Hi Urbie’s! Di tengah derasnya arus budaya pop baru, algoritma media sosial, dan tren musik yang silih berganti, satu kekhawatiran muncul dari sosok yang lahir langsung dari sejarah musik dunia. Sean Ono Lennon, putra dari legenda The Beatles John Lennon dan seniman avant-garde Yoko Ono, mengungkapkan kecemasannya: bagaimana jika generasi masa depan perlahan melupakan dampak budaya The Beatles serta karya orang tuanya?
Pernyataan itu ia sampaikan dalam wawancara terbarunya bersama CBS Sunday Morning. Kini berusia 50 tahun, Sean berada di titik hidup yang berbedaâ€â€bukan lagi sekadar anak dari ikon dunia, melainkan penjaga warisan budaya yang membentuk abad ke-20.
Ketika Warisan Tak Lagi Dijamin Abadi
Dalam wawancara tersebut, Sean berbicara dengan nada reflektif dan jujur. Ia menyadari bahwa waktu, perubahan selera, dan pergantian generasi bisa membuat bahkan nama sebesar The Beatles tidak lagi otomatis relevan.
“Aku hanya berusaha sebaik mungkin untuk memastikan generasi muda tidak melupakan The Beatles dan John serta Yoko,” ujar Sean. “Itu cara aku memandang peranku sekarang.”
Pernyataan ini terasa kuat, Urbie’s, karena datang dari seseorang yang tumbuh di tengah mitologi besar musik dunia. Selama bertahun-tahun, nama John Lennon dan The Beatles seolah tak tergoyahkanâ€â€selalu hadir di buku sejarah, playlist klasik, dan diskusi budaya pop. Namun bagi Sean, asumsi itu kini mulai ia pertanyakan.
Saat ditanya apakah ia percaya warisan tersebut bisa memudar seiring waktu, jawabannya mengejutkan.
“Aku percaya, sebenarnya. Dan sebelumnya aku tidak pernah berpikir begitu,” katanya.
Peran Baru Sean Ono Lennon
Kekhawatiran ini muncul seiring perubahan besar dalam hidup keluarganya. Yoko Ono, yang kini berusia 92 tahun, telah pensiun dari keterlibatan aktif dalam pengelolaan warisan John Lennon. Dengan mundurnya Yoko dari peran publik dan profesional, tanggung jawab tersebut secara alami mulai bergeser ke pundak Sean.
Bagi Sean, ini bukan hanya soal menjaga katalog musik atau arsip sejarah, tetapi juga menjaga relevansi makna. Musik The Beatles dan karya John Lennon bukan sekadar laguâ€â€ia adalah refleksi zaman, gerakan sosial, dan pesan perdamaian yang membentuk generasi.
Namun tantangannya nyata. Generasi muda hari ini tumbuh dengan referensi yang sangat berbeda. Nama-nama baru muncul setiap minggu, sementara karya klasik sering kali terpinggirkan oleh kecepatan konsumsi digital.
The Beatles di Era Algoritma
Urbie’s, di era streaming dan media sosial, musik tidak lagi diwariskan secara organik dari generasi ke generasi. Algoritma menentukan apa yang didengar, bukan sejarah. Dalam konteks ini, kekhawatiran Sean terasa sangat relevan.
The Beatles pernah menjadi fenomena global yang mengubah wajah musik, mode, hingga cara generasi muda memandang dunia. John Lennon, khususnya, dikenang bukan hanya sebagai musisi, tetapi juga sebagai simbol aktivisme, perdamaian, dan kebebasan berekspresi.
Namun tanpa narasi yang terus diperbarui, karya-karya besar bisa berubah menjadi sekadar “musik lama”. Inilah yang mendorong Sean untuk lebih aktif, bukan sebagai figur nostalgia, tetapi sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Antara Beban Nama Besar dan Tanggung Jawab Budaya
Menjadi anak John Lennon bukanlah identitas yang ringan. Sean telah lama berkarya sebagai musisi dengan jalannya sendiri. Namun kini, ia mengakui bahwa perannya berkembangâ€â€dari kreator menjadi kurator sejarah.
Ia tidak berbicara tentang pemujaan masa lalu, melainkan tentang mengingat konteks. Tentang mengapa The Beatles penting. Tentang mengapa John dan Yoko lebih dari sekadar pasangan ikonik, tetapi juga pelaku perubahan budaya.
Dalam dunia yang cepat melupakan, menjaga ingatan kolektif adalah pekerjaan sunyi namun krusial.
Baca Juga:
- Aktor Keturunan Indonesia Gilli Jones Masuk Radar Disney Lewat Audisi Tangled
- Ternyata Ini 5 Alasan Mall Selalu Obral Diskon Gede-Gedean Pas Akhir Tahun!
- Inilah 5 Tips Aman dan Nyaman Naik Kapal Feri Buat Pemula Saat Musim Hujan
Warisan Bukan Sekadar Kenangan
Urbie’s, pernyataan Sean Ono Lennon membuka diskusi yang lebih luas: apakah warisan budaya benar-benar abadi, atau justru rapuh jika tak terus dirawat?
Sejarah menunjukkan bahwa bahkan karya terbesar pun bisa memudar jika tak lagi diperkenalkan ulang pada generasi baru. Dalam hal ini, kekhawatiran Sean bukanlah pesimisme, melainkan bentuk kewaspadaan.
Ia memahami bahwa warisan tidak hidup dengan sendirinya. Ia perlu diceritakan ulang, dipahami ulang, danâ€â€yang terpentingâ€â€dihubungkan dengan realitas zaman sekarang.
Menjaga Api Tetap Menyala
Di usia 50 tahun, Sean Ono Lennon berdiri di persimpangan antara masa lalu yang monumental dan masa depan yang serba cepat. Kekhawatirannya mencerminkan satu hal penting: bahwa ingatan budaya bukan sesuatu yang otomatis bertahan.
Dan mungkin, justru dari kesadaran inilah warisan The Beatles, John Lennon, dan Yoko Ono akan terus menemukan jalannyaâ€â€bukan sebagai artefak sejarah, tetapi sebagai inspirasi yang tetap hidup bagi generasi berikutnya.








