Hi Urbie’s! Di tengah dunia politik Jepang yang kerap identik dengan formalitas dan norma konservatif, nama Kimi Onoda justru mencuri perhatian dengan cara yang tak biasa. Menteri Negara Jepang untuk Keamanan Ekonomi ini kembali jadi perbincangan setelah unggahan media sosial lamanya kembali viral—di mana ia secara terbuka mengaku hanya tertarik pada “2D men”, atau karakter pria fiksi dari anime, manga, dan gim.
Pernyataan itu terdengar ringan, bahkan jenaka. Namun ketika datang dari seorang pejabat tinggi negara, respons publik langsung melebar. Bukan sekadar soal preferensi personal, isu ini membuka diskusi panjang tentang ekspektasi sosial terhadap perempuan, terutama mereka yang berada di posisi strategis dalam pemerintahan.
Apa Itu 2D Men dan Nijikon?
Dalam konteks budaya pop Jepang, ketertarikan pada karakter fiksi bukan hal baru. Istilah 2D men merujuk pada karakter laki-laki dua dimensi dari dunia anime, manga, dan gim—figur yang hidup di layar, bukan di dunia nyata.
Fenomena ini dikenal dengan istilah Nijikon (ニアコ), singkatan dari nijigen complex atau “kompleks dua dimensi”. Nijikon menggambarkan ketertarikan emosional, romantis, atau afektif terhadap karakter fiksi 2D. Bagi sebagian orang, ini bukan sekadar hobi, melainkan bentuk keterikatan yang serius dan bermakna.
Ketika Onoda menyebut dirinya tertarik pada 2D men, ia secara tidak langsung menempatkan dirinya dalam spektrum Nijikon—sebuah identitas yang selama ini lebih sering diasosiasikan dengan komunitas penggemar, bukan pejabat negara.
Kimi Onoda Politikus Otaku yang Tak Takut Tampil Apa Adanya
Kimi Onoda bukan sosok asing di dunia politik Jepang. Sejak awal, ia dikenal sebagai politisi yang vokal, blak-blakan, dan tidak menyembunyikan kecintaannya pada anime serta gim. Julukan “otaku politician” melekat kuat, menjadikannya figur yang unik di antara barisan politisi tradisional.
Alih-alih menjaga jarak dari budaya pop, Onoda justru menjadikannya bagian dari identitas publik. Media sosialnya kerap memadukan isu kebijakan negara dengan referensi pop culture, menciptakan kedekatan dengan generasi muda yang selama ini merasa politik terlalu jauh dari kehidupan mereka.
Namun, ketika unggahan tentang 2D men kembali mencuat, sebagian publik mempertanyakan kelayakan sikap tersebut bagi seorang menteri. Di sinilah perdebatan bermula: sejauh mana pejabat publik boleh mengekspresikan diri?
Baca Juga:
- Punya Email Alay Sejak Remaja? Kini Gmail Bisa Diganti Tanpa Buat Akun Baru
- Tips Berkendara Aman di Musim Hujan Saat Liburan Akhir Tahun
- Fenomena Lelah di Akhir Pekan, Tanda Tubuh Kirim Sinyal Ini!
Kimi Onoda Tekanan Sosial terhadap Perempuan di Kursi Kekuasaan
Di Jepang, perempuan masih menghadapi tekanan sosial yang kuat untuk menikah dan memiliki anak—bahkan ketika mereka telah mencapai posisi tertinggi dalam karier. Pertanyaan tentang status pernikahan sering kali muncul, seolah pencapaian profesional belum lengkap tanpa legitimasi kehidupan rumah tangga.
Dalam konteks ini, pengakuan Onoda justru menjadi simbol perlawanan yang halus. Ia tidak secara eksplisit menentang norma, tetapi menegaskan bahwa pilihan hidup bersifat personal. Ketertarikan pada Nijikon atau 2D men tidak mengurangi kapasitasnya sebagai pembuat kebijakan.
Isu ini memunculkan pertanyaan penting: apakah standar “kehidupan ideal” masih relevan untuk semua orang di era modern?
Nijikon, Generasi Muda, dan Realitas Sosial
Fenomena Nijikon berkembang seiring perubahan gaya hidup generasi muda Jepang. Jam kerja panjang, tekanan ekonomi, serta menurunnya minat pada pernikahan konvensional membuat hubungan dengan karakter fiksi terasa lebih aman dan bebas tuntutan.
Bagi banyak orang, Nijikon bukan pengganti hubungan manusia, melainkan ruang emosional yang valid. Dalam hal ini, pernyataan Onoda mencerminkan realitas sosial yang lebih luas—bahwa definisi kebahagiaan kini semakin beragam.
Politik, Identitas, dan Representasi Baru
Alih-alih merusak citra politiknya, kontroversi ini justru memperkuat basis pendukung Onoda, terutama di kalangan anak muda. Kejujuran dan keberaniannya tampil apa adanya dianggap sebagai angin segar di dunia politik yang sering terasa artifisial.
Onoda menunjukkan bahwa pejabat publik tidak harus menghapus identitas personal demi citra profesional. Ia menjadi simbol bahwa politik bisa berdampingan dengan budaya pop, dan bahwa perempuan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri—termasuk soal cinta dan ketertarikan.
Menuju Masyarakat yang Lebih Inklusif
Pada akhirnya, perbincangan tentang Kimi Onoda, 2D men, dan Nijikon bukan soal anime semata. Ini adalah refleksi tentang bagaimana masyarakat memandang pilihan hidup, identitas, dan kebebasan individu.
Menghormati keputusan personal—selama tidak merugikan orang lain—adalah langkah penting menuju masyarakat yang lebih inklusif. Dan mungkin, di era baru ini, keberanian untuk jujur pada diri sendiri justru menjadi bentuk kepemimpinan yang paling relevan.






















































