puasa bukan hanya tentang menahan lapar—melainkan tentang menata hati.



















































