Home Entertainment Tatsuki Fujimoto Kesal Menonton Karyanya Sendiri: Reaksi Jujur Sang Kreator Usai Menyaksikan...

Tatsuki Fujimoto Kesal Menonton Karyanya Sendiri: Reaksi Jujur Sang Kreator Usai Menyaksikan Chainsaw Man – The Movie: Reze Arc

303
0
Tatsuki Fujimoto mangaka Chainsaw Man - sumber foto IMDB
Tatsuki Fujimoto mangaka Chainsaw Man - sumber foto IMDB
Urbanvibes

Hi Urbie’s! Bagi banyak kreator, menyaksikan adaptasi layar lebar dari karya sendiri adalah momen penuh kebanggaan. Namun bagi Tatsuki Fujimoto, mangaka eksentrik di balik Chainsaw Man, pengalaman itu justru memunculkan emosi yang tak terduga—bahkan rasa kesal.

Dalam sebuah pengakuan yang langsung ramai dibicarakan komunitas anime dan manga, Fujimoto membagikan reaksinya setelah menonton Chainsaw Man – The Movie: Reze Arc. Alih-alih sekadar menikmati film sebagai pencipta dunia brutal nan absurd tersebut, ia justru larut sebagai penonton biasa—dan merasa frustrasi dengan keputusan cerita yang ia buat sendiri.

“Sebagai penonton, aku berpikir, Makima melakukan sesuatu yang tidak perlu,” ungkap Fujimoto. Ia bahkan menambahkan keluhan lain yang lebih emosional, “Kenapa penulisnya tidak membiarkan Reze dan Denji bertemu?

Sebuah pernyataan yang ironis, mengingat “penulis” yang ia maksud tak lain adalah dirinya sendiri.

Ketika Tatsuki Fujimoto Terjebak dalam Emosi Ceritanya

Pengakuan Fujimoto ini menjadi menarik karena memperlihatkan sisi langka seorang kreator: terpisah secara emosional dari karyanya sendiri. Dalam momen tersebut, Fujimoto tidak berbicara sebagai mangaka, melainkan sebagai penonton yang ikut terseret perasaan Denji, Reze, dan bahkan Makima.

Reze Arc sendiri dikenal sebagai salah satu bagian paling emosional dalam Chainsaw Man. Hubungan Denji dan Reze—yang singkat, rapuh, dan penuh tragedi—sering dianggap fans sebagai “what could have been” dalam hidup Denji. Maka tak heran jika rasa frustrasi Fujimoto justru mencerminkan perasaan banyak penggemar selama ini.

Namun momen paling menggelitik datang ketika reaksi Fujimoto itu ditanggapi oleh editornya, Shihei Lin.

Dengan nada bercanda, Lin mengingatkan,
Kamu yang memutuskan untuk menggambarnya seperti itu, kan?
Disusul tawa, seolah menyadarkan Fujimoto akan paradoks yang baru saja ia ciptakan sendiri.

Tatsuki Fujimoto, Makima, dan Keputusan yang Menyakitkan

Komentar Fujimoto tentang Makima juga langsung memicu diskusi hangat. Karakter ini sejak lama dikenal sebagai sosok manipulatif yang kerap “menghancurkan” kebahagiaan Denji dengan cara paling dingin dan sistematis.

Saat Fujimoto berkata bahwa Makima “melakukan sesuatu yang tidak perlu,” banyak fans justru merasa pernyataan itu sangat manusiawi. Bahkan sang pencipta pun, ketika menonton ulang ceritanya dalam format film, ikut merasa marah dan kecewa pada karakter yang ia bangun dengan penuh perhitungan.

Ini menunjukkan kekuatan narasi Chainsaw Man: karakter-karakternya begitu hidup hingga mampu “melawan” empati penciptanya sendiri.

Baca Juga:

Film sebagai Pengalaman Baru bagi Sang Mangaka

Adaptasi film Chainsaw Man – The Movie: Reze Arc memang memberi pengalaman berbeda dibanding membaca manga. Musik, animasi, pacing sinematik, dan ekspresi visual membuat emosi cerita terasa lebih intens.

Bagi Fujimoto, pengalaman ini tampaknya membuatnya melihat ulang karyanya dari sudut pandang yang lebih emosional, bukan struktural. Jika saat menulis ia berpikir soal tema, simbol, dan dampak jangka panjang cerita, maka saat menonton ia justru terjebak dalam rasa “andai saja”.

Andai Reze dan Denji diberi satu kesempatan lagi.
Andai Makima tidak ikut campur.
Andai kebahagiaan kecil Denji tidak selalu harus dibayar mahal.

Reaksi yang Membuat Fans Merasa “Didengar”

Pengakuan jujur Fujimoto ini justru membuat banyak penggemar merasa lebih dekat dengannya. Alih-alih tampil sebagai kreator yang defensif atau terlalu serius, Fujimoto menunjukkan bahwa ia juga korban dari cerita yang ia ciptakan sendiri.

Banyak fans menyebut momen ini sebagai bukti bahwa Chainsaw Man bukan cerita dingin tanpa empati, melainkan kisah yang lahir dari pergulatan emosi—bahkan bagi sang penciptanya.

Di media sosial, reaksi Fujimoto disambut tawa, simpati, dan diskusi panjang tentang betapa tragisnya Reze Arc. Tidak sedikit pula yang mengatakan, “Jika Fujimoto saja kesal, berarti arc ini memang sukses menghancurkan hati.”

Ketika Cerita Lebih Besar dari Penciptanya

Kisah ini menjadi pengingat bahwa karya besar sering kali tumbuh melampaui kontrol pembuatnya. Chainsaw Man telah mencapai titik di mana ceritanya hidup sendiri—menyentuh, menyakiti, dan memancing emosi siapa pun yang menyelaminya, termasuk Tatsuki Fujimoto.

Untuk Urbie’s, momen ini bukan sekadar anekdot lucu di balik layar, tetapi bukti bahwa kekuatan sebuah cerita terletak pada kemampuannya membuat kita peduli—bahkan ketika kita tahu siapa yang menuliskannya.

Dan mungkin, di balik tawa editor dan keluhan sang mangaka, ada satu hal yang pasti:
Reze Arc berhasil, karena ia membuat semua orang—termasuk penciptanya—merasa kehilangan.

Novotel Gajah Mada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here