Home Highlight Kohei Horikoshi Reveal Cover Don’t Laugh, Shijima-san, Kok Mirip Ibu Deku?

Kohei Horikoshi Reveal Cover Don’t Laugh, Shijima-san, Kok Mirip Ibu Deku?

2
0
Kohei Horikoshi Don’t Laugh, Shijima-san - sumber foto shueisha
Kohei Horikoshi Don’t Laugh, Shijima-san - sumber foto shueisha
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Hi Urbie’s!, nama Kohei Horikoshi mungkin langsung membawa pikiran kita pada dunia pahlawan super, Quirk, dan perjalanan panjang Izuku Midoriya bersama teman-temannya di U.A. Namun pada 10 Juli 2026, sang kreator kembali membuat pembaca Weekly Shonen Jump penasaran lewat manga one-shot terbarunya, Don’t Laugh, Shijima-san.

Kali ini Horikoshi tidak mengajak pembaca kembali ke dunia My Hero Academia. Ia justru membuka pintu menuju sesuatu yang sejak lama ingin ia eksplorasi, yaitu cerita horor dengan atmosfer yang lebih gelap dan karakter misterius yang senyumnya justru menjadi sumber ketakutan.

Horikoshi Akhirnya Membuat Manga Horor

“Don’t Laugh, Shijima-san” resmi hadir di Weekly Shonen Jump sebagai sebuah manga one-shot pada 10 Juli 2026. Meski hanya terdiri dari satu cerita, kemunculannya langsung menarik perhatian karena artwork dan desain karakter di dalamnya masih memperlihatkan ciri khas visual Horikoshi.

Bagi pembaca yang sudah mengikuti karya Horikoshi sejak My Hero Academia, kemiripan gaya gambar tersebut tentu terasa familiar. Namun, kesamaan visual itu justru menghasilkan kontras menarik karena karakter-karakter yang biasanya terlihat penuh energi kini ditempatkan dalam situasi yang jauh lebih menyeramkan.

Horikoshi selama ini dikenal lewat cerita shonen yang sarat pertarungan, perkembangan karakter, serta perjuangan para pahlawan. Kali ini, ia seperti mematikan suara keramaian arena pertarungan dan menggantinya dengan keheningan yang membuat pembaca bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Berbeda dari My Hero Academia

My Hero Academia sangat kuat dengan pengaruh struktur cerita shonen klasik, mulai dari perjalanan sang protagonis, rivalitas, persahabatan, hingga pertarungan melawan musuh yang semakin kuat. Formula tersebut membuat manga ini berkembang menjadi salah satu karya besar Horikoshi dengan dunia yang sangat luas.

Namun, “Don’t Laugh, Shijima-san” menawarkan sesuatu yang jauh lebih personal. One-shot ini disebut menjadi ruang bagi sang kreator untuk mengeksplorasi idealisme dan ketertarikannya terhadap genre horor yang sudah lama ingin ia buat.

Pilihan tersebut terasa masuk akal mengingat horor memberikan Horikoshi kesempatan bermain dengan ekspresi, atmosfer, ketegangan, dan rasa tidak nyaman. Alih-alih bertanya siapa yang akan menang dalam pertarungan, pembaca justru dipaksa bertanya siapa sebenarnya Shijima-san dan mengapa sesuatu yang aneh terus terjadi di sekelilingnya.

Senyum Shijima-san Justru Bikin Tidak Nyaman

Tokoh utama dalam one-shot ini adalah seorang gadis misterius bernama Shijima-san. Ia digambarkan sebagai sosok yang terus mengalami berbagai kejadian aneh di sekitarnya, seolah ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara logis.

Namun ada satu detail yang membuat karakter ini semakin mengganggu: senyumnya. Shijima-san selalu memperlihatkan senyum aneh yang membuatnya terlihat seperti orang yang sedang kerasukan.

Baca Juga:

Dalam cerita horor, ekspresi wajah sering kali bisa jauh lebih menakutkan daripada monster yang terlihat jelas. Senyum yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan justru berubah menjadi sesuatu yang membuat pembaca merasa bahwa ada bahaya yang sedang bersembunyi di balik wajah Shijima-san.

Artwork Horikoshi Masih Terasa, Tapi Atmosfernya Berubah

Salah satu hal yang kemungkinan besar langsung diperhatikan penggemar adalah artwork “Don’t Laugh, Shijima-san”. Gaya visual Horikoshi masih sangat mudah dikenali, mulai dari bentuk karakter hingga detail ekspresi wajah yang menjadi salah satu kekuatannya.

Namun, konteksnya kali ini berbeda. Ekspresi wajah yang dalam My Hero Academia bisa digunakan untuk memperlihatkan emosi atau intensitas pertarungan, di sini justru menjadi alat untuk membangun rasa takut.

Karakter Shijima-san menjadi contoh paling jelas. Dengan desain yang tetap membawa identitas visual Horikoshi, ia justru terasa semakin menyeramkan ketika ekspresi senyumnya ditempatkan dalam situasi yang tidak normal.

Cover Bikin Penggemar My Hero Academia Salah Fokus

Tidak hanya karakter dan artwork di dalam cerita yang menarik perhatian, bagian cover “Don’t Laugh, Shijima-san” juga memunculkan komentar dari penggemar My Hero Academia. Penampilan karakter perempuan pada cover bahkan disebut mengingatkan sebagian pembaca pada Inko Midoriya, ibu dari Izuku Midoriya.

Kemiripan tersebut tentu saja menjadi bahan menarik bagi penggemar yang sudah lama mengikuti karya Horikoshi. Apakah memang ada kemiripan yang disengaja atau hanya efek dari gaya gambar sang kreator yang begitu khas, pembaca tentu memiliki interpretasinya masing-masing.

Namun satu hal yang jelas, Horikoshi tampaknya tidak berusaha memutus seluruh jejak visual dari karya sebelumnya. Ia justru membawa ciri khas tersebut ke dalam genre berbeda dan melihat seberapa jauh gaya gambarnya dapat menciptakan rasa takut.

Apakah Ini Awal Horikoshi Masuk Dunia Horor?

“Don’t Laugh, Shijima-san” mungkin hanya sebuah one-shot, tetapi kehadirannya membuka pertanyaan menarik mengenai kemungkinan karya Horikoshi berikutnya. Setelah bertahun-tahun membangun dunia superhero yang kompleks melalui My Hero Academia, apakah sang mangaka akhirnya ingin memberi ruang lebih besar kepada sisi horornya?

Belum ada kepastian mengenai arah tersebut. Namun, pilihan Horikoshi untuk membuat cerita horor menunjukkan bahwa kreativitas seorang mangaka tidak selalu harus terikat pada genre yang membuat namanya terkenal.

Bagi Urbie’s yang mengenal Horikoshi hanya lewat My Hero Academia, “Don’t Laugh, Shijima-san” bisa menjadi kesempatan untuk melihat wajah lain sang kreator. Kali ini tidak ada pahlawan yang datang menyelamatkan keadaan, tidak ada Quirk untuk menjelaskan kejadian aneh, dan mungkin justru senyum Shijima-san yang harus membuat kita bertanya apakah ada sesuatu yang jauh lebih menyeramkan di baliknya.

Satu hal yang pasti, ketika seorang kreator yang selama ini dikenal lewat superhero akhirnya membuat pembaca takut hanya dengan sebuah senyuman, rasa penasaran terhadap karya berikutnya tentu menjadi semakin besar.