Halo, Urbie’s! Pernahkah kamu melihat seorang pria yang tampak santai, bahkan tersenyum, ketika dimarahi oleh pasangannya? Bagi sebagian orang, situasi tersebut mungkin terlihat aneh. Namun, sebuah studi terbaru justru mengungkap bahwa kondisi ini bisa dijelaskan melalui sudut pandang psikologi.
Berdasarkan studi dari Relationship Insights Asia pada tahun 2024, sekitar 78 persen pria mengaku merasa senang atau lega ketika dimarahi oleh pasangannya. Fenomena ini dikaitkan dengan istilah psikologis yang disebut domestic thrill syndrome, yaitu kondisi ketika respons emosional tertentu membuat seseorang merasakan kepuasan atau kelegaan setelah menerima teguran dari pasangan.
Meski terdengar tidak biasa, para peneliti menjelaskan bahwa respons tersebut bukan berarti pria menyukai konflik atau pertengkaran. Sebaliknya, ada beberapa faktor psikologis yang membuat omelan pasangan justru diterima sebagai sesuatu yang memiliki makna positif.
Salah satu penyebabnya adalah pelepasan hormon dopamin di dalam otak. Dopamin dikenal sebagai hormon yang berkaitan dengan rasa senang, penghargaan, dan motivasi. Dalam beberapa kondisi, ketika omelan pasangan dipersepsikan sebagai bentuk perhatian atau kepedulian, otak dapat menghasilkan respons emosional yang memberikan rasa lega.
Selain itu, omelan juga sering dianggap sebagai tanda bahwa hubungan masih memiliki komunikasi yang terbuka. Bagi sebagian pria, pasangan yang masih mau mengungkapkan rasa kecewa dianggap lebih baik dibandingkan memilih diam atau menghindari komunikasi sama sekali. Karena itu, teguran yang disampaikan secara jujur dapat memberikan kepastian bahwa pasangan masih peduli terhadap hubungan yang sedang dijalani.
Baca Juga:
- Lagi Demam Piala Dunia? Ini 7 Anime Olahraga yang Bikin Adrenalin Ikut Naik!
- Menemukan “Surga” Tersembunyi di Telaga Nirwana Rote, NTT (Plus Tips Biar Gak Gosong!)
- Sering Begadang dan Ngopi? Kisah dari Vietnam Ini Jadi Alarm Buat Gen Z Indonesia Soal Hipertensi
Faktor lain yang turut berperan adalah munculnya kelegaan emosional. Ketika seseorang merasa telah melakukan kesalahan, ia kerap menyimpan rasa bersalah. Saat pasangan akhirnya mengungkapkan kekesalannya secara langsung, beban tersebut bisa terasa berkurang karena konflik yang sebelumnya hanya dipendam akhirnya tersampaikan. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan rasa lega setelah dimarahi.
Dalam dunia psikologi, proses tersebut juga dapat menjadi bentuk pelepasan ketegangan emosional. Setelah konflik dibicarakan, kedua belah pihak memiliki kesempatan untuk saling memahami, meminta maaf, dan mencari solusi bersama. Akibatnya, hubungan justru dapat menjadi lebih sehat apabila komunikasi dilakukan dengan baik.
Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa fenomena domestic thrill syndrome bukan berarti seseorang sebaiknya terus-menerus memarahi pasangannya. Komunikasi yang sehat tetap harus mengedepankan rasa saling menghargai, empati, dan penyampaian pendapat tanpa merendahkan satu sama lain.
Setiap individu juga memiliki respons emosional yang berbeda. Tidak semua pria akan merasakan hal yang sama ketika dimarahi. Faktor kepribadian, pengalaman hidup, pola komunikasi dalam hubungan, hingga kondisi psikologis masing-masing turut memengaruhi bagaimana seseorang memaknai sebuah teguran dari pasangan.
Temuan dari Relationship Insights Asia ini menjadi pengingat bahwa dinamika hubungan sering kali lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan. Apa yang tampak sebagai konflik ternyata dapat menjadi bentuk komunikasi yang memperkuat hubungan, selama dilakukan dengan cara yang sehat dan penuh rasa hormat.
Jadi, Urbie’s, jika suatu saat melihat pasangan yang tampak lebih tenang setelah menerima omelan, bukan berarti ia menikmati pertengkaran. Bisa jadi, ia merasa bahwa omelan tersebut merupakan tanda perhatian, kejujuran emosional, atau bahkan kesempatan untuk memperbaiki hubungan menjadi lebih baik.













































