Hi Urbie’s! Gunungan sampah yang mengular di tempat pembuangan akhir kini bukan lagi sekadar persoalan estetika kota atau aroma tak sedap yang mengganggu warga sekitar. Di balik tumpukan limbah rumah tangga yang terus bertambah setiap hari, tersembunyi ancaman besar bagi masa depan lingkungan Indonesia: emisi metana.
Masalah sampah di Indonesia semakin mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan populasi, pola konsumsi masyarakat yang makin tinggi, hingga minimnya kesadaran memilah sampah membuat volume limbah meningkat drastis. Ironisnya, sebagian besar sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) justru merupakan sampah organik yang mudah membusuk dan menghasilkan gas metana — salah satu gas rumah kaca paling berbahaya bagi iklim.
Tak sedikit kota besar di Indonesia yang masih bergantung pada sistem open dumping atau penumpukan sampah terbuka. Kondisi ini menyebabkan pengelolaan sampah belum berjalan optimal. Infrastruktur pengolahan terbatas, sistem pemilahan belum merata, hingga lemahnya koordinasi antara kebijakan pusat dan implementasi daerah menjadi tantangan yang terus berulang.
Di tengah situasi tersebut, Indonesia kini mulai memperkuat langkah bersama mitra internasional untuk mencari solusi yang lebih berkelanjutan.
Indonesia dan Korea Selatan Resmi Luncurkan Proyek Mitigasi Metana
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama Pemerintah Republik Korea dan Global Green Growth Institute (GGGI) resmi meluncurkan proyek ASEAN-Korea Cooperation for Methane Mitigation (AKCMM) di Jakarta pada 21 Mei 2026.
Peluncuran ini menandai Indonesia sebagai negara ASEAN ketiga yang mengimplementasikan program tersebut setelah Malaysia dan Filipina. Fokus utamanya adalah memperkuat sistem pengelolaan sampah dan menekan emisi metana yang berasal dari limbah organik.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat menegaskan bahwa persoalan sampah kini menjadi bagian penting dalam agenda aksi iklim nasional.
“Pengelolaan sampah bukan sekadar masalah kebersihan, melainkan pilar krusial dalam aksi iklim kita. Melalui proyek AKCMM ini, Indonesia berkomitmen untuk menghubungkan solusi praktis di lapangan dengan target penurunan emisi metana yang ambisius,” ujar Jumhur.
Ia mengungkapkan, sekitar 63 persen komposisi sampah di TPA Indonesia merupakan material organik. Angka tersebut berkontribusi besar terhadap potensi emisi metana nasional yang diperkirakan mencapai 21 juta ton CO₂e.

Mengapa Sampah Organik Jadi Ancaman Serius?
Banyak orang masih menganggap sampah organik seperti sisa makanan, daun, atau limbah dapur sebagai jenis sampah yang “aman” karena mudah terurai. Padahal, ketika menumpuk di TPA tanpa pengolahan yang baik, sampah organik justru menghasilkan gas metana dalam jumlah besar.
Metana memiliki efek pemanasan global yang jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida dalam jangka pendek. Karena itu, pengurangan emisi metana dinilai menjadi salah satu cara tercepat untuk memperlambat laju perubahan iklim.
Baca Juga:
- Hampton Square Gading Serpong, Spot Hangout Baru yang Bikin Betah: Kuliner Timur Tengah, Thai Fusion sampai Waffle Crispy Viral
- Stroke Bisa Menyerang Tanpa Gejala, Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Bagikan Pengalaman Mengejutkan
- Gejolak Dunia Bikin Harga Emas Melesat? Ini 4 Cara Trading Emas agar Tetap Aman dan Cuan
Duta Besar Misi Republik Korea untuk ASEAN, LEE Chul mengatakan kerja sama ini merupakan bentuk solidaritas regional dalam menghadapi krisis iklim.
“Mitigasi metana adalah salah satu upaya strategis untuk memperlambat pemanasan global. Proyek AKCMM mencerminkan solidaritas Korea-ASEAN dalam menghadapi krisis iklim global melalui dukungan teknis dan finansial yang konkret bagi negara-negara anggota,” kata LEE Chul.
Proyek Rp300 Miliar untuk Perkuat Sistem Pengelolaan Sampah
AKCMM merupakan program kerja sama selama tiga tahun dengan nilai pendanaan mencapai USD 20 juta atau sekitar Rp300 miliar. Program ini berada di bawah Partnership for ASEAN-ROK Methane Action (PARMA) yang didukung Pemerintah Republik Korea melalui ASEAN-Korea Cooperation Fund (AKCF).
Program ini tidak hanya fokus pada pengurangan emisi, tetapi juga membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan terukur. Nantinya, implementasi proyek akan dikoordinasikan melalui Forum Kerja Nasional (FKN).
Beberapa fokus utama program meliputi:
- penguatan kebijakan pengelolaan limbah,
- pengembangan sistem pemantauan emisi metana,
- penyusunan proyek pengelolaan sampah yang layak investasi,
- hingga penguatan kerja sama regional ASEAN.
Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Sosial Budaya ASEAN, San Lwin menilai proyek ini menjadi bagian penting dari strategi iklim kawasan.
“Mitigasi metana tetap menjadi komponen penting dalam agenda iklim ASEAN yang lebih luas serta upaya regional menuju pembangunan rendah karbon dan tangguh terhadap perubahan iklim,” jelasnya.
Menjembatani Kebijakan dan Realita di Lapangan
Salah satu persoalan terbesar pengelolaan sampah di Indonesia selama ini adalah kesenjangan antara regulasi dan implementasi nyata di daerah. Banyak kebijakan sudah dibuat, tetapi pelaksanaannya belum maksimal karena keterbatasan teknologi, pendanaan, maupun kesiapan pemerintah daerah.
Country Representative GGGI Indonesia, Rowan Fraser menyebut proyek AKCMM dirancang untuk memecahkan persoalan tersebut.
“Proyek AKCMM dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan nasional dengan implementasi di tingkat daerah. Dengan memperbaiki sistem pengukuran emisi dan merancang skema pembiayaan yang tepat, kita tidak hanya mengurangi dampak gas rumah kaca, tetapi juga menciptakan efisiensi ekonomi dalam pengelolaan sampah di kota-kota besar Indonesia,” terangnya.
Tantangan Sampah Indonesia Masih Panjang
Meski berbagai program mulai dijalankan, tantangan pengelolaan sampah di Indonesia masih sangat besar. Kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari rumah masih rendah. Di sisi lain, banyak daerah belum memiliki fasilitas pengolahan yang memadai.
Padahal, tanpa perubahan sistem yang menyeluruh, volume sampah diperkirakan akan terus meningkat setiap tahun seiring pertumbuhan penduduk dan urbanisasi.
Kerja sama Indonesia, Korea Selatan, ASEAN, dan GGGI melalui AKCMM menjadi salah satu langkah penting untuk mendorong transformasi pengelolaan sampah yang lebih modern, terukur, dan ramah lingkungan.
Lebih dari sekadar membersihkan kota, upaya ini menjadi bagian dari pertaruhan besar Indonesia dalam menghadapi ancaman perubahan iklim di masa depan.
















































