Home Highlight Bjork Serukan Kemerdekaan Greenland, Tolak Ancaman Aneksasi AS dan Ingatkan Luka Kolonialisme...

Bjork Serukan Kemerdekaan Greenland, Tolak Ancaman Aneksasi AS dan Ingatkan Luka Kolonialisme Denmark

81
0
Bjork Serukan Kemerdekaan Greenland - sumber foto Istimewa
Bjork Serukan Kemerdekaan Greenland - sumber foto Istimewa

Hi Urbie’s!, nama Björk kembali menggema di panggung global—bukan lewat musik eksperimentalnya, melainkan melalui sikap politik yang lantang. Musisi ikonik asal Islandia itu menyuarakan dukungan terbuka bagi kemerdekaan penuh Greenland, menyusul mencuatnya kembali wacana aneksasi wilayah Arktik tersebut oleh Amerika Serikat.

Pernyataan Björk muncul di tengah situasi geopolitik yang memanas. Setelah penggulingan Nicolás Maduro di Venezuela, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menghidupkan narasi lama: ketertarikan AS untuk menguasai Greenland dengan dalih kepentingan pertahanan nasional. Isu yang sebelumnya sempat dianggap kontroversial itu kini kembali mencuat, memicu kekhawatiran akan babak baru kolonialisme modern.

Bjork: “Greenland Harus Menentukan Nasibnya Sendiri”

Melalui unggahan panjang di X (Twitter) dan diperkuat lewat akun Instagram pribadinya, Björk menyampaikan empati mendalam kepada rakyat Greenland. Ia secara tegas menyerukan agar Greenland mendeklarasikan kemerdekaan, demi menghindari apa yang ia sebut sebagai potensi “penjajahan kejam” oleh kekuatan besar, baik dari Amerika Serikat maupun bayang-bayang kolonial Denmark.

“Kolonialisme selalu memberi saya rasa ngeri,” tulis Björk. Ia mengaku takut membayangkan Greenland berpindah dari satu penjajah ke penjajah lain, sebuah siklus kekuasaan yang menurutnya terlalu brutal untuk diterima di era modern.

Bjork Serukan Kemerdekaan Greenland - sumber foto X (twitter)
Bjork Serukan Kemerdekaan Greenland – sumber foto X (twitter)

Mengungkit Sejarah Kelam Denmark di Greenland

Dalam pernyataannya, Björk tidak hanya mengkritik ambisi Amerika Serikat, tetapi juga secara terbuka menyoroti peran Denmark sebagai kekuatan kolonial yang selama puluhan tahun menguasai Greenland. Ia mengingatkan publik internasional pada pelanggaran hak asasi manusia yang pernah terjadi—dan menurutnya masih membekas hingga kini.

Salah satu isu paling sensitif yang diangkat Björk adalah kasus kontrasepsi paksa. Antara tahun 1966 hingga 1970, sekitar 4.500 anak perempuan Greenland, beberapa di antaranya berusia 12 tahun, dilaporkan dipasangi alat kontrasepsi IUD tanpa sepengetahuan maupun persetujuan mereka. Kebijakan itu kini dikenang sebagai salah satu tragedi medis dan kemanusiaan paling kelam dalam sejarah hubungan Denmark–Greenland.

Tak berhenti di situ, Björk juga menyinggung praktik pemisahan anak dari orang tua, kebijakan yang menurut laporan masih menyisakan trauma mendalam dan memperkuat anggapan bahwa warga Greenland kerap diperlakukan sebagai manusia kelas dua.

Kedaulatan, Bahasa, dan Identitas Budaya

Björk menarik perbandingan emosional dengan pengalaman Islandia. Ia mengingatkan bahwa Islandia berhasil memutus ketergantungan dari Denmark pada 1944, sebuah langkah yang menurutnya krusial untuk menyelamatkan bahasa dan identitas nasional.

“Kami tidak kehilangan bahasa kami. Anak-anak saya tidak tumbuh dengan berbicara bahasa Denmark,” tulisnya, menegaskan bahwa kemerdekaan bukan sekadar soal politik, melainkan soal kelangsungan budaya.

Bagi Björk, Greenland berada di persimpangan sejarah yang sama. Tanpa kedaulatan penuh, ia khawatir identitas Inuit dan budaya lokal Greenland akan terus tergerus oleh kepentingan negara-negara besar.

Baca Juga:

Greenland di Tengah Perebutan Kepentingan Global

Urbie’s!, Greenland bukan sekadar pulau es. Wilayah ini menyimpan posisi strategis militer, jalur Arktik yang vital, serta sumber daya alam yang menjadi incaran kekuatan dunia. Inilah yang membuat Greenland terus berada dalam radar geopolitik global—dan rentan dijadikan pion kekuasaan.

Seruan Björk menjadi pengingat bahwa di balik peta strategi dan kepentingan pertahanan, ada manusia, sejarah, dan luka kolektif yang tak boleh diabaikan.

Seruan Emosional dari Seorang Seniman

Menutup pernyataannya, Björk menulis pesan penuh empati kepada rakyat Greenland. Ia menggunakan ungkapan Islandia “úr öskunni í eldinn”—yang berarti “dari abu ke dalam api”—sebuah metafora tentang bahaya berpindah dari satu penindasan ke penindasan lain.

“Dear Greenlanders, declare independence!” tulisnya, disertai harapan hangat dari “tetangga” di Islandia.

Lebih dari Sekadar Opini Selebritas

Urbie’s!, suara Björk mungkin datang dari dunia seni, tetapi resonansinya menembus batas musik. Pernyataannya membuka kembali diskusi global tentang hak menentukan nasib sendiri, kolonialisme modern, dan tanggung jawab negara besar terhadap wilayah yang mereka klaim lindungi.

Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, seruan Björk menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hadiah—melainkan hak. Dan bagi Greenland, pertanyaan besarnya kini bukan lagi “siapa yang menguasai,” melainkan siapa yang berhak menentukan masa depan.