Home Highlight Jakarta Resmi Jadi Kota Terbesar di Dunia Versi PBB, Tokyo Tergeser dari...

Jakarta Resmi Jadi Kota Terbesar di Dunia Versi PBB, Tokyo Tergeser dari Puncak

301
0
Ilustrasi Jakarta Resmi Jadi Kota Terbesar di Dunia Versi PBB - sumber foto Frepik
Ilustrasi Jakarta Resmi Jadi Kota Terbesar di Dunia Versi PBB - sumber foto Frepik

Hi Urbie’s!, peta kekuatan kota-kota global tengah mengalami pergeseran besar. Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang prospek urbanisasi dunia menempatkan Jakarta sebagai kota terbesar di dunia berdasarkan jumlah penduduk, dengan total mencapai 41,9 juta jiwa. Angka ini menempatkan ibu kota Indonesia di atas Dhaka, sementara Tokyo—yang selama puluhan tahun identik sebagai kota terpadat di dunia—resmi turun ke peringkat ketiga.

Perubahan ini bukan sekadar pergeseran statistik. Ia mencerminkan dinamika urbanisasi global, perbedaan struktur demografi antarnegara, serta tantangan masa depan yang semakin kompleks bagi kota-kota raksasa.

Jakarta dan Ledakan Urbanisasi Asia

Dalam laporan tersebut, PBB menggunakan metode penilaian khusus untuk memudahkan perbandingan internasional antar kawasan metropolitan. Dengan pendekatan ini, Jakarta tercatat sebagai kawasan perkotaan dengan populasi terbesar di dunia pada 2025. Pertumbuhan penduduk Jakarta dinilai lebih cepat dibandingkan kota-kota besar lain, terutama karena tingginya arus urbanisasi dari berbagai daerah di Indonesia menuju kawasan Jabodetabek.

Sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, dan peluang kerja, Jakarta terus menjadi magnet bagi penduduk usia produktif. Pertumbuhan kawasan penyangga turut memperkuat posisi Jakarta sebagai megapolitan dengan konsentrasi penduduk terbesar di dunia. Dalam konteks global, Jakarta kini bukan hanya kota nasional, melainkan bagian dari percakapan penting tentang masa depan urbanisasi dunia.

Dhaka Menguntit di Posisi Kedua

Di bawah Jakarta, Dhaka menempati posisi kedua sebagai kota dengan jumlah penduduk terbesar. Ibu kota Bangladesh ini mencatat lonjakan populasi yang sangat pesat, dipicu oleh pertumbuhan alami penduduk dan perpindahan besar-besaran dari wilayah pedesaan ke perkotaan.

PBB memproyeksikan bahwa tren ini masih akan berlanjut dalam beberapa dekade ke depan. Dhaka bahkan diperkirakan akan melampaui Jakarta dan menjadi kota terbesar di dunia pada 2050. Lonjakan ini sekaligus menghadirkan tantangan serius terkait perumahan, infrastruktur, dan kualitas hidup di kawasan urban Asia Selatan.

Tokyo Kehilangan Takhta Megapolitan Dunia

Sementara Jakarta dan Dhaka terus melesat, Tokyo justru bergerak ke arah sebaliknya. Dalam laporan PBB, pertumbuhan populasi kawasan perkotaan Tokyo tercatat lebih lambat dibandingkan dua kota tersebut. Akibatnya, peringkat Tokyo sebagai kota dengan jumlah penduduk terbesar di dunia turun dari posisi pertama pada tahun 2000 menjadi peringkat ketiga pada 2025.

Penurunan ini tidak mencerminkan kemunduran ekonomi atau kegagalan tata kota. Sebaliknya, faktor utama berasal dari struktur demografi Jepang yang unik. Angka kelahiran yang rendah, populasi menua, serta terbatasnya migrasi permanen membuat jumlah penduduk Tokyo mulai menyusut secara perlahan.

Baca Juga:

Proyeksi 2050 dan Penurunan Populasi Tokyo

Laporan PBB juga menyajikan proyeksi jangka panjang hingga tahun 2050. Dalam proyeksi tersebut, jumlah penduduk kawasan perkotaan Tokyo diperkirakan akan menyusut dari 33,4 juta jiwa pada 2025 menjadi 30,7 juta jiwa pada 2050. Dengan penurunan ini, Tokyo diproyeksikan turun ke peringkat ketujuh kota terbesar di dunia.

Sebaliknya, Dhaka diperkirakan akan memimpin dengan jumlah penduduk mencapai 52,1 juta jiwa, diikuti oleh Jakarta, Shanghai, New Delhi, Karachi, dan Kairo. Perubahan peringkat ini menunjukkan pergeseran pusat pertumbuhan urban global dari negara maju ke negara berkembang.

Kota Besar dan Tantangan Keberlanjutan

Urbie’s!, data PBB ini bukan hanya soal siapa yang terbesar, tetapi juga tentang siapa yang paling siap menghadapi masa depan. Kota-kota dengan populasi puluhan juta jiwa akan menghadapi tekanan luar biasa terhadap infrastruktur, lingkungan, dan layanan publik.

PBB menekankan bahwa kemampuan mengelola pertumbuhan kota secara berkelanjutan menjadi kunci penting, tidak hanya bagi kesejahteraan penduduk perkotaan, tetapi juga bagi pencapaian target iklim global. Kota-kota besar memiliki peran ganda sebagai penyumbang emisi karbon sekaligus pusat inovasi solusi ramah lingkungan.

Jakarta di Persimpangan Sejarah Urban

Bagi Indonesia, posisi Jakarta sebagai kota terbesar di dunia merupakan kebanggaan sekaligus peringatan. Di satu sisi, hal ini mencerminkan daya tarik ekonomi dan peluang yang terus tumbuh. Di sisi lain, tantangan lama seperti kemacetan, banjir, ketimpangan sosial, dan tekanan lingkungan menjadi semakin mendesak untuk diatasi.

Pemindahan ibu kota ke Nusantara tidak serta-merta mengurangi beban Jakarta sebagai megapolitan. Justru, transformasi Jakarta menjadi kota global yang berkelanjutan akan menjadi ujian nyata bagi kebijakan urban Indonesia di masa depan.

Urbie’s!, di balik angka jutaan penduduk, tersimpan satu pertanyaan besar: bukan lagi siapa kota terbesar di dunia, melainkan siapa yang mampu menciptakan kehidupan urban yang layak, inklusif, dan berkelanjutan bagi generasi berikutnya.