Home Entertainment Rumah Sakit Jiwa Teater Koma Kembali Setelah 35 Tahun, Angkat Kisah yang...

Rumah Sakit Jiwa Teater Koma Kembali Setelah 35 Tahun, Angkat Kisah yang Masih Relevan

32
0
Cuplikan Adegan Rumah Sakit Jiwa. (Foto: Urbanvibes/R Indriani)
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Hi Urbie’s! Ada karya seni yang selesai ketika tirai panggung ditutup, tetapi ada pula karya yang justru menemukan makna baru setiap kali dipentaskan kembali, seperti yang ditunjukkan oleh Teater Koma lewat lakon legendarisnya, Rumah Sakit Jiwa.

Ya, Rumah Sakit Jiwa merupakan salah satu lakon penting karya Teater Koma. Setelah 35 tahun sejak pertama kali dipentaskan pada 1991, naskah legendaris karya N. Riantiarno ini kembali hadir di panggung melalui kolaborasi Teater Koma dan Bakti Budaya Djarum Foundation.

Dipentaskan pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, produksi ke-237 Teater Koma ini tidak sekadar menghadirkan nostalgia. Lakon tersebut justru mengajak penonton membaca ulang realitas sosial hari ini melalui kisah yang terasa semakin dekat dengan kehidupan modern.

Di tengah derasnya pilihan hiburan digital, teater tetap menawarkan pengalaman yang tidak bisa digantikan layar mana pun: pertemuan langsung antara pemain dan penonton dalam ruang dan waktu yang sama.

Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation, Billy Gamaliel, menilai pengalaman tersebut menjadi alasan mengapa seni pertunjukan masih memiliki tempat yang istimewa.

“Di tengah begitu banyak pilihan hiburan saat ini, seni pertunjukan teater tetap memiliki tempat yang istimewa karena menghadirkan pengalaman yang hanya dapat dirasakan ketika penonton dan pemain berbagi ruang dan waktu yang sama. Kedekatan itulah yang membuat teater terus relevan. Karena itu, Bakti Budaya Djarum Foundation terus mendukung karya-karya seperti Rumah Sakit Jiwa yang tidak hanya menawarkan kualitas artistik, tetapi juga mengajak penonton merefleksikan berbagai persoalan yang masih dekat dengan kehidupan kita. Harapannya, semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, mengenal teater sebagai pengalaman budaya yang bermakna dan layak dinikmati,” ujar Billy di acara konferensi pers di Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Konferensi pers Pementasan Teater Koma: Rumah Sakit Jiwa yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation di Jakarta, Jumat (10/7/2026). (Foto: Urbanvibes/R Indriani)

Ketika Rumah Sakit Jiwa Menjadi Cermin Kehidupan

Di atas panggung, penonton akan mengikuti perjalanan Rogusta, seorang dokter muda yang baru bertugas di sebuah rumah sakit jiwa yang dipimpin Profesor Sidarita.

Berbekal keyakinan bahwa pendekatan yang lebih manusiawi dapat membantu proses penyembuhan pasien, Rogusta mulai mengubah cara kerja rumah sakit. Namun perubahan yang ia bawa justru memunculkan benturan dengan sistem yang telah lama mengakar dan orang-orang yang merasa kepentingannya terganggu.

Konflik inilah yang kemudian berkembang menjadi pertanyaan besar: benarkah dunia yang kita jalani hari ini perlahan berubah menjadi sebuah “rumah sakit jiwa”?

Pertanyaan tersebut menjadi benang merah yang membuat lakon ini tetap terasa relevan, bahkan tiga setengah dekade setelah pertama kali dipentaskan.

Seluruh narasumber Konferensi Pers Pementasan Rumah Sakit Jiwa karya Teater Koma yang digelar di Jakarta, Jumat (10/7/2026). (Foto: Dok. Bakti Budaya Djarum Foundation)

Sutradara Rangga Riantiarno mengatakan, sejak awal naskah ini memang tidak pernah hanya berbicara tentang sebuah institusi kesehatan.

“Sejak pertama kali dipentaskan pada tahun 1991, Rumah Sakit Jiwa bukan semata-mata bercerita tentang sebuah institusi, tetapi tentang manusia dan berbagai persoalan yang mengitarinya. Itulah sebabnya kami merasa lakon ini masih relevan hari ini.”

Menurut Rangga, proses kreatif yang dilakukan juga tetap mempertahankan pendekatan riset mendalam sebagaimana produksi pertama.

“Dari segi proses, hal yang sama dengan 35 tahun lalu adalah para pemain tidak hanya membaca naskah dan berlatih di ruang latihan, tetapi juga melakukan observasi ke rumah sakit jiwa serta berdiskusi dengan psikolog klinis dan psikiater. Proses tersebut menjadi bagian penting agar para pemain memahami setiap karakter, sehingga apa yang disaksikan penonton lahir dari empati dan pemahaman yang utuh,” jelasnya.

Cuplikan Adegan Rumah Sakit Jiwa. (Foto: Dok. Bakti Budaya Djarum Foundation)

Kostum Tak Lagi Sekadar Pelengkap

Pendalaman karakter dalam pementasan ini tidak berhenti pada akting. Setiap tokoh juga dibangun melalui identitas visual yang dirancang secara khusus oleh Samuel Wattimena bersama Rima Ananda.

Bagi Samuel, kostum bukan hanya soal estetika panggung, melainkan bagian penting dari proses bercerita.

Baca Juga:

“Kami tidak ingin kostum hanya menjadi pelengkap visual. Setiap rancangan dibuat untuk membantu penonton mengenali karakter, latar belakang, hingga perubahan yang dialami masing-masing tokoh sepanjang cerita. Karena itu, prosesnya melibatkan diskusi yang cukup panjang dengan sutradara agar setiap detail kostum benar-benar mendukung penceritaan,” ujar Samuel.

Selain kostum, produksi ini juga melibatkan tata artistik, multimedia, tata cahaya, tata suara, serta musik garapan Fero A. Stefanus yang dirancang mengikuti dinamika emosi di setiap adegan sehingga memperkuat perjalanan psikologis para tokohnya.

Pendiri Teater Koma, Ratna Riantiarno kembali memerankan tokoh Ibu dr. Rogusta di seni pertunjukan Rumah Sakit Jiwa 2026. (Foto: Dok. Bakti Budaya Djarum Foundation)

Kembali Memerankan Rogusta Setelah 35 Tahun

Salah satu momen paling emosional dalam produksi ini datang dari Ratna Riantiarno.

Pendiri Teater Koma tersebut kembali memerankan tokoh Ibu dr. Rogusta, karakter yang pernah ia bawakan puluhan tahun silam.

Bagi Ratna, kembali mengenakan karakter yang sama bukan berarti mengulang pengalaman lama.

Sebaliknya, perjalanan hidup selama tiga dekade justru membuatnya menemukan lapisan makna yang berbeda.

Cuplikan Adegan Rumah Sakit Jiwa. (Foto: Dok. Bakti Budaya Djarum Foundation)

“Kembali menjadi Ibu dr. Rogusta setelah 35 tahun rasanya seperti bertemu kembali dengan seorang sahabat lama. Naskahnya tetap sama, namun pengalaman hidup selama puluhan tahun membuat saya melihat Rogusta dengan sudut pandang yang berbeda dan menemukan banyak lapisan baru dalam karakternya.”

Tak hanya sebagai pemeran, Ratna juga melihat produksi ini dari sudut pandang seorang produser.

“Di saat yang sama, sebagai produser saya juga melihat bagaimana seluruh tim bekerja dengan dedikasi yang luar biasa untuk menghadirkan kembali lakon ini. Semua proses itu membuat Rumah Sakit Jiwa menjadi pertunjukan yang istimewa bagi saya, baik secara pribadi maupun sebagai bagian dari perjalanan Teater Koma,” tuturnya.

Cuplikan Adegan Rumah Sakit Jiwa. (Foto: Urbanvibes/R Indriani)

Jadwal Pementasan Rumah Sakit Jiwa

Pementasan Rumah Sakit Jiwa akan berlangsung pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.

Jadwal pertunjukan:

  • Kamis, 30 Juli 2026 — 19.30 WIB
  • Jumat, 31 Juli 2026 — 19.30 WIB
  • Sabtu, 1 Agustus 2026 — 13.30 WIB dan 19.30 WIB
  • Minggu, 2 Agustus 2026 — 13.30 WIB

Tiket dapat diperoleh melalui situs resmi Teater Koma maupun platform penjualan tiket yang telah ditentukan.

Selama lebih dari tiga dekade, Rumah Sakit Jiwa membuktikan bahwa karya seni yang lahir dari kejujuran terhadap realitas tidak pernah benar-benar usang. Ketika dunia terus berubah, pertanyaan yang diajukannya justru terasa semakin relevan: siapa sebenarnya yang sedang sakit—mereka yang berada di dalam rumah sakit, atau masyarakat yang hidup di luar temboknya?