Home Travel Survei Ungkap Jepang Peringkat Pertama Destinasi Solo Travel 2026 dan Tren Slow...

Survei Ungkap Jepang Peringkat Pertama Destinasi Solo Travel 2026 dan Tren Slow Travel Kian Populer

19
0
Survei Ungkap Jepang Peringkat Pertama Destinasi Solo Travel 2026 dan Tren Slow Travel Kian Populer
Foto ilustrasi: freepik

Pada tahun 2026, Jepang resmi menduduki peringkat pertama sebagai negara terbaik untuk pelancong solo versi survei perusahaan perjalanan asal Amerika Serikat, FTLO Travel. Kabar ini menjadi sorotan banyak media internasional, termasuk Forbes Jepang, yang mengulas bagaimana tren solo travel kini mengalami pergeseran signifikan.

Urbie’s, kalau dulu perjalanan solo identik dengan pesta, nightlife, atau sekadar berburu spot Instagramable, kini arahnya berubah. Berdasarkan survei FTLO Travel yang menyasar pelancong usia 25 hingga 39 tahun, mayoritas responden justru lebih mencari pengalaman yang autentik, mendalam, dan bermakna secara personal. Aktivitas budaya, eksplorasi kuliner, serta biaya perjalanan menjadi faktor utama dalam memilih destinasi.

Tak heran jika Jepang berada di posisi teratas, disusul Australia, Selandia Baru, Argentina, dan Italia. Jepang dinilai memiliki kombinasi ideal antara kekayaan budaya, keamanan, serta infrastruktur yang sangat ramah bagi solo traveler. Mulai dari hotel kapsul, restoran dengan meja makan individual, hingga sistem transportasi publik yang efisien, semuanya mendukung kenyamanan bepergian sendirian.

Menariknya, rekomendasi teman dan promosi dari mulut ke mulut masih menjadi faktor paling kuat dalam menentukan destinasi. Sebanyak 65 persen responden mengaku memilih negara tujuan karena rekomendasi orang terdekat. Media sosial seperti Instagram berada di posisi kedua dengan 63 persen, sementara TikTok menyusul jauh di bawahnya. Ini menunjukkan bahwa meski era digital terus berkembang, kepercayaan personal tetap menjadi kunci dalam keputusan perjalanan.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan slow travel?

Slow travel adalah konsep perjalanan yang menekankan pada kualitas pengalaman, bukan kuantitas destinasi. Alih-alih berpindah dari satu kota ke kota lain dalam waktu singkat, pelancong memilih tinggal lebih lama di satu tempat untuk benar-benar memahami budaya, ritme kehidupan lokal, hingga membangun koneksi yang lebih dalam dengan lingkungan sekitar.

Menurut Tara Capel, pendiri FTLO Travel, semakin banyak solo traveler yang ingin perjalanan terasa lebih personal dan tidak terburu-buru. Mereka tidak lagi merasa harus mengunjungi lima destinasi populer sekaligus hanya demi konten media sosial. Tinggal lebih lama memberi kebebasan untuk menjelajah secara spontan, mencoba aktivitas lokal, dan menikmati momen tanpa tekanan membuat itinerary yang “sempurna”.

Baca Juga:

Data survei menunjukkan bahwa 63 persen responden menginginkan perjalanan selama delapan hingga 14 hari, sementara 61 persen memilih durasi empat hingga tujuh hari. Hanya sebagian kecil yang tertarik pada perjalanan singkat dua hingga tiga hari. Meski begitu, jumlah yang benar-benar memesan perjalanan lebih dari dua minggu masih relatif kecil. Ini menunjukkan adanya keinginan untuk perjalanan lebih lama, meskipun realitanya tetap disesuaikan dengan waktu dan anggaran.

Jepang, Australia, dan Selandia Baru dinilai ideal karena menawarkan keseimbangan antara petualangan dan kenyamanan. Ketiganya memiliki lanskap alam yang spektakuler, yang sangat selaras dengan semangat slow travel. Di tengah tekanan dunia digital, banyak pelancong ingin melepaskan diri sejenak dan kembali terhubung dengan alam secara lebih mendalam.

Fenomena peningkatan pemesanan mendadak atau last-minute booking juga menjadi tren baru. Ketidakpastian global pasca pandemi membuat banyak orang enggan merencanakan perjalanan terlalu jauh ke depan. Mereka memilih fleksibilitas dan spontanitas dibanding komitmen jangka panjang.

Bagi Urbie’s yang ingin mencoba solo travel di 2026, kunci utamanya tetap pada keamanan dan riset yang matang. Membagikan rencana perjalanan kepada orang terdekat, memahami area yang aman, serta mempercayai intuisi saat berada di situasi yang kurang nyaman menjadi langkah penting. Solo travel bukan hanya tentang keberanian, tetapi juga tentang kesiapan dan kesadaran diri.

Dengan tren slow travel yang terus meningkat, perjalanan kini bukan lagi sekadar tentang destinasi, melainkan tentang proses, koneksi, dan pengalaman yang membekas. Jepang mungkin berada di peringkat pertama tahun ini, tetapi pada akhirnya, makna perjalanan tetap kembali pada bagaimana Urbie’s menikmatinya.