Hi Urbie’s! Media sosial kembali membuktikan dirinya sebagai ruang diskusi yang dinamis. Kali ini, perdebatan menarik terjadi di Threads antara kreator konten sekaligus pendiri Malaka Project, Ferry Irwandi, dan penulis serta jurnalis Zen Rachmat Sugito atau yang lebih dikenal sebagai Zen RS. Topik yang mereka bahas bukan soal tren viral atau hiburan, melainkan sejarah tokoh revolusioner Indonesia, Tan Malaka.
Percakapan keduanya bermula dari unggahan Zen RS yang mengingatkan pentingnya tidak langsung tersinggung ketika menerima pendapat orang lain. Dalam unggahannya, Zen menulis bahwa seseorang sebaiknya menenangkan diri terlebih dahulu sebelum menilai siapa lawan diskusinya.
“Kalo ada orang yg tenang, kasih pendapat…. jangan kesenggol dulu ego-nya, kalo muslim, wudhu dulu biar tenang, baru pelan-pelan cek siapa tuh orang…. Jangan semua orang dianggep Witan Sulaeman, bisa jadi dia Messi.”
Unggahan tersebut kemudian mendapat respons dari Ferry Irwandi yang justru menekankan bahwa kualitas argumen tidak ditentukan oleh siapa yang menyampaikannya.
Ferry Irwandi: Yang Penting Substansinya
Menanggapi unggahan tersebut, Ferry mengatakan dirinya tidak mempermasalahkan siapa lawan diskusinya.
Menurut Ferry, jika dirinya memang keliru, ia akan mengoreksi pendapatnya. Sebaliknya, jika argumennya masih benar, ia akan tetap mempertahankannya sampai terbukti sebaliknya.
“Maaf mas, pun itu Witan Sulaiman kalau dia benar dan saya sadar saya salah saya akan koreksi. Sebaliknya, kalau pun itu Messi tapi tidak ada yang salah dari argumen saya, saya tetap mempertahankan argumen itu sampai terbukti sebaliknya. Saya kira yang penting substansinya.”
Tak lama kemudian, Ferry kembali menegaskan bahwa diskusi seharusnya fokus pada bantahan terhadap isi argumen, bukan hal-hal lain di luar substansi.
“Sebenarnya kalau salah tinggal dibantah aja, Mas. Yang baca juga dapat manfaat. Gak perlu akrobat juga.”
Perdebatan Berlanjut ke Pembahasan Tan Malaka
Diskusi kemudian berkembang ketika Ferry mengunggah sebuah utas mengenai Tan Malaka.
Dalam unggahan tersebut, Ferry menyebut bahwa Tan Malaka pernah menerima gaji saat bekerja sebagai guru sekaligus pengawas sekolah di perkebunan Senembah Maatschappij di Deli, Sumatra Utara. Ferry menuliskan bahwa gaji tersebut berasal dari pemerintah Belanda.
Pernyataan inilah yang kemudian dikoreksi oleh Zen RS.
Zen menjelaskan bahwa berdasarkan karya sejarawan Harry Poeze, Tan Malaka sebenarnya tidak digaji langsung oleh pemerintah kolonial Belanda, melainkan oleh Senembah Maatschappij, sebuah perusahaan perkebunan swasta.
Zen juga menambahkan bahwa menurut autobiografi Tan Malaka, salah satu alasan Tan memilih mengajar di sana adalah karena ia tidak ingin menjadi guru di sekolah pemerintah kolonial yang, menurutnya, bertujuan “meng-Eropa-kan” anak-anak bumiputra.
Selain itu, Zen juga mengoreksi nominal gaji yang disebut Ferry. Menurutnya, Tan menerima sekitar 350 gulden per bulan, bukan 150 gulden.
Baca Juga:
- Pokémon Champions Resmi Rilis di Mobile, Gratis Download di Android dan iPhone
- 3 Tempat Kuliner Gading Serpong Terbaru yang Unik & Wajib Dicoba
- BTS Rilis Video Musik “Merry Go Round”, Suguhkan Dunia Fantasi yang Sarat Makna
Ferry Jelaskan Dasar Argumennya
Menanggapi koreksi tersebut, Ferry menjelaskan alasan mengapa dirinya mengaitkan Senembah Maatschappij dengan pemerintah kolonial.
Menurutnya, meski secara administratif perusahaan tersebut merupakan perusahaan swasta, struktur kepengurusannya diisi oleh sejumlah pejabat kolonial Belanda.
Ia juga menyinggung keterlibatan tokoh seperti J.T. Cremer yang pernah menjadi Menteri Koloni Belanda sekaligus memiliki posisi penting dalam perusahaan tersebut.
Selain itu, Ferry menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan besar pada masa kolonial memperoleh berbagai privilese dari pemerintah kolonial, mulai dari konsesi lahan, perlindungan hukum, hingga akses terhadap tenaga kerja kontrak.
Ia bahkan membandingkan kondisi tersebut dengan VOC yang secara formal merupakan perusahaan swasta, tetapi memperoleh hak-hak istimewa melalui octrooi dari pemerintah Belanda.
Namun, penjelasan Ferry kembali mendapat tanggapan dari Zen yang mengutip salah satu bagian buku Madilog karya Tan Malaka mengenai kekeliruan logika yang berputar-putar atau circulo in definiendo.
Ferry Akui Kekeliruan dan Minta Maaf
Setelah diskusi berlangsung cukup panjang, Ferry akhirnya mengunggah klarifikasi.
Ia mengakui telah melakukan simplifikasi dalam penyebutan “pemerintah Belanda” ketika menjelaskan hubungan Senembah Maatschappij dengan pemerintah kolonial.
Menurut Ferry, kesalahan tersebut berpotensi menyesatkan pembaca.
“Saya membuat kekeliruan karena melakukan simplifikasi pada penyebutan ‘Pemerintah’ Belanda. Kekeliruan muncul karena menganggap perusahaan Belanda yang berdiri di masa kolonial dengan suntikan modal, aset, uang dan perangkat dari pemerintah kolonial pasti terafiliasi dengan pemerintahnya saat itu.”
Ferry kemudian memberikan ralat secara terbuka.
“Tan tidak digaji oleh pemerintah Belanda tapi perusahaan Belanda. Saya minta maaf atas kesalahan tersebut.”
Tak berhenti di situ, Ferry juga menjelaskan bahwa kesimpulan awalnya muncul setelah membaca buku Senembah Maatschappij 1889–1939, yang mengulas besarnya keterlibatan pemerintah kolonial dalam operasional perusahaan tersebut, termasuk pengaturan tenaga kerja melalui aparat kolonial dan penerapan poenale sanctie.
Meski demikian, Ferry mengakui bahwa kesimpulan tersebut belum cukup kuat untuk dijadikan dasar menyatakan Tan Malaka digaji pemerintah kolonial.
Ia pun menambahkan bahwa bantahannya terhadap anggapan Senembah Maatschappij sebagai perusahaan yang sepenuhnya independen tetap memiliki dasar referensi yang dapat dipertanggungjawabkan. Di akhir utasnya, Ferry kembali mengucapkan terima kasih kepada Zen RS karena telah meluruskan informasi tersebut.
Diskusi Sejarah yang Dipuji Warganet
Percakapan keduanya mendapat respons positif dari banyak pengguna Threads. Salah satunya datang dari kreator konten Adipati Nauzy yang mengaku memperoleh banyak pelajaran dari diskusi tersebut.
Alih-alih berubah menjadi adu serang personal, diskusi antara Ferry Irwandi dan Zen RS justru menjadi contoh bagaimana perdebatan akademis dapat berlangsung secara terbuka. Keduanya sama-sama menyampaikan sumber rujukan, mempertahankan argumen berdasarkan data, dan ketika ditemukan kekeliruan, klarifikasi pun disampaikan secara terbuka.
Bagi Urbie’s, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa diskusi di media sosial tak selalu harus berakhir dengan saling menjatuhkan. Justru ketika argumen dibangun berdasarkan data, referensi, dan keterbukaan untuk mengoreksi diri, ruang digital bisa menjadi tempat belajar bersama. Pada akhirnya, substansi dan kesediaan menerima koreksi menjadi nilai yang jauh lebih penting dibanding sekadar memenangkan perdebatan.











































