Hi Urbie’s! Di bawah jemari legam yang kokoh, sehelai demi sehelai benang lungsin saling bertaut dalam sunyi. Ketukan kayu alat tenun sesekali memecah keheningan desa di pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari rahim tradisi yang diwariskan turun-temurun, para perempuan hebat yang akrab disapa ‘Mama’ ini tidak sekadar menciptakan selembar kain indah yang kaya akan corak magis. Lebih dari itu, mereka sedang memilin jalinan takdir baru—mengubah seutas benang dan sejengkal lahan semai menjadi pilar utama penyelamat ekonomi keluarga serta pelestari bumi yang sedang terluka.
Bagi pencinta kain Nusantara atau penikmat kuliner otentik yang merindukan aroma tanah Indonesia Timur, atmosfer magis tersebut kini hadir di jantung ibu kota. Esensi perjuangan dan keindahan budaya itu dirangkum apik dalam pameran bertajuk “Weaving Wonders, Dari Benang Tenun dan Lahan Semai Menuju Kekuatan Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Pemberdayaan Perempuan di Nusa Tenggara Timur”. Perhelatan estetik ini resmi dibuka di Tugu Kunstkring, Jakarta, dan siap memanjakan mata serta hati pengunjung dari tanggal 13 hingga 27 Juni 2026.
Pameran ini bukan sekadar ajang pamer visual komersial belaka. Begitu melangkah masuk, pengunjung langsung disambut instalasi rumah adat yang megah, kehangatan rasa kuliner khas, hingga deretan kain tenun bernilai filosofis tinggi. Lebih jauh, Weaving Wonders menjadi ruang temu gagasan melalui Dialog Kunstkring yang diinisiasi oleh Yayasan Bambu Lingkungan Lestari dan Penabulu-Oxfam. Di sinilah peta jalan kedaulatan pangan, pariwisata berkesadaran, serta konsep perempuan NTT ekonomi restoratif dirumuskan bersama para pemegang kebijakan, akademisi, dan masyarakat adat.

(PPPA), Veronica Tan; Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP
PKK) Nusa Tenggara Timur, Ny. Mindriyati Astiningsih Laka Lena, dan Ketua Panitia
Weaving Wonders, Yori Antar. (Foto: Urbanvibes/R Indriani)
“Pameran Weaving Wonders diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, investor, maupun lembaga donor untuk mengeksplorasi kebijakan dan kemitraan yang mendorong peran perempuan dalam pembangunan ekonomi yang lebih tangguh, inklusif dan berkelanjutan,” ujar Yori Antar, arsitek kenamaan sekaligus pendiri Yayasan Uma Nusantara yang menjadi inisiator pameran ini saat konferensi pers di Jakarta, Sabtu (13/6/2026)
Menjawab Tantangan Nyata dari Bumi Flobamora
Langkah berani para perempuan NTT ini lahir bukan tanpa alasan. Di balik keindahan alamnya yang eksotis, Provinsi NTT saat ini masih berjuang melawan realita sosial-ekonomi yang cukup berat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, tingkat kemiskinan ekstrem di NTT masih menyentuh angka 17,5%. Masalah ini diperumit dengan prevalensi stunting yang mencapai 31,4%—sebuah angka yang berada jauh di atas rata-rata nasional. Di sisi lain, isu kerentanan sosial seperti kekerasan domestik dan perdagangan orang (human trafficking) masih mengintai, di mana perempuan kerap kali menjadi korban utamanya.
Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, perempuan NTT justru bangkit membuktikan bahwa mereka adalah motor penggerak perubahan yang tangguh. Berdasarkan Survei GoodStats 2024, produktivitas perempuan di NTT tergolong luar biasa. Mereka mampu memberikan kontribusi hingga 42,4% terhadap total pendapatan rumah tangga, melampaui kontribusi rata-rata nasional yang berada di kisaran 36,1%.

“Berbagai persoalan perempuan dan anak di NTT mulai dari kekerasan, pekerja anak, perkawinan anak, hingga stunting saling berkaitan dan berakar pada persoalan ekonomi. Masalah ini tidak bisa diselesaikan secara terpisah,” tegas Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, saat menyoroti akar masalah di wilayah tersebut.
Konsep ekonomi restoratif sendiri berfokus pada pemulihan alam sekaligus peningkatan taraf hidup masyarakat lokal secara selaras. Tentu saja, membumikan konsep ini membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Laporan dari Center of Economic and Law Studies (Celios) tahun 2024 memperkirakan Indonesia membutuhkan dana sekitar Rp892 triliun hingga tahun 2045 demi menjalankan strategi ekonomi restoratif secara efektif di berbagai sektor. Kesenjangan investasi dan keterbatasan payung kebijakan inilah yang coba dijembatani lewat kolaborasi lintas sektor yang digalang di ruang-ruang pameran seperti Weaving Wonders.
Baca Juga:
- Shakira Tampil untuk Keempat Kalinya di Piala Dunia, Pecahkan Rekor Baru di 2026
- Festival Jakarta Great Sale 2026 Resmi Dibuka, Yuk Berburu Diskon 70% Berhadiah Mobil Listrik!
- Kerutan Bukan Musuh! Saatnya Beralih ke Happy Aging, Apa Itu?
Dari Agroforestri Bambu hingga Kebun Pangan Mandiri
Bagaimana konkretnya gerakan penyelamatan ini di lapangan? Para perempuan hebat di NTT mengejawantahkannya melalui dua program mutakhir: gerakan agroforestri bambu yang dikenal dengan julukan “Mama Bambu”, serta program Kebun Pangan Perempuan (KPP). Melalui media tanah dan tanaman, mereka merawat ekosistem yang rusak, menanam aneka pangan lokal berbiaya murah namun bergizi tinggi untuk menekan angka stunting, sekaligus memutar roda ekonomi keluarga agar terbebas dari jerat kemiskinan.
Pemerintah pun mulai melihat urgensi pergerakan akar rumput ini. Sebuah momentum bersejarah tercipta pada Mei 2026 lalu, ketika negara secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) Perhutanan Sosial kepada enam kelompok tani hutan perempuan di NTT. Keputusan ini memberikan hak kelola legal atas total lahan seluas 648 hektare.

Di tengah minimnya porsi pengelolaan hutan oleh kelompok perempuan di skala nasional dari target alokasi 12,7 juta hektare, langkah ini menjadi angin segar sekaligus preseden penting. Kini, perempuan NTT memimpin langsung pemulihan ekosistem hutan sebagai ruang hidup yang berkelanjutan, bukan sekadar komoditas eksploitasi.
“Kebun Pangan Perempuan menjadi pintu masuk strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga sekaligus meningkatkan posisi perempuan dalam pengambilan keputusan rumah tangga. Ini bukan sekadar program kebun, ini strategi penguatan perempuan dan keluarga dari desa. Ketika perempuan berdaya, ekonomi lokal tumbuh, pendapatan asli daerah meningkat, dan kesejahteraan masyarakat ikut terangkat,” papar Veronica Tan secara runut dan visioner.
Sinergi Sektor Swasta untuk Masa Depan Inklusif
Langkah restorasi dan pemberdayaan ini tentu akan semakin akseleratif jika mendapat dukungan penuh dari ekosistem bisnis modern. Pameran Weaving Wonders membuktikannya lewat sinergi erat dengan sektor swasta, salah satunya melalui keterlibatan aktif Grup Astra. Melalui payung program Desa Sejahtera Astra (DSA) dan Yayasan Astra, dipamerkan berbagai produk unggulan karya anak bangsa yang lahir langsung dari tangan terampil komunitas dampingan di pelosok nusantara.
Dukungan industri ini menjadi bukti nyata bahwa nilai luhur kebudayaan dan pemberdayaan komunitas lokal bukan lagi sekadar program tanggung jawab sosial (CSR) yang bersifat pelengkap, melainkan investasi strategis jangka panjang bagi keberlanjutan ekonomi inklusif.
“Astra meyakini bahwa budaya, kearifan lokal, dan pemberdayaan masyarakat merupakan aset penting yang perlu terus dijaga dan dikembangkan sebagai bagian dari pembangunan Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan untuk hari ini dan masa depan Indonesia,” ungkap Chief of Corporate Affairs Astra, Boy Kelana Soebroto.
Menenun kain tenun sejatinya mirip dengan membangun sebuah bangsa; ia membutuhkan kesabaran, ketelitian, serta keterikatan emosional antar-elemen yang saling menguatkan. Melalui ruang estetis di Tugu Kunstkring, pesan dari tanah NTT terdengar sangat jelas: ketika kita memberikan ruang, akses, dan kepercayaan penuh bagi perempuan untuk mengelola tanah serta tradisinya, mereka tidak hanya memberi makan keluarganya, melainkan sedang memulihkan peradaban dan merajut masa depan bumi yang lebih hijau. Bersambung ke ruang pameran, mari kita menjadi bagian dari sejarah kepedulian yang indah ini.


















































