Home Health Dari Ritual Penyucian Diri ke Penggerak Ekonomi: Tradisi Blangikhan Lampung Makin Mendunia

Dari Ritual Penyucian Diri ke Penggerak Ekonomi: Tradisi Blangikhan Lampung Makin Mendunia

90
0
Dari Ritual Penyucian Diri ke Penggerak Ekonomi: Tradisi Blangikhan Lampung Makin Mendunia
Dari Ritual Penyucian Diri ke Penggerak Ekonomi: Tradisi Blangikhan Lampung Makin Mendunia. Foto: istimewa

Urbie’s, pariwisata Indonesia terus menunjukkan taringnya, bukan hanya lewat destinasi alam yang memesona, tapi juga melalui kekuatan budaya yang mengakar kuat di masyarakat. Salah satu buktinya terlihat dalam penyelenggaraan Tradisi Blangikhan di Lampung Tengah yang mendapat apresiasi langsung dari Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa.

Dalam kunjungannya ke Nuwo Balak, Lampung Tengah, pada 18 Februari 2026, Wamenpar menegaskan bahwa pengembangan pariwisata berbasis budaya dan spiritual merupakan bagian penting dari strategi nasional pariwisata Indonesia. Menurutnya, budaya bukan sekadar pelengkap, melainkan napas utama dari pariwisata berkualitas yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Tradisi Blangikhan, atau yang juga dikenal sebagai Blangiran, merupakan ritual penyucian diri yang dilakukan masyarakat Lampung sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Prosesi ini dilakukan dengan penyiraman air dari tujuh mata air, sebagai simbol pembersihan lahir dan batin. Nilai spiritual yang terkandung di dalamnya mengajak masyarakat untuk memperbaiki hubungan sosial, memperkuat kesiapan mental, serta menata diri sebelum menjalankan ibadah puasa.

Tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah warisan turun-temurun yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2019 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penetapan tersebut menjadi pengakuan bahwa kearifan lokal memiliki nilai strategis dalam pembangunan bangsa, termasuk dalam sektor pariwisata.

Wamenpar Ni Luh Puspa menekankan bahwa Blangikhan menjadi contoh konkret bagaimana pariwisata bisa tumbuh dari inisiatif masyarakat. Keterlibatan pelaku UMKM dalam setiap rangkaian acara turut memperkuat dampak ekonominya. Produk-produk lokal yang hadir dalam perayaan budaya ini membuktikan bahwa tradisi mampu menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus ruang pemberdayaan warga.

Baca Juga:

Secara nasional, sektor pariwisata memang tengah berada dalam tren positif. Sepanjang 2025, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 15,39 juta kunjungan atau tumbuh 10,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara pergerakan wisatawan nusantara menyentuh angka 1,20 miliar perjalanan, meningkat 17,55 persen. Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto nasional pun mencapai 3,97 persen, dengan dampak total yang bisa menembus hingga Rp1.143 triliun jika memperhitungkan efek bergandanya.

Tak hanya itu, pengakuan global terhadap pariwisata Indonesia juga semakin kuat. Salah satunya terlihat dari penetapan Desa Wisata Pemuteran di Buleleng, Bali sebagai salah satu desa wisata terbaik dunia oleh UN Tourism. Capaian ini menegaskan bahwa daya saing Indonesia bertumpu pada budaya, tradisi, serta nilai luhur yang diwariskan lintas generasi.

Di tingkat daerah, Provinsi Lampung kini menempati posisi ke-9 dalam daftar wilayah dengan kontribusi kunjungan wisatawan terbanyak di Indonesia. Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, menyampaikan bahwa pihaknya tengah mendorong penguatan ekosistem pariwisata yang lebih terintegrasi, termasuk rencana pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus untuk menarik investasi dan mempercepat pertumbuhan kawasan.

Kolaborasi menjadi kunci. Kementerian Pariwisata membuka ruang sinergi bersama pemerintah daerah, komunitas, hingga masyarakat agar Tradisi Blangikhan dapat dikembangkan sebagai agenda tahunan yang semakin berkualitas dan berkelanjutan. Harapannya, potensi pariwisata Lampung lainnya juga dapat teridentifikasi dan dikembangkan secara terintegrasi.

Urbie’s, Tradisi Blangikhan membuktikan bahwa masa depan pariwisata Indonesia tidak selalu harus dimulai dari hal yang besar dan modern. Justru dari akar budaya, dari nilai spiritual yang dijaga masyarakat, lahir kekuatan yang mampu mendorong kesejahteraan bersama. Ketika tradisi dan ekonomi berjalan beriringan, di situlah pariwisata berkelanjutan menemukan bentuk nyatanya.