Home Highlight Wacana Rusia Matikan Listrik dan Internet di Malam Hari demi Dongkrak Angka...

Wacana Rusia Matikan Listrik dan Internet di Malam Hari demi Dongkrak Angka Kelahiran

421
0
Wacana Rusia Matikan Listrik dan Internet - sumber foto MetaAi
Wacana Rusia Matikan Listrik dan Internet - sumber foto MetaAi

Hi Urbie’s, bayangkan sebuah negara mematikan listrik dan internet di malam hari—bukan karena krisis energi, tapi demi satu tujuan besar: membuat warganya punya lebih banyak anak. Inilah wacana yang tengah ramai dibicarakan di Rusia. Pemerintah setempat disebut-sebut mempertimbangkan pembatasan listrik dan akses internet pada jam malam sebagai cara “memaksa halus” masyarakat berhenti bermain gawai, tidur lebih awal, dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Ide ini terdengar sederhana, bahkan ekstrem. Logikanya, jika ponsel dan internet dimatikan pada malam hari, pasangan akan lebih banyak berinteraksi langsung, kualitas istirahat meningkat, dan pada akhirnya angka kelahiran pun terdongkrak. Pendukung wacana ini menilai gawai telah menjadi salah satu “musuh tak kasat mata” yang menggerus keintiman keluarga modern.

Gadget Dianggap Biang Turunnya Angka Kelahiran

Urbie’s, para pendukung kebijakan ini berangkat dari kekhawatiran nyata: angka kelahiran Rusia yang terus menurun. Dalam pandangan mereka, kebiasaan menatap layar hingga larut malam membuat pasangan kurang tidur, kurang berkomunikasi, dan semakin jauh secara emosional. Gawai dinilai mengambil waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk berbincang, beristirahat, atau membangun kedekatan.

Dengan mematikan listrik dan internet di malam hari, masyarakat “dipaksa” kembali ke rutinitas lama: tidur lebih cepat, bangun lebih segar, dan menghabiskan waktu tanpa distraksi digital. Dalam narasi pendukungnya, kebijakan ini bukan soal pembatasan kebebasan, melainkan upaya mengembalikan keseimbangan hidup keluarga.

Bagi mereka, teknologi—yang awalnya mempermudah hidup—justru kini dianggap ikut mempercepat krisis demografi. Maka, solusi yang ditawarkan pun terdengar radikal.

Kritik: Masalahnya Bukan Sekadar Internet

Namun Urbie’s, wacana ini langsung menuai kritik tajam. Banyak pihak menilai mematikan listrik dan internet hanyalah solusi instan yang tidak menyentuh akar masalah. Para kritikus berpendapat, rendahnya angka kelahiran tidak bisa disederhanakan hanya karena kebiasaan bermain ponsel di malam hari.

Masalah utama yang disorot adalah biaya hidup yang tinggi. Harga rumah yang mahal, biaya pengasuhan anak yang terus naik, serta ketidakpastian ekonomi membuat banyak pasangan muda menunda atau bahkan mengubur rencana punya anak. Dalam kondisi seperti itu, mematikan internet dinilai tidak akan mengubah keputusan besar soal membangun keluarga.

Selain itu, kebijakan ini juga dianggap berpotensi melanggar hak dasar warga, terutama dalam hal akses informasi dan kebebasan berkomunikasi. Internet bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana kerja, pendidikan, dan koneksi sosial—terutama bagi mereka yang bekerja di malam hari.

Baca Juga:

Antara Regulasi dan Realitas Sosial

Urbie’s, perdebatan ini membuka diskusi yang lebih luas tentang bagaimana negara seharusnya merespons krisis demografi. Apakah dengan regulasi ketat yang mengatur kehidupan pribadi warganya, atau dengan kebijakan ekonomi dan sosial yang lebih menyentuh kebutuhan nyata?

Banyak pengamat menilai, solusi yang lebih efektif justru ada pada penyediaan perumahan terjangkau, subsidi pengasuhan anak, cuti orang tua yang layak, serta jaminan stabilitas kerja. Tanpa itu, kebijakan simbolik seperti mematikan internet dikhawatirkan hanya akan memicu resistensi publik.

Di era digital, membatasi teknologi juga bukan perkara mudah. Masyarakat bisa mencari cara alternatif, mulai dari sumber listrik mandiri hingga jaringan pribadi. Artinya, efektivitas kebijakan ini pun dipertanyakan.

Fenomena Global, Bukan Hanya Rusia

Menariknya, Urbie’s, isu penurunan angka kelahiran bukan hanya dialami Rusia. Banyak negara maju dan berkembang menghadapi tantangan serupa. Bedanya, pendekatan yang diambil berbeda-beda. Ada yang fokus pada insentif finansial, ada pula yang memperbaiki sistem kesejahteraan keluarga.

Wacana Rusia ini justru menonjol karena pendekatannya yang tidak biasa—mengintervensi gaya hidup malam hari warganya. Di satu sisi, ini menunjukkan kepanikan negara terhadap krisis demografi. Di sisi lain, ini memicu pertanyaan besar: sejauh mana negara boleh mengatur kehidupan privat demi kepentingan nasional?

Antara Niat Baik dan Dampak Nyata

Urbie’s, niat di balik wacana ini mungkin lahir dari kekhawatiran nyata akan masa depan populasi. Namun kebijakan publik tak hanya dinilai dari niat, melainkan dari dampaknya di lapangan. Tanpa solusi menyeluruh atas masalah ekonomi, perumahan, dan pengasuhan anak, pembatasan listrik dan internet berisiko menjadi kebijakan populis yang minim hasil.

Pada akhirnya, pertanyaan besarnya tetap sama: apakah mematikan layar ponsel bisa menyalakan kembali keinginan orang untuk membangun keluarga? Atau justru menambah daftar kebijakan kontroversial yang gagal menjawab persoalan mendasar?

Urbie’s, di tengah dunia yang semakin digital, kisah Rusia ini menjadi pengingat bahwa teknologi sering dijadikan kambing hitam. Padahal, keputusan untuk punya anak hampir selalu berakar pada rasa aman—secara ekonomi, sosial, dan emosional. Dan itu tidak bisa dimatikan hanya dengan memencet saklar listrik.