Home Highlight Daya Beli Tertekan, Upah Riil Pekerja Indonesia Terus Menurun hingga 2024

Daya Beli Tertekan, Upah Riil Pekerja Indonesia Terus Menurun hingga 2024

305
0
ilustrasi Upah Riil Pekerja Indonesia - sumber foto ChatGPT
ilustrasi Upah Riil Pekerja Indonesia - sumber foto ChatGPT

Hi Urbie’s! Di tengah hiruk-pikuk pertumbuhan ekonomi dan geliat konsumsi yang terlihat di pusat perbelanjaan, ada satu indikator yang diam-diam bercerita lebih jujur tentang kondisi hidup pekerja Indonesia: upah riil. Angka ini bukan sekadar nominal gaji di slip bulanan, melainkan cerminan nyata seberapa jauh pendapatan mampu mengejar harga kebutuhan hidup yang terus bergerak naik.

Dalam laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) edisi Desember 2025, Bank Dunia mencatat sebuah fakta yang patut menjadi perhatian: upah riil kelas pekerja di Indonesia mengalami penurunan rata-rata 1,1% per tahun sepanjang periode 2018–2024. Artinya, meski banyak orang tetap bekerja dan menerima gaji, daya beli mereka justru perlahan tergerus oleh inflasi.

Apa Itu Upah Riil dan Mengapa Penting?

Upah riil merupakan indikator yang menggambarkan daya beli pekerja dari pendapatan yang diterima, dengan memperhitungkan inflasi. Bank Dunia memanfaatkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) dari Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengukur indikator ini.

Dengan kata lain, upah riil menjawab pertanyaan sederhana tapi krusial: apakah gaji hari ini benar-benar cukup untuk hidup layak dibanding beberapa tahun lalu? Dan jawabannya, menurut Bank Dunia, cenderung mengkhawatirkan bagi sebagian besar pekerja.

Tidak Semua Pekerja Mengalami Hal yang Sama

Menariknya, laporan tersebut juga menunjukkan ketimpangan antar kelompok pekerja. Di saat upah riil kelas pekerja secara umum mengalami penurunan, pekerja berkeahlian rendah justru masih mencatat kenaikan tipis sekitar 0,3% per tahun.

Namun, kenaikan ini terbilang sangat terbatas dan belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan biaya hidup di banyak daerah. Terlebih, pekerjaan berkeahlian rendah sering kali identik dengan tingkat produktivitas rendah, perlindungan sosial minim, dan kerentanan terhadap guncangan ekonomi.

Lapangan Kerja Bertambah, Tapi Kualitasnya?

Bank Dunia mencatat bahwa penyerapan tenaga kerja di Indonesia memang meningkat sekitar 1,3% dari Agustus 2024 ke Agustus 2025. Sekilas, ini tampak sebagai kabar positif. Namun jika ditelusuri lebih dalam, kualitas lapangan kerja yang tercipta justru menjadi tanda tanya besar.

Mayoritas pekerjaan baru hadir di sektor-sektor dengan produktivitas rendah. Sektor pertanian menyerap tambahan sekitar 0,49 juta pekerja, sementara sektor akomodasi dan makan minum menambah sekitar 0,42 juta pekerja. Dua sektor ini dikenal padat karya, namun sering kali menawarkan upah rendah dan stabilitas kerja yang terbatas.

Bagi Bank Dunia, kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kesempatan kerja belum sepenuhnya diiringi peningkatan kualitas pekerjaan. Banyak pekerja memang terserap, tetapi tidak cukup terlindungi dari tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

Baca Juga:

Dampak ke Konsumsi Rumah Tangga

Konsekuensi dari melemahnya upah riil tidak berhenti di level individu. Bank Dunia memperingatkan bahwa konsumsi rumah tangga Indonesia berpotensi tumbuh stagnan hingga 2027 jika persoalan kualitas pekerjaan dan daya beli tidak segera diatasi.

Padahal, konsumsi rumah tangga selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional. Ketika daya beli melemah, rumah tangga cenderung menahan belanja, mengurangi pengeluaran non-esensial, dan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial.

Dalam jangka panjang, situasi ini bisa menciptakan lingkaran yang sulit diputus: upah riil stagnan menekan konsumsi, konsumsi melemah menahan pertumbuhan ekonomi, dan pertumbuhan yang melambat kembali membatasi penciptaan pekerjaan berkualitas.

Realita di Balik Angka

Di balik angka-angka ini, ada realitas yang dirasakan langsung oleh banyak pekerja. Gaji mungkin naik secara nominal, tetapi biaya sewa, pangan, transportasi, dan pendidikan meningkat lebih cepat. Hasilnya, standar hidup terasa stagnan—bahkan mundur—meski jam kerja tetap panjang.

Laporan Bank Dunia ini, yang dilansir dan diulas oleh CNBC Indonesia, menjadi pengingat bahwa pemulihan ekonomi tidak cukup diukur dari pertumbuhan PDB atau tingkat penyerapan tenaga kerja semata. Daya beli dan kualitas pekerjaan harus menjadi bagian utama dari narasi pembangunan.

Tantangan Menuju 2027

Ke depan, tantangan terbesar Indonesia bukan hanya menciptakan lebih banyak lapangan kerja, tetapi menciptakan pekerjaan yang lebih produktif, stabil, dan mampu melindungi daya beli pekerja. Tanpa itu, pertumbuhan ekonomi berisiko terasa jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Bagi Urbie’s, laporan ini memberi konteks penting tentang mengapa banyak orang merasa “kerja terus tapi tetap pas-pasan.” Di tengah optimisme pembangunan, data Bank Dunia mengingatkan bahwa kesejahteraan sejati baru tercapai ketika pertumbuhan ekonomi benar-benar terasa di dompet pekerja.