Hi Urbie’s!, pernah nggak merasa kesepian meski dikelilingi banyak orang? Nyatanya, rasa sepi yang sering kita anggap remeh ini sudah masuk kategori ancaman kesehatan global. Bukan cuma isu emosional, kesepian kini disejajarkan dengan epidemi kesehatan yang harus ditangani serius. Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa isolasi sosial atau kesepian dalam jangka panjang bisa meningkatkan risiko kematian dini hingga 26–32 persen, setara dengan merokok 15 batang rokok sehari. Lebih mencengangkan lagi, gabungan data WHO dan PBB tahun 2025 mencatat bahwa setiap 35 detik, ada satu orang di dunia yang meninggal akibat dampak kesepian.
Kesepian Bukan Lagi Masalah Emosional, Tapi Krisis Kesehatan
Kesepian sering dimulai secara perlahanâ€â€dari interaksi yang makin tipis, rutinitas yang makin padat, sampai hubungan sosial yang terasa makin renggang. Tanpa disadari, kondisi ini menggerogoti kesehatan mental sekaligus fisik. WHO menegaskan bahwa kesepian berkaitan dengan risiko penyakit jantung, stroke, depresi berat, gangguan imun, hingga peningkatan risiko kematian dini. Ini bukan sekadar mood buruk atau bad day, tetapi kondisi serius yang memengaruhi kualitas hidup.
Laporan WHO 2024 dan PBB 2025 juga menyebut bahwa dunia membutuhkan upaya besar untuk mengatasi kesepian. Pemerintah didorong menciptakan ruang publik yang mendorong interaksi, komunitas perlu membangun jaring sosial yang inklusif, sementara individu diminta lebih aktif merawat hubungan sosialnya. Hal-hal kecil seperti menyapa tetangga, meluangkan waktu untuk keluarga, atau bergabung dengan komunitas lokal ternyata punya pengaruh besar dalam menurunkan risiko isolasi sosial.
Potret Kesepian di Indonesia: 1 dari 5 Orang Merasakannya Setiap Pekan
Indonesia sendiri tidak luput dari ancaman epidemi kesepian ini. Riset Litbang Kompas 2025 mengungkap bahwa hampir satu dari lima orang Indonesiaâ€â€atau sekitar 19,97 persen respondenâ€â€mengaku merasakan kesepian setidaknya sekali dalam sepekan. Riset ini dilakukan di tiga puluh kota dengan kriteria populasi lebih dari seratus ribu jiwa dan kepadatan lebih dari 4.500 jiwa per kilometer persegi.
Menariknya, indeks ini tidak mengukur perasaan individu secara langsung, melainkan kerentanan suatu kota terhadap kesepian. Kerentanan ini dianalisis berdasarkan struktur demografis, kepadatan penduduk, kualitas ruang publik, infrastruktur sosial, hingga dinamika populasi. Semakin tinggi skornya, semakin tinggi pula kemungkinan warganya merasa kesepian. Artinya, bukan berarti setiap orang di kota tersebut merasa sendiri, tetapi lingkungan kota berpotensi besar memicu kondisi tersebut.
Kota-Kota Rentan Kesepian: Antara Padat, Sibuk, dan Tak Punya Waktu Terhubung
Beberapa kota mencatat tingkat kerentanan cukup tinggi. Tangerang dan Bekasi, misalnya, menampilkan fenomena urbanisasi yang ekstrem. Mobilitas cepat, ritme kerja padat, dan minimnya waktu bersosialisasi membuat warganya rentan mengalami isolasi. Banyak orang berangkat pagi dan pulang larut malam, sehingga interaksi sosial hanya tersisa dalam waktu singkat.
Kota-kota lain seperti Cirebon, Pontianak, Pekanbaru, dan Makassar memperlihatkan dinamika perkotaan yang berubah cepat. Pertumbuhan penduduk tinggi dan struktur sosial yang bergeser membuat hubungan jangka panjang sulit dibangun. Sementara itu, Yogyakarta dan Surakarta yang dikenal sebagai kota pelajar juga mencatat kerentanan yang tak kalah tinggi. Mobilitas mahasiswa yang cepat, hubungan sosial yang sifatnya sementara, serta lingkungan sosial yang berubah setiap tahun membuat banyak orang sulit memiliki support system stabil.
Penelitian ini mempertegas bahwa kesepian bukan hanya masalah yang dialami mereka yang hidup sendiri. Bahkan kota yang padat, bising, dan ramai justru bisa menjadi tempat paling sunyi. Ketika ruang publik tidak ramah interaksi, tekanan ekonomi tinggi, dan ritme hidup serbacepat, orang perlahan kehilangan kesempatan untuk merasa terhubung dengan orang lain.
Baca Juga:
- Instagram Resmi Perpanjang Durasi Reels Jadi 20 Menit, Urbie’s! Era Baru Konten Vertikal Dimulai
- Perawatan Rambut Baru untuk Rambut Diwarnai dan Sering Distyling
- Inilah Alasan Harus Menyertakan KTP Saat Menukar Uang di Money Changer
Bisakah Kesepian Dicegah? Jawabannya: Bisa Banget
Kabar baiknya, Urbie’s!, kesepian bukan kondisi permanen. Ada banyak cara untuk menguranginya. Membangun percakapan kecil dengan orang sekitar, lebih membuka diri pada lingkungan, atau ikut komunitas bisa menjadi langkah sederhana untuk menciptakan koneksi baru. Kehangatan manusia tidak selalu harus datang dari hal besar; sering kali ia tumbuh dari interaksi-interaksi kecil yang konsisten.
Di tengah ancaman global ini, WHO dan PBB menegaskan bahwa dunia membutuhkan gerakan kolektif. Pemerintah perlu memperbanyak ruang interaksi sosial yang aman dan nyaman, komunitas harus menjadi tempat inklusif bagi semua, dan individu perlu menyadari bahwa meminta bantuan bukanlah kelemahan. Justru itu adalah langkah pertama menuju pemulihan.
Menutup Tahun dengan Refleksi: Jangan Biarkan Dunia Terasa Terlalu Sunyi
Jadi, Urbie’s!, kalau akhir-akhir ini kamu merasa dunia terasa sunyi, jangan memendam sendiri. Ingat bahwa kesepian bisa mematikan, tapi juga bisa dicegah. Mungkin yang kamu butuhkan bukan notifikasi baru, melainkan percakapan tulus dari seseorang yang peduli. Dan siapa tahu, langkah kecilmu hari ini bisa jadi penyelamat bagi orang lain yang juga diam-diam merasa sepi.
Jika kamu berada di kota besar, kota pelajar, atau bahkan kota kecil, selalu ada orang yang siap mendengarkan. Yang penting, jangan berhenti mencoba terhubung. Sebab pada akhirnya, manusia butuh manusia  dan itu bukan kelemahan, melainkan kekuatan terbesar kita.








