Hi Urbie’s! Di tengah antusiasme global menyambut THE ONE PIECE, proyek remake ambisius dari anime legendaris One Piece garapan WIT Studio yang didukung Netflix, sebuah kabar emosional datang dari sosok yang selama puluhan tahun menjadi nyawa Monkey D. Luffy. Mayumi Tanaka, pengisi suara ikonik Luffy sejak 1999, mengungkap bahwa dirinya sempat meminta WIT Studio untuk mempertimbangkan pengisi suara lain untuk versi remake tersebut. Namun, permintaan itu pada akhirnya tidak dikabulkan.
Pengakuan ini langsung mengguncang hati para penggemar. Bagi jutaan penonton di seluruh dunia, suara Mayumi Tanaka bukan sekadar elemen teknis, melainkan identitas yang menyatu dengan karakter Luffy. Kini, di usia 70 tahun, Tanaka menyampaikan bahwa ia akan tetap mengisi suara Luffy di serial One Piece versi original, namun memilih untuk tidak terlibat dalam proyek remake THE ONE PIECE.
Mayumi Tanaka Suara Luffy yang Menemani Lebih dari Dua Dekade
Sejak penayangan perdana One Piece pada 1999, suara Mayumi Tanaka telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan panjang kru Topi Jerami. Dari awal petualangan di East Blue hingga konflik besar di New World, tawa khas, teriakan penuh semangat, dan emosi Luffy selalu hadir melalui interpretasi Tanaka.
Bagi banyak penggemar, suara tersebut adalah memori kolektif yang tumbuh bersama waktu. Ia bukan hanya menghidupkan Luffy sebagai karakter, tetapi juga membentuk kepribadian sang kapten Topi Jerami sebagai simbol kebebasan, persahabatan, dan mimpi besar.
Permintaan yang Lahir dari Kesadaran Zaman
Dalam pernyataannya, Tanaka menjelaskan bahwa permintaannya kepada WIT Studio lahir dari kesadaran akan perubahan zaman. Ia menilai bahwa remake THE ONE PIECE dirancang sebagai gerbang bagi generasi baru, dengan kualitas animasi modern, tempo cerita yang disesuaikan, dan pendekatan visual yang lebih sinematik.
Menurutnya, versi remake seharusnya memiliki identitas sendiri, termasuk dalam hal pengisi suara. Dengan memberi kesempatan pada voice actress baru, Tanaka berharap karakter Luffy dapat hidup kembali dalam interpretasi yang segar, tanpa harus terus bergantung pada suara yang telah melekat dengan era lama.
WIT Studio Memilih Menjaga Warisan
Meski demikian, WIT Studio mengambil keputusan berbeda. Studio yang dikenal lewat karya-karya besar seperti Attack on Titan dan Vinland Saga ini memutuskan untuk tetap mempertahankan Mayumi Tanaka sebagai suara Luffy dalam remake THE ONE PIECE.
Keputusan tersebut dipandang sebagai upaya menjaga kesinambungan emosional antara versi original dan remake. Bagi WIT Studio, suara Tanaka adalah bagian dari esensi One Piece yang sulit dipisahkan, bahkan ketika cerita tersebut dihadirkan ulang dengan pendekatan visual dan narasi baru.
Momen Emosional bagi Penggemar One Piece
Bagi Urbie’s, situasi ini menghadirkan perasaan campur aduk. Ada rasa syukur karena suara ikonik Luffy masih akan terdengar, namun juga ada kesedihan ketika menyadari bahwa Tanaka sendiri memilih untuk tidak terlibat dalam versi baru cerita tersebut.
Media sosial dipenuhi ungkapan terima kasih dan rasa hormat kepada Tanaka atas dedikasinya selama lebih dari 25 tahun. Banyak penggemar menyadari bahwa keputusan ini bukan tentang mundur, melainkan tentang memberi ruang bagi masa depan.
Baca Juga:
- Aktor Keturunan Indonesia Gilli Jones Masuk Radar Disney Lewat Audisi Tangled
- Ternyata Ini 5 Alasan Mall Selalu Obral Diskon Gede-Gedean Pas Akhir Tahun!
- Inilah 5 Tips Aman dan Nyaman Naik Kapal Feri Buat Pemula Saat Musim Hujan
Transisi Generasi dalam Dunia One Piece
Keputusan Mayumi Tanaka menandai fase penting dalam perjalanan One Piece sebagai waralaba lintas generasi. Remake THE ONE PIECE bukan sekadar proyek nostalgia, tetapi simbol bahwa dunia ciptaan Eiichiro Oda harus terus beradaptasi agar relevan bagi audiens baru.
Dengan Tanaka tetap menjaga “roh” Luffy di versi original, sementara remake membuka jalan menuju interpretasi baru, One Piece menunjukkan kemampuannya untuk menghormati masa lalu tanpa takut melangkah ke depan.
Mayumi Tanaka, Luffy, Suara, dan Perjalanan Menuju Era Baru
Mayumi Tanaka menegaskan bahwa cintanya pada Luffy tidak pernah pudar. Keputusannya untuk tidak terlibat langsung dalam remake adalah bentuk kepedulian terhadap masa depan karakter tersebut. Ia ingin memastikan bahwa One Piece terus hidup, bahkan ketika generasi di balik layar berubah.
Saat THE ONE PIECE bersiap tayang dan membuka lembaran baru, momen ini menjadi pengingat bahwa di balik petualangan epik dan tawa khas Luffy, ada perjalanan manusia nyata yang tumbuh bersama karakter yang mereka hidupkan. Bagi Urbie’s, ini bukan akhir dari suara Luffy, melainkan awal dari era baru—sebuah pelayaran panjang yang terus berlanjut, membawa One Piece menuju masa depan tanpa melupakan asal-usulnya.






















































