Home Highlight Black Mirror di Dunia Nyata? Aplikasi 2wai Bikin Kamu Bisa Ngobrol dengan...

Black Mirror di Dunia Nyata? Aplikasi 2wai Bikin Kamu Bisa Ngobrol dengan Orang yang Sudah Tiada

350
0
2wai app Black Mirror real life - sumber foto 2wai
2wai app Black Mirror real life - sumber foto 2wai

Hi Urbie’s! Bayangin deh, kamu lagi kangen banget sama seseorang yang udah nggak ada—dan tiba-tiba ada aplikasi yang bisa bikin kamu ngobrol lagi sama versi digitalnya. Kedengarannya kayak plot episode Black Mirror, kan? Tapi ini nyata. Namanya 2wai, aplikasi baru yang belakangan bikin dunia maya heboh.

“Black Mirror Just Came to Life”

Aplikasi 2wai ini digagas oleh Calum Worthy, aktor dan co-founder yang punya visi besar: menghidupkan kembali interaksi manusia lewat teknologi. Pitch-nya sederhana tapi bikin merinding:

“Upload video pendek seseorang, dan kami akan buat versi digitalnya yang bisa bicara, tersenyum, dan menjawab kamu kembali.”

Yes, kamu cukup mengunggah beberapa menit video seseorang—dan 2wai akan menciptakan avatar digital interaktif yang meniru suara, ekspresi wajah, hingga gaya bicara orang itu.

Kamu bisa chat langsung lewat ponsel, dan avatar itu akan merespons layaknya orang asli. Kedengarannya keren banget, tapi juga… agak menyeramkan, ya, Urbie’s?

Ngobrol Lagi dengan Orang yang Sudah Tiada?

Nah, di sinilah kontroversinya dimulai.
Salah satu fitur yang paling dipromosikan oleh 2wai adalah: kemampuan “berbicara” dengan seseorang yang telah meninggal.

Dalam salah satu iklannya, digambarkan seorang pengguna yang “bertemu kembali” dengan keluarganya yang sudah tiada melalui versi digital mereka. Secara emosional, ini powerful banget. Tapi di sisi lain, banyak yang merasa itu melanggar batas antara kenyataan dan ilusi.

Beberapa netizen menyebutnya sebagai “comforting but creepy”—menghibur tapi mengerikan.

Cara Kerja Teknologi 2wai

Secara teknis, 2wai bekerja dengan cara menganalisis pola ekspresi, suara, dan gaya bicara dari video pendek yang kamu unggah.
Setelah itu, sistem akan membuat prediksi AI tentang bagaimana orang itu mungkin akan berbicara dalam berbagai konteks.

Masalahnya, Urbie’s, AI itu nggak benar-benar “tahu” siapa orangnya.
Ia hanya meniru pola, bukan kepribadian. Jadi, kadang avatar bisa mengucapkan hal-hal yang “nggak nyambung” atau bahkan terasa out of character.

Bayangin kalau versi digital dari seseorang yang kamu cintai tiba-tiba bicara dengan nada yang nggak sesuai dengan kepribadiannya di dunia nyata—itu bisa bikin perasaan campur aduk banget.

Baca Juga:

Antara Terapi dan Trauma

Beberapa orang bilang teknologi ini bisa membantu proses berduka.
Misalnya, seseorang yang kehilangan anggota keluarga bisa merasa lebih tenang karena masih bisa “berkomunikasi.”

Tapi para psikolog mengingatkan, justru di situlah bahayanya.
Rasa kehilangan adalah bagian alami dari proses hidup, dan terlalu bergantung pada versi digital orang yang sudah tiada bisa membuat seseorang terjebak dalam ilusi.

Alih-alih sembuh, seseorang bisa jadi menunda proses penerimaan.
Bukannya benar-benar “move on,” mereka malah hidup dalam bayangan masa lalu yang dibuat oleh AI.

Isu Etika dan Hak Cipta Wajah

Selain aspek emosional, muncul juga pertanyaan besar soal etika dan hak atas citra diri (likeness rights).
Apakah etis membuat versi digital seseorang tanpa izin mereka?
Bagaimana jika avatar itu digunakan secara salah—atau bahkan dimodifikasi untuk tujuan komersial?

Tanpa regulasi yang jelas, potensi penyalahgunaan bisa sangat besar.
Bayangin kalau wajah seseorang “dipinjam” untuk konten, promosi, atau bahkan manipulasi digital tanpa sepengetahuannya.

Dunia yang Semakin Blur antara Nyata dan Digital

Teknologi seperti 2wai menunjukkan seberapa cepat AI Generatif berkembang.
Di satu sisi, kita punya peluang besar untuk menciptakan koneksi emosional baru, melestarikan kenangan, bahkan mungkin membantu mereka yang berduka.
Tapi di sisi lain, garis batas antara kenyataan dan simulasi makin kabur.

Pertanyaannya, Urbie’s, apakah kita benar-benar siap hidup di dunia di mana kenangan bisa dibangkitkan, tapi tanpa jiwa di baliknya?

Masa Depan atau Peringatan?

Bisa jadi, 2wai hanya permulaan dari era baru “AI Reincarnation.”
Namun seperti semua inovasi besar, teknologi ini juga membawa dilema moral yang nggak kalah besar.

Mungkin ke depannya kita akan lihat aturan hukum baru tentang hak digital seseorang setelah meninggal, atau bahkan konsep baru soal privasi setelah kematian.

Yang jelas, realitas yang dulu cuma ada di Black Mirror, sekarang sudah ada di genggaman kita.
Pertanyaannya tinggal satu:

Apakah kita mengendalikan teknologi, atau justru teknologi yang mulai mengendalikan kita?