Home Highlight Nilai Rata-rata Nasional TKA SMA Mengejutkan, Alarm Keras bagi Sistem Pendidikan

Nilai Rata-rata Nasional TKA SMA Mengejutkan, Alarm Keras bagi Sistem Pendidikan

307
0
Nilai Rata-rata Nasional TKA SMA - sumber grafik kemendikdasmen.go.id
Nilai Rata-rata Nasional TKA SMA - sumber grafik kemendikdasmen.go.id
Urbanvibes

Hi Urbie’s! Rilis terbaru Tes Kemampuan Akademik (TKA) oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memantik kehebohan publik. Grafik nilai rata-rata nasional yang ditampilkan secara terbuka justru memperlihatkan potret yang jauh dari kata ideal. Tiga mata pelajaran wajib di jenjang SMA—Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris—menunjukkan capaian yang memicu kekhawatiran serius.

Dari data nasional tersebut, Bahasa Inggris menjadi mapel dengan nilai rata-rata terendah, hanya 24,93 dari skala 100. Matematika menyusul dengan 36,10, sementara Bahasa Indonesia berada di angka 55,38. Angka-angka ini langsung memunculkan pertanyaan besar tentang efektivitas kurikulum, kesiapan siswa, serta relevansi soal ujian dengan materi yang diajarkan di sekolah.

Bahasa Inggris Terpuruk, Padahal Kompetensi Global Utama

Nilai rata-rata Bahasa Inggris sebesar 24,93 menjadi sorotan paling tajam. Di tengah tuntutan globalisasi, digitalisasi, dan persaingan internasional, capaian ini terasa ironis. Bahasa Inggris yang selama ini diposisikan sebagai bahasa global justru menjadi mata pelajaran dengan penguasaan paling lemah secara nasional.

Jika dibandingkan dengan mata pelajaran lain dalam grafik, jaraknya terasa mencolok. Antropologi dan Geografi mampu menembus angka 70, sementara Bahasa Arab dan Bahasa Jepang berada di kisaran 55 hingga 64. Bahkan beberapa bahasa asing lain mencatat nilai lebih tinggi dibanding Bahasa Inggris. Ini memunculkan dugaan bahwa masalahnya bukan pada minat siswa, melainkan pada metode pengajaran dan bentuk evaluasi yang tidak sejalan dengan praktik pembelajaran di kelas.

Matematika Masih Menjadi Momok Nasional

Nilai Matematika yang hanya mencapai rata-rata 36,10 kembali menegaskan bahwa literasi numerasi masih menjadi persoalan laten pendidikan Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum mampu memahami dan menerapkan konsep matematika dasar secara memadai.

Menariknya, Matematika Lanjut yang seharusnya diikuti oleh siswa dengan minat dan kemampuan lebih tinggi pun hanya mencatat rata-rata sekitar 39. Hal ini mengindikasikan bahwa persoalan Matematika bukan sekadar pada tingkat kesulitan soal, tetapi juga pada fondasi pemahaman yang belum kokoh sejak jenjang sebelumnya.

Bahasa Indonesia Paling Tinggi, Namun Belum Ideal

Di antara tiga mapel wajib, Bahasa Indonesia mencatat nilai tertinggi dengan rata-rata 55,38. Meski demikian, angka ini masih jauh dari kategori aman. Sebagai bahasa pengantar utama dalam proses pendidikan nasional, capaian ini seharusnya berada di level yang jauh lebih tinggi.

Nilai tersebut mengindikasikan bahwa kemampuan membaca kritis, memahami teks panjang, serta bernalar secara verbal masih menjadi tantangan bagi banyak siswa. Padahal, penguasaan Bahasa Indonesia yang baik merupakan dasar untuk memahami mata pelajaran lain.

Baca Juga:

Ketimpangan Nilai Antar Mata Pelajaran Semakin Terlihat

Jika melihat keseluruhan grafik rata-rata nasional, ketimpangan antar mata pelajaran tampak sangat jelas. Beberapa mapel seperti Antropologi dan Geografi mencatat capaian di atas 70, menunjukkan bahwa siswa mampu beradaptasi dengan materi yang menuntut analisis sosial dan spasial.

Sebaliknya, mata pelajaran yang menuntut logika, numerasi, dan pemahaman bahasa asing justru berada di papan bawah. Fisika, Ekonomi, serta beberapa bahasa asing lain mencatat nilai di bawah 40. Pola ini menegaskan adanya masalah struktural dalam pendekatan pembelajaran dan penilaian.

Soal TKA Dinilai Tak Sejalan Kurikulum

Rendahnya nilai TKA ini langsung mendapat respons dari Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G). Kepala Bidang Advokasi Guru P2G menyampaikan bahwa berdasarkan temuan lapangan dan wawancara dengan guru serta siswa, banyak soal TKA yang dinilai tidak sesuai dengan kurikulum yang sedang berjalan.

Guru dan murid mengaku menemui materi soal yang tidak pernah dibahas secara mendalam di kelas. Jika hal ini benar, maka TKA berpotensi gagal menjalankan fungsinya sebagai alat ukur objektif kemampuan akademik siswa. Evaluasi yang tidak sinkron justru berisiko menciptakan stigma, bukan perbaikan.

Evaluasi Sistem, Bukan Menyalahkan Siswa

Berbagai pihak sepakat bahwa hasil TKA ini tidak seharusnya dibaca sebagai kegagalan siswa semata. Sebaliknya, data ini perlu menjadi bahan refleksi serius bagi pembuat kebijakan pendidikan.

TKA seharusnya menjadi instrumen diagnosis, bukan vonis. Ketika mayoritas siswa mendapatkan nilai rendah secara nasional, pertanyaan utamanya bukan “siapa yang salah”, melainkan “apa yang tidak berjalan dengan baik dalam sistem”.

TKA di Persimpangan Kebijakan Pendidikan

Untuk Urbie’s, grafik nilai rata-rata nasional TKA ini adalah cermin jujur kondisi pendidikan saat ini. Bahasa Inggris dan Matematika yang menjadi kompetensi kunci abad ke-21 justru berada di titik paling lemah. Tanpa evaluasi menyeluruh terhadap kurikulum, metode pengajaran, dan desain soal, hasil serupa berpotensi terus terulang.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik tahunan. Ia adalah sinyal peringatan bahwa reformasi pendidikan tidak bisa berhenti di tataran wacana. Jika tidak segera dibenahi, nilai-nilai rendah ini bisa menjadi pola, bukan lagi kejutan.

Novotel Gajah Mada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here