Home Business Saham BBCA Dihantam Asing, Investor Mulai Khawatir dengan Arah Bank BCA?

Saham BBCA Dihantam Asing, Investor Mulai Khawatir dengan Arah Bank BCA?

141
0
ilustrasi saham BBCA - sumber foto Istimewa
ilustrasi saham BBCA - sumber foto Istimewa
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Hi Urbie’s! Pasar saham Indonesia kembali memanas. Kali ini sorotan tertuju pada saham PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA yang masih berada dalam tekanan besar akibat aksi jual investor asing.

Dilansir dari Investor Daily, pada perdagangan sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (3/6/2026), investor asing tercatat melakukan transaksi jual bersih atau net sell sebesar Rp 525,3 miliar. Dan dari seluruh saham yang diperdagangkan, BBCA menjadi saham yang paling banyak dilepas asing.

Data BEI yang dilansir Stockbit Sekuritas menunjukkan investor asing melakukan net sell saham BBCA sebesar Rp 265,3 miliar hanya dalam satu sesi perdagangan.

Volume saham yang dilepas pun tidak kecil, mencapai 46,6 juta saham.

Angka tersebut langsung membuat pasar kembali mempertanyakan: apa yang sebenarnya sedang terjadi pada saham bank terbesar di Indonesia ini?

BBCA Jadi Pusat Tekanan Pasar

Aksi jual besar-besaran ini terjadi bersamaan dengan melemahnya harga saham BBCA hingga 3 persen ke level Rp 5.650.

Dan jika melihat pergerakannya dalam beberapa waktu terakhir, tekanan terhadap saham BBCA memang cukup terasa.

Dalam satu pekan terakhir saja, saham BBCA sudah turun sekitar 5,4 persen. Sementara dalam periode satu bulan, pelemahannya mencapai 3,4 persen.

Yang paling mengejutkan tentu performa year to date atau sejak awal tahun 2026.

Saham BBCA tercatat sudah ambles sekitar 30 persen.

Untuk saham sekelas BCA yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu “safe haven” investor pasar modal Indonesia, penurunan sebesar ini jelas menjadi perhatian besar.

Kenapa Investor Asing Mulai Jual BBCA?

Urbie’s, ketika investor asing mulai ramai-ramai melakukan net sell pada saham perbankan besar seperti BBCA, pasar biasanya langsung membaca ada kekhawatiran tertentu terhadap kondisi ekonomi maupun sektor finansial.

Meski fundamental BCA masih dianggap sangat kuat, kondisi ekonomi global dan domestik saat ini memang sedang penuh tekanan.

Mulai dari pelemahan rupiah, ketidakpastian suku bunga global, perlambatan ekonomi dunia, hingga kekhawatiran terhadap pertumbuhan kredit menjadi faktor yang terus membayangi sektor perbankan.

Dalam kondisi seperti ini, investor asing cenderung lebih berhati-hati dan memilih mengurangi eksposur pada aset emerging market termasuk Indonesia.

Dan saham perbankan besar seperti BBCA biasanya menjadi target utama aksi profit taking maupun pengurangan risiko.

MNC Sekuritas Masih Rekomendasikan Buy

Menariknya, di tengah tekanan besar tersebut, sejumlah analis justru masih melihat BBCA sebagai saham yang layak dikoleksi untuk jangka panjang.

Dilansir dari Investor Daily, MNC Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBCA.

Namun target harga saham BBCA memang ikut direvisi turun menjadi Rp 8.700 dari sebelumnya Rp 10.500.

Penyesuaian target ini dilakukan karena adanya perubahan estimasi valuasi serta peningkatan cost of equity atau tingkat imbal hasil yang diharapkan investor menjadi 7,5 persen.

Meski target diturunkan, angka Rp 8.700 masih menunjukkan potensi kenaikan yang cukup besar dibanding posisi saham saat ini.

Hal ini memperlihatkan bahwa sebagian analis percaya tekanan terhadap BBCA saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar jangka pendek dibanding penurunan fundamental perusahaan.

Baca Juga:

Fundamental BCA Dinilai Masih Sangat Kuat

Menurut MNC Sekuritas, ada beberapa faktor yang diperkirakan tetap menopang kekuatan laba BBCA dalam jangka panjang.

Mulai dari pertumbuhan PPOP atau pre-provision operating profit, efisiensi operasional yang terus membaik, hingga posisi permodalan yang sangat kuat.

BCA selama ini memang dikenal sebagai salah satu bank dengan kualitas aset dan manajemen risiko terbaik di Indonesia.

Selain itu, kemampuan bank ini menjaga profitabilitas di tengah kondisi ekonomi sulit juga menjadi alasan mengapa banyak investor institusi masih percaya pada BBCA.

Meski begitu, tekanan jangka pendek tetap ada.

Salah satu tantangan utama saat ini adalah margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) yang mulai tertekan akibat kondisi suku bunga dan perlambatan ekonomi.

Risiko Ekonomi Makro Jadi Sorotan

Urbie’s, di tengah situasi pasar seperti sekarang, kekhawatiran terbesar investor sebenarnya bukan hanya soal kinerja satu perusahaan saja.

Pasar saat ini lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi makro secara keseluruhan.

Jika pertumbuhan ekonomi melambat terlalu dalam atau kredit perbankan mulai melemah, maka sektor finansial bisa ikut terkena dampaknya.

Dan itulah yang kini mulai diperhatikan investor asing.

MNC Sekuritas juga menyebut risiko utama BBCA saat ini adalah kemungkinan pertumbuhan kredit yang lebih lambat serta potensi memburuknya kondisi ekonomi makro.

Karena itu, meski fundamental BCA masih dianggap solid, pergerakan sahamnya tetap akan sangat dipengaruhi sentimen pasar global maupun domestik dalam beberapa bulan ke depan.

Investor Ritel Mulai Was-Was

Turunnya saham BBCA juga mulai membuat investor ritel ikut cemas.

Selama bertahun-tahun, BBCA dikenal sebagai salah satu saham “blue chip” paling stabil di Indonesia. Banyak investor bahkan menganggap BBCA sebagai saham jangka panjang yang relatif aman dibanding sektor lain.

Namun ketika saham sebesar BBCA bisa turun hingga 30 persen dalam satu tahun, kekhawatiran tentu mulai muncul di pasar.

Meski begitu, sebagian investor justru melihat situasi ini sebagai peluang untuk akumulasi jangka panjang.

Dan seperti biasa di dunia pasar modal, ketika ada yang panik menjual, selalu ada pihak lain yang mulai diam-diam membeli.