Hi Urbie’s! Kalau biasanya kampanye fashion identik dengan pakaian mewah, model, dan latar artistik, Balenciaga pernah membawa konsep yang jauh lebih ekstrem. Pada koleksi Spring/Summer 2022 (SS22), rumah mode asal Prancis itu menggandeng seniman Jepang Hiroto Ikeuchi untuk menghadirkan karya yang lebih mirip mesin tempur futuristik dibanding aksesori fashion biasa.
Lewat kolaborasi bersama studio Skeletonics, Ikeuchi menciptakan berbagai headpiece sibernetik, rangka luar robot (robotic exoskeleton), hingga perangkat mekanis yang memadukan komponen industri, kabel elektronik, panel logam, dan struktur mekanik kompleks. Hasilnya bukan sekadar koleksi busana, melainkan karakter-karakter yang seolah keluar langsung dari dunia anime cyberpunk atau video game fiksi ilmiah.
Hingga kini, proyek tersebut masih sering dibahas oleh pecinta fashion, seni, maupun teknologi karena dianggap sebagai salah satu kolaborasi paling unik yang pernah dilakukan Balenciaga.
Saat Fashion Bertemu Dunia Robot
Hiroto Ikeuchi bukanlah nama asing di dunia seni kontemporer Jepang.
Seniman asal Tokyo ini dikenal karena karya-karyanya yang mengubah barang elektronik bekas menjadi instalasi futuristik. Mulai dari motherboard komputer, kipas pendingin, kabel, hingga berbagai komponen industri, semuanya dirakit ulang menjadi karya seni yang tampak seperti perlengkapan dari masa depan.
Dalam proyek bersama Balenciaga, pendekatan tersebut tetap dipertahankan.
Alih-alih membuat aksesori yang sekadar melengkapi pakaian, Ikeuchi justru merancang berbagai perangkat mekanis yang menjadi pusat perhatian setiap penampilan.
Helm bergaya cybernetic, struktur logam yang membungkus tubuh, hingga berbagai komponen elektronik berhasil mengubah model menjadi sosok yang terlihat seperti manusia setengah mesin.
Kontras yang Jadi Kunci
Salah satu alasan mengapa koleksi ini begitu ikonik adalah permainan kontras yang sangat kuat.
Balenciaga dikenal dengan siluet oversized yang longgar dan minimalis.
Sebaliknya, karya Hiroto Ikeuchi dipenuhi detail mekanis yang rumit, berat, dan sangat teknis.
Perpaduan dua elemen yang bertolak belakang tersebut justru menciptakan identitas visual yang unik.
Pakaian Balenciaga memberikan kesan sederhana dan modern, sementara perangkat robotik Ikeuchi menghadirkan nuansa dystopian yang identik dengan film-film science fiction.
Setiap model akhirnya tampil bukan hanya sebagai orang yang mengenakan pakaian, melainkan seperti karakter utama dalam dunia cyberpunk.
Tak sedikit pengamat fashion yang menyebut koleksi ini lebih menyerupai desain karakter dibanding editorial mode konvensional.
Baca Juga:
- Catat! Harga dan Jadwal War Tiket Guns N’ Roses Jakarta 2026
- Geser Jepang, Wisatawan Cina Makin Kepincut Liburan ke Indonesia: Daerah Ini Alami Lonjakan Drastis!
- 3 Tempat Kuliner Gading Serpong Terbaru yang Unik & Wajib Dicoba
Skeletonics Bantu Wujudkan Exoskeleton Futuristik
Dalam proyek ini, Hiroto Ikeuchi juga bekerja sama dengan Skeletonics, studio kreatif asal Jepang yang dikenal lewat karya-karya robotik wearable.
Skeletonics memiliki spesialisasi dalam menciptakan exoskeleton artistik yang dapat dikenakan manusia.
Kolaborasi tersebut memungkinkan berbagai desain Ikeuchi tampil lebih realistis sekaligus tetap dapat digunakan di atas tubuh model.
Hasilnya adalah perpaduan antara seni instalasi, rekayasa mekanik, dan fashion mewah yang jarang terlihat dalam satu proyek.
Banyak pengunjung bahkan lebih lama memperhatikan detail mekanis dibanding pakaian yang dikenakan model.
Lebih Mirip Instalasi Seni daripada Kampanye Fashion
Yang membuat proyek ini semakin menarik adalah bagaimana Balenciaga memperlakukannya setelah peluncuran koleksi.
Berbagai karya robotik Hiroto Ikeuchi tidak hanya tampil di runway atau materi promosi.
Beberapa di antaranya dipamerkan di flagship store Balenciaga, sehingga pengunjung butik dapat melihat langsung instalasi tersebut.
Keputusan ini membuat batas antara galeri seni dan toko fashion menjadi semakin kabur.
Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat koleksi pakaian terbaru, tetapi juga menikmati karya seni futuristik yang menjadi bagian dari identitas Balenciaga.
Pendekatan seperti ini memperlihatkan bagaimana fashion mewah kini semakin sering berkolaborasi dengan dunia seni kontemporer untuk menghadirkan pengalaman yang lebih mendalam.
Cyberpunk Semakin Dekat dengan Dunia Fashion
Estetika cyberpunk sebenarnya bukan hal baru.
Genre yang populer lewat film seperti Blade Runner, anime Ghost in the Shell, hingga berbagai video game futuristik telah lama memengaruhi dunia desain.
Namun, proyek Balenciaga bersama Hiroto Ikeuchi menunjukkan bagaimana elemen tersebut dapat diterjemahkan ke dalam dunia fashion kelas atas.
Bukan sekadar menambahkan aksesori logam, tetapi benar-benar menciptakan karakter visual yang memiliki identitas kuat.
Pendekatan ini juga menunjukkan bahwa fashion modern tidak lagi hanya berbicara mengenai pakaian, melainkan juga tentang cerita, teknologi, dan pengalaman visual.
Masih Jadi Referensi Hingga Sekarang
Meski koleksi SS22 telah berlalu beberapa tahun, karya Hiroto Ikeuchi masih sering muncul dalam berbagai diskusi mengenai fashion futuristik.
Banyak kreator konten, desainer muda, hingga cosplayer menjadikan proyek tersebut sebagai referensi ketika membahas perpaduan antara teknologi dan mode.
Di era ketika kecerdasan buatan, robotika, dan wearable technology semakin berkembang, karya-karya seperti ini terasa semakin relevan.
Bahkan, beberapa tren aksesori futuristik yang muncul belakangan dinilai memiliki kemiripan dengan pendekatan visual yang diperkenalkan melalui kolaborasi Balenciaga dan Ikeuchi.
Fashion Tidak Lagi Sekadar Busana
Bagi Urbie’s, kolaborasi Balenciaga, Hiroto Ikeuchi, dan Skeletonics membuktikan bahwa fashion kini telah berkembang jauh melampaui fungsi dasar sebagai pakaian. Koleksi Spring/Summer 2022 tersebut menghadirkan perpaduan seni, teknologi, robotika, dan desain karakter dalam satu karya yang utuh. Tidak heran jika hingga kini proyek tersebut masih dianggap sebagai salah satu kampanye fashion paling berani dan visioner, sekaligus menjadi inspirasi bagi masa depan dunia mode yang semakin dekat dengan estetika science fiction.












































