Home Health Dinkes DKI Ingatkan Warga Waspada Influenza A H3N2 Subclade K, PHBS Jadi...

Dinkes DKI Ingatkan Warga Waspada Influenza A H3N2 Subclade K, PHBS Jadi Kunci Pencegahan

244
0
ilustrasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) - sumber foto ChatGPT
ilustrasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) - sumber foto ChatGPT

Hi Urbie’s, di tengah aktivitas masyarakat yang kembali padat pascapandemi, ancaman penyakit pernapasan masih perlu diwaspadai. Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta baru-baru ini mengimbau masyarakat untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai langkah utama mencegah penularan superflu atau Influenza A H3N2 subclade K yang terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia.

Imbauan ini dilansir Antara langsung oleh Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyusul hasil pemantauan dan laporan Kementerian Kesehatan terkait peredaran subclade K yang mulai terdeteksi sejak pertengahan 2025.

PHBS Jadi Benteng Pertama Hadapi Superflu

Menurut Ani, langkah pencegahan sebenarnya kembali pada kebiasaan dasar yang sering dianggap sepele, namun terbukti efektif menekan penularan penyakit. Ia menekankan pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun, mengenakan masker saat sedang sakit, serta menerapkan etika batuk dan bersin.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk menghindari kebiasaan menyentuh area wajah, terutama hidung, mulut, dan mata, yang menjadi pintu masuk utama virus. Asupan nutrisi seimbang, konsumsi air putih minimal dua liter per hari, istirahat cukup, serta olahraga teratur juga menjadi bagian penting dalam menjaga daya tahan tubuh.

“Perilaku hidup bersih dan sehat harus menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan hanya saat terjadi peningkatan kasus,” ujar Ani saat dihubungi di Jakarta, Minggu.

Waspadai Gejala Pneumonia dan Kondisi Berat

Meski sebagian besar kasus influenza bersifat ringan, Dinkes DKI mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala yang memburuk. Ani menegaskan bahwa masyarakat harus segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila keluhan berlanjut atau muncul tanda-tanda yang mengarah ke pneumonia.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, serta saturasi oksigen di bawah 92 persen. Kondisi ini dapat mengindikasikan pneumonia berat yang membutuhkan penanganan medis segera.

Imbauan ini menjadi penting mengingat influenza A H3N2 dikenal dapat memicu komplikasi serius, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta.

Subclade K Terdeteksi Sejak Agustus 2025

Urbie’s, berdasarkan hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan pada 25 Desember 2025, Kementerian Kesehatan mengonfirmasi bahwa Influenza A H3N2 subclade K telah terdeteksi sejak Agustus 2025.

Deteksi ini dilakukan melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Hingga akhir Desember 2025, Kemenkes mencatat 62 kasus influenza A H3N2 subclade K yang tersebar di delapan provinsi.

Wilayah dengan jumlah kasus terbanyak tercatat di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat, sementara DKI Jakarta termasuk daerah yang menunjukkan tren penurunan kasus.

Baca Juga:

Kemenkes: Situasi Masih Terkendali

Meski temuan subclade K sempat menimbulkan kekhawatiran, Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa situasi influenza A H3N2 subclade K di Indonesia masih dalam kondisi terkendali. Hingga akhir Desember 2025, tidak ditemukan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan dengan jenis influenza lainnya.

Pernyataan ini disampaikan untuk menenangkan masyarakat sekaligus mengingatkan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan, tanpa menimbulkan kepanikan berlebihan.

Kasus Influenza di Jakarta Menurun Pasca Puncak Oktober

Dari sisi regional, Dinkes DKI Jakarta mencatat tren yang cukup positif. Kasus penyakit influenza A di Jakarta terus mengalami penurunan sejak puncaknya terjadi pada Oktober 2025.

Hal serupa juga terjadi pada kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia secara umum. Berdasarkan data yang dihimpun Dinkes, jumlah kasus kedua penyakit tersebut menunjukkan tren menurun sejak Oktober 2025.

Penurunan ini diduga kuat berkaitan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit, serta perbaikan kualitas layanan kesehatan dan surveilans epidemiologi.

Gambaran Nasional: ILI dan ISPA Masih Perlu Diwaspadai

Secara nasional, data Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat bahwa kasus penyakit mirip influenza (ILI) sempat meningkat hingga 74 persen pada Agustus 2025, dengan dominasi Influenza A. Tren peningkatan serupa juga sempat terjadi di Jakarta pada periode yang sama.

Sementara itu, untuk kasus ISPA, tercatat 1.966.308 kasus secara nasional sejak Januari hingga Oktober 2025, dengan lonjakan yang mulai teridentifikasi sejak Juli 2025. Angka ini menjadi pengingat bahwa penyakit pernapasan masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia.

Tetap Tenang, Tetap Waspada

Urbie’s, imbauan PHBS Dinkes DKI Jakarta ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan bukan hanya tanggung jawab tenaga medis, tetapi juga masyarakat secara kolektif. Di tengah kondisi yang relatif terkendali, kewaspadaan dan konsistensi menerapkan PHBS menjadi kunci agar influenza A H3N2 subclade K tidak berkembang menjadi ancaman yang lebih serius.

Dengan langkah sederhana namun konsisten, Jakarta dan Indonesia diharapkan dapat terus menekan penyebaran influenza dan melindungi kelompok masyarakat yang paling rentan.