Home Highlight Stres Pekerja Indonesia Termasuk Terendah di ASEAN, Budaya Kolektif Jadi Kunci?

Stres Pekerja Indonesia Termasuk Terendah di ASEAN, Budaya Kolektif Jadi Kunci?

116
0
ilustrasi Stres Pekerja Indonesia Termasuk Terendah di ASEAN - sumber foto MetaAi
ilustrasi Stres Pekerja Indonesia Termasuk Terendah di ASEAN - sumber foto MetaAi
Urbanvibes

Hi Urbie’s!, di tengah narasi global soal burnout, tekanan kerja, dan krisis kesehatan mental di dunia profesional, Indonesia justru mencatatkan fakta yang cukup mengejutkan. Berdasarkan survei Gallup, tingkat stres pekerja di Indonesia berada di angka 15%, menjadikannya terendah kedua di kawasan ASEAN. Angka ini terpaut jauh dari rata-rata Asia sebesar 25%, bahkan sangat kontras dengan rata-rata global yang mencapai 40%.

Lebih mencolok lagi, selisih tingkat stres pekerja Indonesia dengan Singapura mencapai 28%. Sebuah jarak yang cukup ekstrem, mengingat Singapura dikenal sebagai negara dengan sistem kerja modern, gaji tinggi, dan efisiensi kelas dunia.

Lantas, apa yang sebenarnya membuat pekerja Indonesia terlihat lebih “tenang” di tengah tekanan hidup dan ekonomi yang tidak selalu ringan?

Angka yang Berbicara: Indonesia vs Dunia

Dalam konteks global, angka stres kerja 40% menunjukkan bahwa hampir setengah tenaga kerja dunia hidup dalam tekanan emosional yang konstan. Mulai dari target tak realistis, jam kerja panjang, hingga minimnya keseimbangan hidup. Asia sendiri berada di bawah rata-rata global, namun tetap mencatat angka 25%.

Indonesia, dengan 15%, justru menjadi anomali. Negara dengan tingkat upah yang relatif lebih rendah, jam kerja panjang di sektor tertentu, dan jaminan sosial yang belum merata, justru mencatat stres pekerja yang lebih rendah dibanding negara maju.

Data ini memancing pertanyaan besar: apakah pekerja Indonesia benar-benar lebih bahagia, atau hanya lebih terbiasa memendam stres?

Budaya Kolektif dan Ikatan Sosial

Salah satu faktor yang kerap disebut sebagai penekan stres di Indonesia adalah budaya kolektif yang kuat. Dalam banyak kasus, pekerjaan bukan hanya soal individu dan karier, tetapi juga tentang keluarga, komunitas, dan relasi sosial.

Bagi banyak pekerja Indonesia, pulang kerja bukan berarti pulang ke kesepian. Ada keluarga besar, tetangga, teman nongkrong, hingga obrolan ringan di warung kopi yang menjadi katup pelepas tekanan emosional. Hal-hal sederhana ini sering kali luput dari perhitungan survei ekonomi, namun berdampak besar pada kesehatan mental.

Ikatan sosial yang erat membuat stres tidak selalu ditanggung sendirian. Ada ruang untuk berbagi, bercanda, dan “mengeluh bareng”, sesuatu yang di banyak negara maju justru makin jarang ditemui.

Fleksibilitas Kerja Informal

Urbie’s!, faktor lain yang menarik adalah fleksibilitas kerja informal. Meski sering dipandang sebagai kelemahan dalam sistem ketenagakerjaan, sektor informal di Indonesia justru memberi ruang adaptasi yang lebih luas.

Pedagang kecil, pekerja lepas, hingga usaha keluarga memiliki kontrol waktu yang lebih fleksibel dibanding pekerja korporasi dengan struktur kaku. Ketika tekanan meningkat, ada ruang untuk mengatur ritme kerja sendiri, meski konsekuensinya adalah ketidakpastian pendapatan.

Bagi sebagian orang, fleksibilitas ini justru lebih berharga dibanding stabilitas yang dibayar dengan stres berkepanjangan.

Produktivitas Tetap Jalan, Tapi Dengan Cara Berbeda

Rendahnya tingkat stres tidak berarti produktivitas Indonesia rendah. Sebaliknya, banyak pekerja Indonesia dikenal adaptif, multitasking, dan mampu bertahan dalam situasi sulit. Produktivitas berjalan, namun dengan pendekatan yang lebih cair.

Budaya kerja di Indonesia cenderung mengedepankan relasi, kompromi, dan toleransi. Target tetap ada, tetapi sering kali dibalut dengan pendekatan personal. Hal ini berbeda dengan budaya kerja negara seperti Singapura, Jepang, atau Korea Selatan yang sangat berbasis angka, waktu, dan hasil.

Perbedaan pendekatan inilah yang bisa menjelaskan jurang stres hingga 28% antara Indonesia dan Singapura.

Baca Juga:

Apakah Stres Benar-Benar Rendah, atau Tak Terlaporkan?

Meski data Gallup menunjukkan angka positif, penting bagi Urbie’s untuk melihatnya secara kritis. Dalam budaya Asia, termasuk Indonesia, mengakui stres sering dianggap sebagai kelemahan. Banyak pekerja memilih diam, menormalisasi tekanan, atau menyebutnya sebagai “sudah biasa”.

Artinya, bisa jadi stres memang ada, tetapi tidak selalu terartikulasikan sebagai stres dalam survei. Ada perbedaan antara merasa stres dan mengakui diri stres.

Selain itu, akses terhadap literasi kesehatan mental di Indonesia masih terbatas. Tidak semua orang memiliki kosakata atau kesadaran untuk mengenali kondisi emosionalnya sendiri.

Tantangan ke Depan: Jangan Terlena Angka

Urbie’s!, data ini patut diapresiasi, namun juga menjadi pengingat. Dunia kerja Indonesia sedang berubah cepat. Digitalisasi, target global, dan budaya hustle mulai masuk ke berbagai sektor. Jika tidak diimbangi dengan sistem pendukung yang sehat, angka stres bisa melonjak dalam beberapa tahun ke depan.

Budaya kolektif dan fleksibilitas sosial yang selama ini menjadi penyangga bisa terkikis oleh tuntutan efisiensi dan kompetisi.

Pertanyaannya kini kembali ke kita semua:
Apakah rendahnya stres pekerja Indonesia benar mencerminkan realitas, atau justru alarm sunyi yang belum berbunyi keras?

Yang jelas, menjaga kesehatan mental pekerja bukan hanya soal angka survei, tetapi tentang bagaimana manusia tetap menjadi pusat dari dunia kerja itu sendiri.

Novotel Gajah Mada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here