Hi Urbie’s! Ada satu pesan yang cukup keras dari keputusan terbaru Google: teknologi yang berhenti berkembang pada akhirnya akan ditinggalkan. Google secara bertahap menghentikan dukungan Chrome Apps di ChromeOS.
Untuk sebagian besar pengguna, dukungan berakhir lebih cepat, sementara perangkat yang menggunakan kanal Long-Term Support (LTS) masih mendapatkan waktu hingga Oktober 2028. Google juga menegaskan bahwa tidak akan ada pengecualian setelah batas akhir tersebut.
Jadi, kalau Urbie’s masih berpikir, “Ah, 2028 masih lama,” mungkin justru sekarang waktu yang tepat untuk mulai melihat ke depan.
Karena yang sedang terjadi sebenarnya bukan cuma soal satu jenis aplikasi yang dimatikan.
Google sedang mendorong ekosistem menuju web modern, termasuk Progressive Web Apps atau PWA.
Dan buat perusahaan, sekolah, developer, bahkan pemilik website di Indonesia, pertanyaannya menjadi semakin relevan:
Sudah siapkah kita meninggalkan aplikasi web generasi lama?
Chrome Apps Pelan-Pelan Masuk Museum Teknologi
Chrome Apps bukan teknologi baru.
Google sendiri sudah mengumumkan rencana meninggalkan platform tersebut sejak 2016, ketika kemampuan web modern mulai mampu melakukan banyak hal yang sebelumnya membutuhkan Chrome Apps. Google kemudian terus memperpanjang masa transisi untuk pengguna Enterprise dan Education sebelum akhirnya menetapkan jadwal akhir yang sekarang.
Dalam jadwal terbaru, penghentian dilakukan bertahap.
Dukungan untuk Chrome Apps yang dipasang pengguna di ChromeOS telah berakhir pada 2025. Dukungan untuk Chrome Apps dalam mode kiosk berakhir pada 2026, sementara sebagian organisasi masih memiliki masa transisi berikutnya. Pada Januari 2028, ChromeOS versi reguler terakhir yang mendukung Chrome Apps dijadwalkan mencapai akhir masa dukungannya.
Untuk perangkat pada kanal LTS, Chrome Apps masih dapat digunakan hingga Oktober 2028.
Setelah itu, selesai.
Tidak ada perpanjangan lagi.
Google bahkan secara eksplisit menyebut “No exceptions will be granted.”
Kenapa Google Memilih PWA?
Jawabannya sebenarnya cukup masuk akal.
PWA atau Progressive Web App memungkinkan website memiliki pengalaman yang semakin menyerupai aplikasi.
Pengguna bisa memasangnya ke perangkat, membukanya melalui ikon seperti aplikasi, dan dalam skenario tertentu mendapatkan kemampuan seperti bekerja secara offline, menerima notifikasi, serta memanfaatkan API web modern.
Yang menarik, PWA tidak terkunci pada satu ekosistem seperti Chrome Apps.
Google sendiri sebelumnya menjelaskan bahwa PWA dibangun menggunakan standar web modern sehingga dapat memberikan pengalaman yang kaya, dapat diinstal, lebih andal, serta menjangkau berbagai perangkat dengan satu basis kode.
Artinya, developer tidak harus berpikir:
“Saya harus membuat aplikasi khusus untuk platform A, B, dan C.”
Pendekatan web modern memungkinkan satu teknologi melayani lebih banyak pengguna.
Inilah yang membuat PWA menarik bagi perusahaan.
Sekolah dan Perusahaan Sekarang Berpacu dengan Waktu
Dampak penghentian Chrome Apps paling terasa bagi organisasi yang masih menggunakannya dalam aktivitas operasional.
Sekolah yang menggunakan Chromebook, perusahaan dengan sistem internal, hingga perangkat yang bekerja dalam mode kiosk harus memastikan aplikasi lama mereka memiliki pengganti.
Google sendiri menyarankan pengembang beralih ke teknologi web modern. Untuk Chrome Apps yang berfungsi sebagai aplikasi mandiri dengan antarmuka sendiri, web apps menjadi salah satu opsi migrasi. Sementara untuk kebutuhan yang sangat bergantung pada fungsi browser, Google juga menyarankan penggunaan Chrome Extensions.
Jadi, sebenarnya Google tidak sekadar berkata:
“Aplikasi lama kami matikan.”
Mereka juga memberikan arah:
“Bangun ulang menggunakan teknologi web modern.”
Baca Juga:
- 3 Spot Kuliner Baru di iLLago Grande Gading Serpong yang Wajib Dicoba, Ada Sushi Mulai Rp5.000 hingga Cafe Work From Cafe
- Sinopsis Film Deep Water (2026): Berawal dari Satu Power Bank, Penerbangan Berubah Jadi Neraka di Laut Penuh Hiu
- Bunga di Tepi Jurang Tayang 31 Juli, Kisah Perjuangan Andini Siap Bikin Penonton Ikut Merasakan Setiap Emosinya
Lalu Bagaimana dengan Website di Indonesia?
Nah, ini yang menarik.
Urbie’s mungkin pernah membuka sebuah website dan merasa seperti sedang kembali ke tahun 2012.
Loading lama.
Tampilan tidak responsif.
Menu berantakan ketika dibuka lewat smartphone.
Tidak bisa dipasang sebagai aplikasi.
Tidak ada pengalaman offline.
Bahkan beberapa website masih terasa seperti brosur digital yang kebetulan bisa dibuka melalui browser.
Di era ketika pengguna semakin terbiasa dengan aplikasi, kondisi seperti ini menjadi masalah.
Apalagi sebagian besar aktivitas digital masyarakat Indonesia sudah berlangsung melalui perangkat mobile.
Karena itu, pertanyaan tentang seberapa masif adopsi PWA di Indonesia sebenarnya bukan sekadar pertanyaan teknis.
Ini berkaitan dengan kesiapan bisnis menghadapi perilaku pengguna digital yang terus berubah.
PWA Bukan Sekadar Website yang Bisa Di-install
Ada kesalahpahaman yang cukup sering terjadi.
PWA bukan cuma website yang diberi tombol “Add to Home Screen”.
Di baliknya ada sejumlah teknologi web yang memungkinkan pengalaman lebih menyerupai aplikasi.
Salah satu komponen penting adalah service worker, yang memungkinkan developer mengatur bagaimana aplikasi web menangani cache, koneksi jaringan, dan sejumlah fungsi tertentu.
Ada pula web app manifest, yang membantu browser memahami identitas aplikasi, seperti nama, ikon, serta bagaimana aplikasi ditampilkan ketika dipasang.
Hasil akhirnya?
Pengguna bisa memiliki pengalaman yang lebih dekat dengan aplikasi tanpa harus mengunduh aplikasi native dari toko aplikasi.
Dan ini sebenarnya sudah bukan eksperimen.
Google sejak lama menggunakan web modern sebagai contoh bahwa browser mampu memberikan pengalaman aplikasi yang kaya. Mereka bahkan menyebut produk seperti Google Earth dan aplikasi web perusahaan lain sebagai bukti perkembangan kemampuan platform web.
Masalahnya, Banyak Website Masih Berpikir “Yang Penting Bisa Dibuka”
Inilah tantangan terbesar di Indonesia.
Sebagian bisnis masih melihat website hanya sebagai kartu nama digital.
Ada alamat.
Ada nomor WhatsApp.
Ada daftar produk.
Selesai.
Padahal website modern bisa menjadi jauh lebih dari itu.
Website bisa menjadi kanal transaksi, platform membership, sistem reservasi, dashboard pelanggan, alat produktivitas, bahkan aplikasi utama perusahaan.
Ketika pengguna mulai terbiasa dengan pengalaman digital yang cepat dan praktis, website yang sekadar “bisa dibuka” akan semakin sulit bersaing.
PWA menawarkan salah satu jalan untuk menjembatani dunia website dan aplikasi.
Bukan berarti semua website Indonesia wajib berubah menjadi PWA.
Tidak semua bisnis membutuhkan teknologi tersebut.
Namun, untuk layanan yang sering digunakan pengguna dan membutuhkan pengalaman seperti aplikasi, PWA bisa menjadi pilihan yang sangat menarik.
2028 Mungkin Terlihat Jauh, Tapi Migrasi Teknologi Tidak Instan
Urbie’s, dua tahun atau lebih dalam dunia teknologi sebenarnya bukan waktu yang panjang.
Migrasi bukan cuma soal mengganti tampilan.
Perusahaan harus mengaudit sistem lama, mengecek API, database, keamanan, autentikasi, integrasi pihak ketiga, hingga kebiasaan pengguna.
Untuk sekolah dan perusahaan besar, masalahnya bisa lebih kompleks karena satu aplikasi lama mungkin sudah terhubung dengan berbagai sistem internal.
Jadi, menunggu sampai 2028 baru mulai migrasi adalah strategi yang cukup berisiko.
Google sendiri telah memberi waktu transisi selama bertahun-tahun dan kini sudah menetapkan bahwa tidak akan ada pengecualian setelah masa akhir dukungan.
Teknologi Tidak Menunggu Kita Siap
Pada akhirnya, cerita Chrome Apps sebenarnya bukan tentang Google membunuh teknologi lama.
Ini adalah cerita klasik dalam dunia teknologi.
Standar berubah. Perilaku pengguna berubah. Teknologi berkembang.
Yang tidak ikut bergerak akhirnya tertinggal.
PWA mungkin bukan jawaban untuk semua kebutuhan digital. Aplikasi native tetap memiliki tempat. Chrome Extensions juga masih didukung Google. Bahkan untuk beberapa kebutuhan khusus, teknologi lain mungkin lebih tepat.
Tetapi satu hal jelas: masa depan web bergerak menuju pengalaman yang semakin cepat, fleksibel, terintegrasi, dan terasa seperti aplikasi.
Dan untuk perusahaan maupun developer Indonesia, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah PWA keren atau tidak.
Pertanyaannya adalah:
Ketika pengguna sudah terbiasa dengan teknologi digital yang semakin praktis, apakah website kita masih mampu mengejar mereka?
Karena seperti yang sedang ditunjukkan Google lewat matinya Chrome Apps:
di dunia teknologi, berhenti berevolusi bukan berarti tetap di tempat. Kita justru sedang tertinggal.


















































