Hi Urbie’s! Kalau Ed Sheeran atau Dua Lipa merilis lagu pop, kita menyebutnya pop. Sederhana. Tidak ada embel-embel “European Pop” yang harus ditempelkan pada genre mereka. Namun ketika BTS hadir sebagai salah satu grup pop terbesar dari Asia, muncul pertanyaan yang jauh lebih rumit: kenapa musik mereka harus diberi label berdasarkan wilayah?
Pertanyaan inilah yang kembali mencuat setelah BTS memutuskan untuk tidak mengajukan album ARIRANG maupun lagu-lagunya untuk dipertimbangkan dalam Grammy Awards 2027.
Dalam sebuah analisis yang diterbitkan Forbes, kontributor Olivia Shalhoup melihat keputusan tersebut bukan sekadar sebagai bentuk kekecewaan terhadap penghargaan. Ia menilai langkah BTS justru membuka perdebatan yang lebih besar mengenai bagaimana industri musik Amerika memosisikan musik global, khususnya musik dari Asia.
Salah satu poin paling mencolok dalam analisis tersebut adalah pertanyaan sederhana: “Nobody created a ‘Best European Pop Music Performance’ category for Dua Lipa or Ed Sheeran.”
Dan dari sinilah perdebatan menjadi semakin menarik.
Kenapa BTS Harus Masuk “Asian Pop”?
Recording Academy memiliki kategori Best Asian Pop Music Performance dengan alasan untuk memperluas pengakuan terhadap musik dari kawasan Asia.
Secara teknis, kategori tersebut memang bukan berarti para musisi yang masuk ke dalamnya kehilangan kesempatan untuk bersaing di kategori utama Grammy. CEO Recording Academy, Harvey Mason Jr., juga telah menjelaskan bahwa artis yang berada di kategori tersebut tetap dapat bersaing untuk penghargaan seperti Album of the Year, Song of the Year, dan Record of the Year.
Artinya, secara aturan, BTS sebenarnya tidak otomatis “dikeluarkan” dari kompetisi utama.
Namun, menurut analisis Forbes, persoalannya tidak sesederhana aturan eligibility.
Masalahnya adalah label.
Ketika seorang artis Barat cukup disebut sebagai “pop”, sementara artis Asia harus ditempatkan dalam kategori “Asian Pop”, muncul kesan bahwa musik dari kawasan tertentu masih dianggap perlu dikelompokkan berdasarkan asal geografisnya.
Pertanyaannya kemudian berubah dari “Apakah BTS bisa menang Grammy?” menjadi “Mengapa identitas geografis masih menjadi bagian penting dalam cara musik mereka dikategorikan?”
BTS dan Pertanyaan tentang Standar yang Berbeda
BTS bukan pendatang baru dalam percaturan Grammy.
Grup asal Korea Selatan tersebut telah mengantongi lima nominasi Grammy sepanjang perjalanan kariernya. Popularitas mereka juga tidak lagi terbatas pada pasar Asia.
Album ARIRANG bahkan berhasil mencapai posisi No. 1 Billboard 200, memperkuat posisi BTS sebagai salah satu nama terbesar dalam musik global.
Baca Juga:
- 3 Spot Kuliner Baru di iLLago Grande Gading Serpong yang Wajib Dicoba, Ada Sushi Mulai Rp5.000 hingga Cafe Work From Cafe
- Sinopsis Film Deep Water (2026): Berawal dari Satu Power Bank, Penerbangan Berubah Jadi Neraka di Laut Penuh Hiu
- Bunga di Tepi Jurang Tayang 31 Juli, Kisah Perjuangan Andini Siap Bikin Penonton Ikut Merasakan Setiap Emosinya
Karena itu, keputusan untuk tidak mengajukan karya mereka ke Grammy 2027 menjadi semakin signifikan.
Forbes melihatnya sebagai bentuk penggunaan kekuatan yang jarang dilakukan seorang artis: menolak visibilitas institusional demi mempertanyakan sistem yang memberikan visibilitas tersebut.
Bukan karena BTS tidak mampu masuk ke dalam sistem, tetapi justru karena mereka sudah memiliki posisi yang cukup kuat untuk mempertanyakan sistem tersebut.
Bukan Pertama Kalinya Kategori Grammy Diperdebatkan
Perdebatan mengenai kategori Grammy sebenarnya bukan hal baru.
Pada 2011, Recording Academy menghapus 31 kategori penghargaan dan melakukan restrukturisasi besar terhadap sistem kategorisasinya.
Perubahan tersebut memicu protes dari sejumlah kelompok, termasuk pihak yang mewakili musik Native American, Hawaiian, Cajun, dan zydeco. Sejumlah kategori yang sebelumnya lebih spesifik kemudian digabungkan ke dalam kategori yang lebih luas.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa pertanyaan tentang siapa yang dikategorikan, bagaimana sebuah genre didefinisikan, dan apakah pengelompokan tersebut benar-benar membantu representasi sudah lama menjadi bagian dari perdebatan Grammy.
Lebih baru lagi, Grammy memperkenalkan penghargaan terpisah untuk Traditional Country Album dan Contemporary Country Album, setelah kemenangan bersejarah Beyoncé di kategori Best Country Album pada 2025 ikut memicu diskusi mengenai batas genre dan representasi.
Dengan sejarah tersebut, perdebatan mengenai “Asian Pop” menjadi bagian dari diskusi yang lebih panjang tentang bagaimana Grammy menentukan batas-batas musik.
Apakah Kategori Regional Membantu atau Justru Membatasi?
Di satu sisi, kategori regional dapat memberikan ruang kepada musisi yang sebelumnya kurang mendapatkan perhatian.
Tanpa kategori khusus, musisi dari wilayah tertentu mungkin harus berkompetisi langsung dengan nama-nama besar yang sudah memiliki dominasi industri.
Namun di sisi lain, kategori tersebut juga dapat menciptakan pertanyaan baru.
Apakah musik Asia hanya mendapatkan ruang ketika ditempatkan di dalam kategori Asia?
Atau sudah waktunya musik dari Asia dapat diperlakukan sebagai bagian dari musik pop global tanpa harus membawa label geografis?
Itulah inti persoalan yang disoroti Forbes.
Dan perdebatan ini menjadi semakin relevan ketika batas antara musik lokal dan global semakin kabur. BTS sendiri adalah contoh nyata bagaimana sebuah grup Korea dapat memiliki basis penggemar lintas benua, mendominasi tangga lagu Amerika, dan membentuk pengaruh budaya pop global.
BTS Tidak Secara Eksplisit Menyebutnya “Boycott”
Ada satu hal penting yang perlu diluruskan, Urbie’s.
BTS tidak secara eksplisit menyebut keputusan mereka sebagai “segregation” atau “boycott.”
Pernyataan yang dikonfirmasi justru menekankan keinginan agar musik mereka diapresiasi berdasarkan karya itu sendiri, bukan dibagi berdasarkan wilayah atau bahasa.
Sementara itu, tulisan yang menjadi sorotan merupakan analisis dari kontributor Forbes, bukan pernyataan resmi perusahaan Forbes ataupun klaim bahwa BTS secara langsung menggunakan istilah-istilah tersebut.
Perbedaan ini penting agar perdebatan tidak bergeser menjadi narasi yang tidak pernah disampaikan oleh BTS.
Pada akhirnya, keputusan BTS untuk tidak mengajukan ARIRANG ke Grammy 2027 menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih besar daripada satu nominasi.
Kalau musik BTS sudah mampu menembus batas bahasa, negara, dan pasar, mengapa kategorinya masih harus dibatasi oleh wilayah?
Mungkin itulah pertanyaan yang sebenarnya ingin ditinggalkan BTS.
Bukan tentang apakah mereka membutuhkan Grammy.
Tetapi tentang bagaimana sebuah institusi musik terbesar di dunia seharusnya melihat musik yang sudah tidak lagi mengenal batas geografis.


















































