Home Highlight Mustaqeem, Remaja Kalcer di AS yang Viral Usai Jadi Imam Salat Jumat...

Mustaqeem, Remaja Kalcer di AS yang Viral Usai Jadi Imam Salat Jumat di Sekolahnya

118
0
Mustaqeem, Remaja Kalcer di AS yang Viral Usai Jadi Imam Salat Jumat di Sekolahnya
Foto: Instagram/itsmustaqeemz

Di tengah perbincangan soal toleransi dan keberagaman di berbagai belahan dunia, kisah seorang remaja bernama Mustaqeem di Amerika Serikat sukses mencuri perhatian publik. Urbie’s, cerita ini datang dari SMA Portola di Orange County, California, yang setiap minggunya mengubah sebagian area kampus menjadi ruang khusus untuk pelaksanaan salat Jumat. Di sanalah Mustaqeem, seorang siswa Muslim, berdiri di depan jemaah sebagai imam dengan suara merdu dan penuh ketenangan.

Rekaman dirinya saat memimpin salat Jumat dengan cepat menyebar di media sosial. Banyak warganet yang tersentuh melihat kepercayaan diri dan keteduhan yang terpancar dari sosok remaja tersebut. Namun bukan hanya soal suaranya yang indah, perhatian publik juga tertuju pada budaya sekolah yang memberikan ruang aman dan suportif bagi siswa Muslim untuk menjalankan ibadahnya tanpa harus meninggalkan lingkungan sekolah.

Setiap pekan, SMA Portola memang menyediakan fasilitas bagi siswa Muslim untuk berkumpul, berdoa, serta mendengarkan khutbah Jumat. Inisiatif ini menjadi bukti nyata bahwa praktik keagamaan dapat berjalan berdampingan dengan sistem pendidikan modern. Lingkungan sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang bertumbuh secara spiritual.

Mustaqeem bukan sosok yang muncul begitu saja. Ia merupakan bagian dari Muslim Student Association (MSA), organisasi siswa Muslim yang aktif di sekolah tersebut. MSA secara rutin menyelenggarakan pertemuan, diskusi, hingga pelaksanaan khutbah dan salat Jumat sebagai bagian dari program klub resmi sekolah. Kehadiran organisasi ini menunjukkan bagaimana kepemimpinan siswa dapat berkembang secara positif ketika didukung oleh institusi pendidikan.

Baca Juga:

Bagi banyak orang, terutama komunitas Muslim minoritas di Amerika Serikat, momen seperti ini terasa begitu berarti. Ketika seorang siswa diberi kesempatan untuk menjadi imam di lingkungan sekolahnya sendiri, itu bukan sekadar soal ibadah. Itu adalah simbol pengakuan, rasa hormat, dan inklusi. Sekolah tidak hanya mengizinkan, tetapi juga memfasilitasi ekspresi keagamaan sebagai bagian dari identitas siswa.

Respons positif pun mengalir deras di media sosial. Banyak yang memuji keberanian Mustaqeem tampil di depan umum, apalagi di usia remaja. Tak sedikit pula yang menyoroti bagaimana budaya sekolah yang inklusif mampu menciptakan generasi muda yang percaya diri dan siap melayani komunitasnya.

Urbie’s, kisah Mustaqeem menjadi pengingat bahwa ruang inklusif bisa dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk sekolah. Ketika institusi pendidikan memberi ruang bagi keberagaman, siswa akan merasa dihargai sepenuhnya—bukan hanya sebagai pelajar, tetapi juga sebagai individu dengan identitas dan keyakinan.

Di era digital saat ini, satu video sederhana bisa menyebarkan pesan besar. Dalam kasus Mustaqeem, pesan itu adalah tentang harmoni, kepemimpinan, dan keberanian menjadi diri sendiri. Di tengah dunia yang sering kali dipenuhi perbedaan pandangan, cerita seperti ini menjadi angin segar yang menegaskan bahwa toleransi bukan sekadar wacana, melainkan praktik nyata yang bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga kisah Mustaqeem bisa menginspirasi lebih banyak sekolah dan komunitas untuk menciptakan ruang yang aman, suportif, dan menghargai keberagaman. Karena pada akhirnya, pendidikan terbaik adalah yang mampu merangkul semua identitas tanpa menghilangkan jati diri siapa pun.