Hi Urbie’s! Lingkar pinggang yang semakin melebar sering kali dianggap sekadar persoalan penampilan. Padahal di balik angka timbangan yang terus naik, ada ancaman kesehatan serius yang diam-diam mengintai. Kasus obesitas di Indonesia kini terus meningkat dan tak hanya menyerang usia dewasa, tetapi juga remaja hingga anak muda produktif.
Gaya hidup serba praktis, konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, minim aktivitas fisik, hingga pola tidur yang buruk menjadi kombinasi utama pemicu obesitas modern. Kondisi ini kemudian berkembang menjadi pintu masuk berbagai penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan tidur, hingga masalah hormonal yang memengaruhi kualitas hidup seseorang.
Fenomena ini pula yang menjadi sorotan dalam kegiatan Media Gathering bertajuk “Mengenal Bedah Bariatrik–Metabolik untuk Obesitas” yang digelar oleh RS Premier Bintaro. Melalui edukasi tersebut, masyarakat diajak memahami bahwa obesitas bukan sekadar akibat pola hidup, melainkan penyakit kronis yang membutuhkan penanganan medis serius dan berkelanjutan.
Obesitas Kini Diakui sebagai Penyakit Kronis
Dalam sesi edukasi, Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Digestif Konsultan, Dr. dr. Errawan Wiradisuria, Sp.B, Subsp. BD(K), M.Kes menjelaskan bahwa berbagai organisasi kesehatan dunia seperti American Medical Association dan Canadian Medical Association telah mengategorikan obesitas sebagai penyakit kronis.
“Obesitas kini tidak lagi sekadar dipandang sebagai persoalan gaya hidup, melainkan penyakit kronis yang dapat memicu berbagai komplikasi serius seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan tidur, hingga penurunan kualitas hidup,” ujar dr. Errawan di Jakarta, belum lama ini.
Sayangnya, di Indonesia masih banyak masyarakat yang menganggap obesitas hanya sebatas masalah pola makan atau kurang olahraga. Padahal, menurut World Health Organization sejak 2013, obesitas telah dinyatakan sebagai penyakit karena hampir selalu disertai berbagai penyakit penyerta atau co-morbid.
Beberapa komplikasi yang sering muncul akibat obesitas antara lain:
- Diabetes tipe 2
- Hipertensi
- Kolesterol tinggi
- Obstructive Sleep Apnea (OSA)
- Gangguan hormonal dan menstruasi
- Nyeri lutut dan sendi
- Batu empedu
- Varises pada tungkai
Mengapa Kasus Obesitas Semakin Banyak Terjadi?
Peningkatan angka obesitas di Indonesia dipicu oleh banyak faktor yang saling berkaitan. Selain pola makan tinggi kalori dan kurang aktivitas fisik, masyarakat urban kini juga menghadapi gaya hidup sedentari akibat terlalu lama duduk, stres berkepanjangan, hingga kualitas tidur yang buruk.
Tak sedikit pula anak muda yang mulai mengalami obesitas sejak usia produktif akibat konsumsi makanan cepat saji dan minuman manis berlebihan. Kondisi ini menjadi alarm kesehatan karena obesitas di usia muda berpotensi meningkatkan risiko penyakit kronis lebih cepat.
Di sisi lain, faktor genetik dan metabolisme tubuh juga dapat memengaruhi seseorang lebih mudah mengalami obesitas meski sudah mencoba menjalani diet.

Dari Diet hingga Operasi, Ini Penanganan Obesitas yang Bisa Dilakukan
Penanganan obesitas sebenarnya tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan pendekatan jangka panjang yang melibatkan perubahan gaya hidup secara menyeluruh.
Metode konservatif seperti diet sehat, olahraga rutin, dan penggunaan obat-obatan masih menjadi langkah awal yang umum dilakukan. Namun pada kasus obesitas berat, pendekatan medis seperti bedah bariatrik–metabolik dinilai memberikan hasil yang lebih efektif dalam jangka panjang.
Baca Juga:
- Stroke Bisa Menyerang Tanpa Gejala, Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Bagikan Pengalaman Mengejutkan
- Urat Tangan Terlihat Menonjol Saat Nyetir? Ternyata Bisa Jadi Tanda Tubuh Sedang Bekerja dengan Baik
- Dark Chocolate Ternyata Bisa Bantu Regenerasi Tubuh? Ini Fakta Ilmiahnya, Urbie’s!
Menurut dr. Errawan, prosedur ini tidak hanya membantu menurunkan berat badan, tetapi juga memperbaiki gangguan metabolisme tubuh seperti diabetes dan hipertensi.
Mengenal Operasi Bariatrik, Solusi Medis Modern untuk Obesitas
Bedah bariatrik–metabolik merupakan prosedur pembedahan yang bertujuan membantu pasien menurunkan berat badan secara signifikan sekaligus memperbaiki kondisi kesehatan terkait obesitas.
Beberapa manfaat utama operasi bariatrik meliputi:
- Penurunan berat badan yang signifikan dan bertahan lama
- Perbaikan kualitas hidup pasien
- Menurunkan risiko penyakit penyerta
- Membantu mengontrol diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi
Adapun pasien yang dapat menjadi kandidat operasi adalah individu dengan BMI di atas 35, atau BMI di atas 30 yang disertai penyakit terkait obesitas berisiko tinggi.
Namun, operasi bukan berarti solusi instan. Pasien tetap harus memiliki komitmen menjalani pola hidup sehat, menjaga pola makan, rutin berolahraga, serta melakukan kontrol kesehatan jangka panjang.
Jenis Operasi Bariatrik yang Kini Berkembang
Teknologi bedah bariatrik saat ini terus berkembang dengan berbagai metode modern, di antaranya:
- Sleeve Gastrectomy (SG)
- Roux-en-Y Gastric Bypass (RYGB)
- One Anastomosis Gastric Bypass (OAGB)
- Biliopancreatic Diversion with Duodenal Switch (BPD-DS)
- Sleeve Gastrectomy with Proximal Jejunal Bypass (PJB-S)
Salah satu prosedur yang banyak dipilih adalah Laparoscopic Sleeve Gastrectomy (LSG). Teknik ini dinilai relatif lebih sederhana dengan angka komplikasi lebih rendah, masa rawat inap lebih singkat, dan mampu memberikan penurunan berat badan lebih cepat.
Obesitas Butuh Penanganan Serius, Bukan Sekadar Diet
Meski operasi bariatrik terbukti membantu banyak pasien obesitas, tantangan terbesar saat ini adalah masih adanya anggapan bahwa prosedur tersebut hanya tindakan kosmetik. Akibatnya, dukungan pembiayaan dari asuransi maupun BPJS masih sangat terbatas.
Padahal, obesitas merupakan penyakit kronis yang membutuhkan penanganan multidisiplin dan berkelanjutan. Karena itu, konsultasi dengan dokter spesialis sangat dianjurkan agar pasien mendapatkan evaluasi dan terapi yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Melalui kegiatan edukasi ini, RS Premier Bintaro berharap masyarakat semakin memahami bahwa obesitas bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Dengan penanganan yang tepat, perubahan gaya hidup, serta dukungan teknologi medis modern, pasien obesitas tetap memiliki peluang besar untuk hidup lebih sehat dan berkualitas.

















































