Home Highlight Ekonom Ungkap Strategi Perkuat Rupiah, Koordinasi BI dan Pemerintah Jadi Kunci Stabilitas...

Ekonom Ungkap Strategi Perkuat Rupiah, Koordinasi BI dan Pemerintah Jadi Kunci Stabilitas Ekonomi

35
0
1 dollar AS terpantau berada di angka Rp17.909,98. - sumber foto istrimewa
1 dollar AS terpantau berada di angka Rp17.909,98. - sumber foto istrimewa
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Hi Urbie’s! Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian publik setelah pergerakannya terhadap dollar Amerika Serikat terus mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, per tanggal 10 Juni 2026 pukul 08.10 WIB, nilai tukar rupiah terhadap 1 dollar AS terpantau berada di angka Rp17.909,98.

Angka tersebut langsung menjadi pembahasan hangat di kalangan masyarakat, pelaku usaha, hingga pengamat ekonomi nasional. Pasalnya, fluktuasi nilai tukar rupiah tidak hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga dapat memengaruhi harga barang impor, biaya produksi, hingga daya beli masyarakat.

Di tengah kondisi tersebut, langkah pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional terus mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan.

Salah satunya datang dari Ekonom Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Surya Vandiantara, yang menilai kebijakan peningkatan daya tarik imbal hasil atau yield instrumen keuangan domestik menjadi strategi penting untuk memperkuat posisi rupiah.

Dilansir dari Metro TV, Surya menyebut bahwa kombinasi kebijakan fiskal dan moneter saat ini memiliki potensi besar untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah tekanan global.

Yield Tinggi Dinilai Bisa Menarik Investor Asing

Menurut Surya, salah satu langkah penting yang dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia adalah meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik seperti Surat Berharga Negara (SBN).

Kebijakan tersebut dinilai mampu menarik lebih banyak aliran modal asing atau portfolio inflow ke Indonesia.

Ketika investor global melihat peluang keuntungan yang menarik dari instrumen investasi Indonesia, maka kebutuhan terhadap rupiah otomatis ikut meningkat. Kondisi itu pada akhirnya dapat membantu memperkuat nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, termasuk dollar AS.

“Jika portofolio inflow semakin deras masuk ke Indonesia melalui Surat Berharga Negara (SBN), maka akan semakin besar peluang bagi negara untuk mengelola modal asing tersebut menjadi program yang dapat memberikan dampak langsung terhadap peningkatan produktivitas nasional,” ujar Surya dalam keterangannya.

Menurutnya, arus modal asing yang masuk bukan hanya memberikan dampak jangka pendek terhadap pasar keuangan, tetapi juga dapat membantu pembiayaan pembangunan nasional jika dikelola secara optimal.

Penguatan Rupiah Punya Dampak Luas

Jujur aja Urbie’s, penguatan rupiah sebenarnya bukan cuma soal angka kurs di aplikasi keuangan.

Nilai tukar rupiah yang stabil punya pengaruh besar terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat. Ketika rupiah melemah terlalu dalam, harga barang impor bisa ikut naik, biaya produksi meningkat, dan tekanan inflasi menjadi lebih besar.

Sebaliknya, ketika rupiah lebih stabil, kondisi ekonomi biasanya terasa lebih kondusif bagi pelaku usaha maupun masyarakat umum.

Karena itulah, menjaga kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia menjadi hal yang sangat penting.

Surya juga menilai bahwa penguatan rupiah mencerminkan optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga:

Pengelolaan Kas Negara Dinilai Strategis

Selain peningkatan yield instrumen keuangan domestik, Surya juga menyoroti kebijakan pengelolaan kas negara di Bank Indonesia.

Menurutnya, langkah tersebut berpotensi memberikan manfaat tambahan berupa pendapatan negara melalui remunerasi yang diterima pemerintah.

Namun, ia mengingatkan bahwa kebijakan tersebut perlu dijalankan dengan sangat hati-hati agar manfaatnya tidak hanya berhenti di sektor keuangan saja.

Pemerintah dinilai perlu memastikan bahwa pengelolaan likuiditas tersebut mampu mengalir hingga ke sektor riil melalui sistem perbankan nasional.

Suku Bunga dan Dunia Usaha Jadi Faktor Penting

Surya menjelaskan bahwa kebijakan ekonomi saat ini sebaiknya juga diikuti dengan langkah menjaga likuiditas perbankan agar dunia usaha bisa berkembang lebih maksimal.

Menurutnya, tambahan likuiditas di sektor perbankan dapat membantu pelaku usaha memperoleh akses modal yang lebih baik untuk mengembangkan bisnis mereka.

Tak hanya itu, ia juga menilai penurunan suku bunga acuan menjadi salah satu faktor penting agar penyerapan modal oleh sektor usaha bisa berjalan lebih optimal.

“Pemerintah perlu berhati-hati dalam mengelola kebijakan ini. Pengelolaan kas negara di bank sentral harus mampu disalurkan dalam bentuk likuiditas tambahan kepada sistem perbankan,” jelasnya.

Dalam kondisi ekonomi yang penuh tantangan global seperti sekarang, keberlanjutan dunia usaha memang menjadi salah satu kunci menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.

Koordinasi BI dan Pemerintah Jadi Penentu

Hal lain yang paling ditekankan Surya adalah pentingnya koordinasi antara Bank Indonesia dan pemerintah.

Menurutnya, keberhasilan kebijakan ekonomi tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Sinkronisasi langkah fiskal dan moneter menjadi faktor utama untuk menciptakan sentimen positif di pasar keuangan.

“Tanpa koordinasi yang erat, opsi kebijakan meningkatkan yield instrumen keuangan domestik dan menjaga likuiditas pasar keuangan-perbankan tidak akan pernah tercapai,” ungkapnya.

Karena itu, sinergi jangka panjang antara pemerintah dan Bank Indonesia dianggap menjadi salah satu pondasi utama dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia ke depan.

Tantangan Berikutnya Ada di Implementasi

Meski optimistis terhadap arah kebijakan saat ini, Surya menilai tantangan terbesar selanjutnya ada pada implementasi di lapangan.

Menurutnya, berbagai strategi ekonomi hanya akan berhasil jika dijalankan secara disiplin dan berfokus pada penguatan fundamental ekonomi nasional.

Jika langkah tersebut berjalan konsisten, ia percaya stabilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat terus terjaga meski menghadapi tekanan global yang cukup berat.

Dan buat Urbie’s, kondisi ini juga menjadi pengingat bahwa pergerakan rupiah bukan hanya soal pasar uang, tetapi juga mencerminkan tingkat kepercayaan terhadap masa depan ekonomi Indonesia.