Hi Urbie’s!, siapa sangka camilan yang biasa kita beli di pinggir jalan, ditemani teh manis hangat atau kopi hitam, kini resmi berdiri sejajar dengan dessert kelas dunia. Pisang goreng, jajanan sederhana yang lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, dinobatkan sebagai salah satu dessert terbaik dunia versi TasteAtlas 2026.
Bukan sekadar masuk daftar, Indonesia berhasil menempati peringkat ke-14, mengalahkan sederet dessert “mewah” yang selama ini identik dengan kuliner kelas atas Eropa. Dari Tiramisu asal Italia hingga Nutella Crepes dari Prancis, semuanya harus rela berada di bawah pisang goreng dalam penilaian global tersebut.
Prestasi ini bukan hanya soal peringkat, tapi tentang pengakuan dunia terhadap kekuatan rasa lokal Indonesia.
Dari Gerobak ke Panggung Dunia
Pisang goreng bukan makanan yang lahir dari dapur restoran mahal atau teknik pastry rumit. Ia tumbuh dari tradisi rumahan, pasar, dan gerobak kaki lima. Dari kampung hingga kota besar, pisang goreng selalu hadir sebagai camilan lintas generasi.
Kesederhanaan inilah yang justru menjadi kekuatannya. Pisang matang yang digoreng dalam balutan adonan tipis menghasilkan kombinasi rasa manis alami, tekstur lembut di dalam, dan renyah di luar. Tidak perlu saus fancy, tidak perlu plating rumit. Sekali gigit, rasa “rumah” langsung terasa.
TasteAtlas, sebagai platform kuliner global yang kerap mengkurasi makanan tradisional dari berbagai negara, tampaknya menangkap esensi tersebut. Penilaian mereka tidak hanya soal teknik, tapi juga soal rasa, tradisi, dan relevansi budaya.
Mengalahkan Dessert Mewah Dunia
Masuknya pisang goreng ke peringkat 14 dunia terasa semakin istimewa karena daftar TasteAtlas 2026 dipenuhi nama-nama besar. Tiramisu dikenal sebagai simbol elegansi Italia, sementara Nutella Crepes identik dengan gaya hidup Prancis yang chic dan romantis.
Namun di hadapan juri global, pisang goreng membuktikan bahwa kelezatan tidak selalu harus rumit. Dunia kuliner internasional mulai memberi ruang lebih besar pada makanan yang jujur, apa adanya, dan punya cerita panjang di baliknya.
Ini juga menandai pergeseran selera global. Masyarakat dunia kini semakin menghargai makanan tradisional, street food, dan comfort food yang punya identitas kuat.
Baca juga:
- Kenapa Kita Suka Buka Tutup Kulkas Tanpa Alasan? Ini Penjelasan Ilmiahnya, Urbie’s!
- Santi Indri Tembus Screening Humanity, Program Dokumenter Legendaris KBS yang Tayang Sejak Tahun 2000
- Bonus Fantastis SEA Games 2025, Martina Ayu Pratiwi Cetak Sejarah dengan Raihan Rp3,4 Miliar
Rasa Lokal yang Universal
Salah satu alasan pisang goreng mudah diterima lintas budaya adalah sifatnya yang universal. Hampir semua negara mengenal pisang dan teknik menggoreng. Namun Indonesia berhasil memberi sentuhan khas melalui pilihan jenis pisang, adonan, hingga cara penyajian.
Dari pisang kepok, pisang raja, pisang uli, hingga pisang tanduk, setiap daerah punya versi dan karakter rasa sendiri. Ada yang disajikan polos, ada yang ditaburi gula, keju, cokelat, bahkan disantap bersama sambal di beberapa daerah.
Keberagaman ini membuat pisang goreng bukan sekadar satu menu, melainkan spektrum rasa yang luas. Dan justru di situlah kekayaan kuliner Indonesia terlihat jelas.
Bukti Kuliner Indonesia Makin Diakui
Masuknya pisang goreng dalam daftar dessert terbaik dunia bukan kejadian tunggal. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai makanan Indonesia semakin sering muncul dalam peringkat internasional. Rendang, nasi goreng, sate, hingga jajanan pasar mulai mendapat tempat di lidah global.
Prestasi ini menunjukkan bahwa kuliner Indonesia tidak kalah bersaing, meski sering kali tidak dipromosikan secara masif seperti kuliner Barat atau Asia Timur. Rasa yang kuat, teknik tradisional, dan nilai budaya menjadi modal utama.
Bagi Indonesia, pengakuan ini juga berpotensi mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Makanan bukan lagi sekadar konsumsi, tapi juga identitas dan daya tarik budaya.
Kebanggaan yang Dekat dengan Sehari-hari
Yang membuat kabar ini terasa hangat adalah kedekatannya dengan kehidupan kita. Pisang goreng bukan makanan eksklusif. Ia hadir di pagi hari, sore hari, bahkan tengah malam. Harganya terjangkau, rasanya familiar, dan kenangannya melekat.
Ketika dunia mengakuinya sebagai dessert terbaik, rasanya seperti melihat teman lama akhirnya mendapat sorotan yang layak.
Urbie’s!, prestasi pisang goreng di TasteAtlas 2026 membuktikan satu hal penting: rasa lokal Indonesia tidak pernah kecil. Ia hanya menunggu waktu untuk dikenali dunia. Dan kini, dari wajan sederhana hingga panggung internasional, pisang goreng sudah membuktikan bahwa kelezatan sejati tidak perlu ribet—cukup jujur pada rasa dan tradisi.






















































